Home / Masisir / Tersebar, Rekaman Pertemuan Antara Ruwaq Azhar dan Atdik (1)

Tersebar, Rekaman Pertemuan Antara Ruwaq Azhar dan Atdik (1)

Kairo (16/12) Buntut dari kesalahpahaman yang terjadi antara Ruwaq Azhar dengan atase pendidikan (Atdik) perihal buku “Manhaj Al-Azhar”, akhirnya PPMI Mesir bersedia menggelar mediasi dengan mempertemukan keduanya di konsuler KBRI Kairo, Sabtu, 12 Desember kemarin. Seperti diketahui, Ruwaq beberapa waktu lalu menjual buku tersebut, dan hal itu dianggap Atdik tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Masing-masing dari keduanya memiliki persepektif yang berbeda mengenai distribusi buku yang dicetak sebanyak seribu eksemplar itu.

Hadir dalam mediasi tersebut, Atdik Kairo diwakili  Dr. Fahmy Lukman, M.Hum, Cecep Taufiqurrahman, MA. Ruwaq Azhar diwakili Zulfikar, MPA dan BPA PPMI diwakili M. Hadi Bakri Raharjo, PPMI oleh Agus Susanto selaku presiden PPMI.

Dr. Fahmy Lukman, M.Hum., selaku atase pendidikan KBRI Kairo-pun bertanya-tanya tentang hal ini. “Mohon deh penjelasannya, sebenarnya apa sih yang terjadi, karena saya tidak ingin kemudian muncul masalah-masalah baru. saya hanya ingin membantu kawan-kawan sepenuhnya tanpa ada niat-niat yang lain. Terus terang saya ingin membantu, saya tidak berpikir bisnis tidak berpikir apa-apa, tapi untuk kemajuan semuanya. Tapi kalau teman-teman sudah mau masuk dunia bisnis seperti itu, nah, kemudian saya akan berhenti dan mengatakan saya bukan dalam kapasitas untuk itu, karena saya adalah perwakilan dari kementrian yang diletakkan disini untuk membimbing kawan-kawan,” tegas beliau.

Sementara perwakilan dari Ruwaq, tetap bersikukuh dengan pendapatnya. “Kami dari Ruwaq sebenarnya  ingin ada sedikit klarifikasi. Ini pernah saya katakan pak, misalnya kita mau nyetak, pertama saya bilang dua ribu, terus bapak bilang pertama lima ratus saja, untuk anak baru, terus saya bilang gimana kalau seribu, lima ratus untuk kita bagikan gratis kepada anak baru dan lima ratus kita putar lagi duitnya. Waktu saya bilang seperti itu bapak tidak bilang tidak setuju. Sampai akhirnya dicetak dan saya dihati (merasa -red), oh berarti bapak sudah setuju. Akan tetapi setelah dicetak dan mengajukan ke pak Fahmy laporan, pak Fahmy langsung bilang, buku ini dibagikan saja semuanya waktu launching dengan gratis. Nah, saya langsung deg di hati, kok digratiskan semuanya, padahal dulu pertama kali bilang lima ratus lima ratus. Soalnya kalau digratiskan semuanya kita tidak bisa muter lagi,” tandasnya.

Menanggapi hal itu, Fahmy Lukman menegaskan kalau tidak pernah memberikan respon persetujuan akan hal itu. “Saya bilang bagilah semua buku itu. Untuk kekeluargaan berapa, untuk PPMI berapa, begitu kan? Nah yang lima ratus itu untuk adik-adik MABA. Kalau persoalan diproduksi lagi itu gampang, ajukan kembali ke atase pendidikan dan kebudayaan. Kalau kawan-kawan perlu untuk kemudian biaya kopinya, karena perlu energi tuh, oke, mintakan proposalnya kepada saya, saya akan bantu. Saya sangat setuju dengan buku itu, dengan pengembangan visi dan misi Al-Azhar, saya setuju betul. Kemudian biaya operasionalnya berapa ajukan, tapi tidak dalam konteks untuk dijual. Kalau teman-teman maksudnya adalah untuk diperjualbelikan, oke, silahkan ajukan proposalnya, tapi saya tidak akan sepenuhnya untuk membantu. Saya ngasih paling cuman berapa gitu. Kenapa? Karena bukan dalam kapasistas saya untuk membantu sepenuhnya.”

“Sekarang ayo, gini deh, pemecahan. Teman-teman saya tahu sudah berjerih payah mencari literature, mencari ini itu, menerjemahkan, saya paham betul itu, saya hargai, dalam artian sebagai  bantuan aktifitasnya ya, operasionalnya, bukan honorar-nya. Biaya operasional apa misalnya?, untuk print out, layout dan macam-macam. Tapi yang jelas bahwa buah pikiran dari teman-teman Ruwaq Al-Azhar ini saya akomodir, sebagai apresiasi saya dalam konteks pengembangan wawasan keilmuan. Saya tidak berpikir dalam konteks balik modal, tidak, tidak begitu. Ya berpikirnya adalah dalam konteks mengembangkan aspek keilmuan teman-teman. Tapi kalau teman-teman berpikirnya berbeda, yuk kita samakan dulu, mana yang mau kita setujui. Kalau kemudian sudah masuk di ranah bisnis, saya akan tarik diri. Saya nggak akan bisa lagi. Kenapa?, karena berbeda misi. Jadi misi saya dan misi teman-teman berbeda. Saya tidak dalam kapasitas untuk itu. Kapasitas saya adalah untuk mengembangkan apa yang dimiliki, dalam konteks keilmuan dan intelektualitas,” tambah dosen sastra dan bahasa arab UNPAD tersebut panjang lebar. (kim)

Klarifikasi: dalam berita sebelumnya “Ruwaq Azhar Salahgunakan Bantuan (?)” disebutkan “Bakri Hadi Raharjo” dan yang benar adalah “M. Hadi Bakri Raharjo”.

Lihat Juga

Mahasiswa Al Azhar Asal Banyumas Raih Gelar Magister Dengan Predikat Mumtaz

Mahasiswa Asal Banyumas, Antoni Oktavian, resmi menyandang gelar Magister Universitas Al Azhar dengan predikat mumtaz, …