Home / masisir / Tantangan Kebudayaan
diambil dari english.ahram.org.eg

Tantangan Kebudayaan

Kreativitas budaya -dalam berbagai aspek kesenian dan ilmu sosial-menghadapi tantangan dan ancaman serius yang dihadapi dunia. Dengan adanya kekuatan besar dari hadirnya buku-buku, seni rupa, musik, sinema, drama, dan jenis-jenis adab yang lainnya, tantangan ini bisa diatasi. Kehadiran mereka sekaligus menjadikannya dalam barisan pertama yang membentengi nilai pengetahuan, kebenaran, hak, solidaritas, dan toleransi.

Budaya memiliki peranan yang kuat dalam mempertahankan identitas dan sifat keterbukaan kita terhadap keberagaman. Ia juga menjadikan nilai modernitas sebagai metode dalam pembangunan dan perkembangan. Yang pada saatnya akan mengiringi perubahan zaman melalui berbagai aspek pengetahuan, komunikasi, dan yang terpenting, buku.

Pada dasarnya budaya adalah benteng utama dalam menghadapi beragam serangan yang mencoba mengusik identitas negara dan keamanan nasional (Mesir). Kedepannya, budaya merupakan unsur terpenting dalam rangka pembangunan masa depan Mesir dan negara Arab.

Sejalan dengan konteks di atas, International Cairo Book Fair ke-47 yang diselenggarakan mulai 27 Januari-10 Februari 2016 mengusung tema besar “Tantangan Kebudayaan.“ Dengan maksut menegaskan betapa penting dan berharganya peran budaya dalam kebangkitan tanah air.

Khusus pada ICBF ke-47, Bahrain terpilih sebagai tamu kehormatan tahun ini. Diantara jazirah arab lain, Bahrain termasuk negara yang belum pernah menjadi tamu. Pertimbangan kuat dengan memilih Bahrain, juga lantaran pengalamannya yang cukup tinggi dalam penyelenggaraan demokrasi sekaligus dalam dunia pendidikan.

Pada kesempatan ini, Bahrain turut menghadirkan berbagai acara dan kegiatan kebudayaan yang lain daripada lain. Lebih penting daripada itu, adanya peran serta penulis dan budayawan dalam menyukseskan misi kebudayaan disamping adanya pameran kebudayaan dan musik.

Adapun karakter tokoh yang terpilih sebagai maskot ICBF 47 adalah Jamal Al-ghaithani. Jamal memiliki kontribusi yang luar biasa terhadap kebudayaan Mesir dan Arab pada umumnya. Juga atas proyek dan perannya dalam pergerakan kebudayaan. Ia juga aktif berperan dalam menghadapi ideolog ekstrimis dalam kebebasan berpendapat, ekspresi, dan kreasi.

Pada ICBF 47 juga diperingati 10 tahun wafatnya penulis Trilogi Kairo, Nagib Mahfouz. Besarnya andil Naguib dalam literatur arab, mengantarkan dirinya mendapat anugerah nobel sastra di Swedia tahun 1998. Sehingga, adanya pameran ini juga sebagai apresiasi atas karya besarnya bagi Mesir.

Selain penerbit dalam negeri, ICBF 47 juga diramaikan oleh penerbit dari berbagai negara diuar Afrika. Diantaranya: Cina, Paris, Rusia, Italia, dan Paraguai. Sebagai bentuk dukungan atas tema yang diusung Mesir, mereka juga mengadakan ragam acara degan sentuhan tema kebudayaan. Lebih khusu, Mesir dan Cina akan mengadakan seminar khusus berkaitan dengan hubungan kebudayaan kedua negara. (ida)

*Disarikan dari kata pengantar dalam buku katalog ICBF 47terbitan Haia ‘Amma.

Tentang admin

Lihat Juga

Mahasiswa Pascasarjana Asal Jawa Tengah Raih Gelar Magister Usul Fikih

Mahasiswa pascasarjana jurusan Usul Fikih, Ahmad Munafidzul Ahkam  meraih predikat Jayyid Jiddan pada sidang tesis …