Home / WAWANCARA / 5 Menit Lebih Dekat dengan WIHDAH

5 Menit Lebih Dekat dengan WIHDAH

Sebagai organisasi yang menaungi mahasiswi Indonesia di Azhar, Wihdah memiliki beragam kisah yang patut diperhatikan Masisir pada umumnya, dan khususnya kaum yang peduli realita Masisir. Bagi kebanyakan kalangan -terlebih pria, mungkin Wihdah belum nampak membumi. Kesannya masih terlampau eksklusif bagi wanita dengan kategori tertentu yang secara sosial sudah terkaveling dengan otomatis. Benarkah isu semacam ini? Jangan-jangan ini hanyalah prasangka belaka. Sebagai jembatan antar umat, kswmesir.org menggali tentang Wihdah, langsung merujuk pada sang ketua melalui wawancara. Berikut ini hasil liputannya:

Bagaimana sejarah didirikannya Wihdah?

Periode awal organisasi pelajar Indonesia, dulu namanya HPI. Saat itu mahasiswi hanya menjadi bagian perdapuran, mengurus konsumsi saja. Kemudian ada ibu Eliwarti, beliau mengatakan; sebenarnya kita bisa melakukan sesuatu lebih dari hal ini. singkat kata, jadilah Wihdah.

Bisa diceritakan tentang proker wihdah?

Program unggulan saja, ya. Ada empat, pertama: Azhari backpcker, Sekolah Calon Ibu, Para Pecinta Quran dan Female Batik Day. Ke-empat inilah program yang saya tekankan di Wihdah.

Prospeknya bagaimana?

Azhari backpacker saya kira publik sudah tahu. Karena berita ini terus kamu update di laman Facebook. Berikutnya yaitu sekolah calon ibu. Sekolah ini kita adakan sebagai bentuk persiapan psikologi mahasiswi al-Azhar agar siap menjadi sosok ibu. Bagaimanapun, ibu kan madrasatul ulya. Maka dari itu, persiapanya itu tidak cukup satu-dua minggu atau bulan sebelum pernikahan, melainkan harus sejak dini disiapkan. Agendanya tidak hanya melatih psikis peserta, tapi kita juga mengadakan kelas keterampilan. Saat pelatihan, wktu itu ada 70 peserta dari berbagai golongan; mahasiswi, TKI, bahkan ibu rumah tangga. Karenanya, sekolah ini tentu sangat penting melihat sifatnya yang sangat basic.

Soal PPQ (Para Pecinta Quran), acara ini sebenernya untuk membantu kawan-kawan ujian al-Quran. Setiap tahun kan ada ujianya tuh, nah melalui PPQ ini kita fasilitasi.

Terakhir yaitu Female Batik Day, khusus acara ini kita tidak mengadakan sendiri, tapi kerjasama dengan PPMI.

Dari sekian program, berapa persen proker yang terlaksana?

Alhamdulillah untuk program unggulan sudah 100%. Adapun program yang sifatnya tahunan dan rutinan, kira-kira 70%. Namun ada juga beberapa program yang tidak terlaksana karena suatu alasan.

Kendalanya apa?

Sebagai contoh, dulu kita ada program persiapan pulang kampung. Kira-kira seperti dauroh, tapi khusus tingkat akhir. Kebetulan waktu itu Oktober, di bulan itu agenda PPMI dan Wihdah sangat padat. Daripada dipaksakan, akhirnya kita tanggalkan dulu.

Minat mahasiswi akan Wihdah terkesan minim. memangnya, seperti apa model pendekatannya?

Sebetulnya kita cukup memegang dept. Keputrian di masing-masing kekeluargaan atau pun almamater. Sisanya kembali ke pribadi masing”. Ke kepekaan program yg ada dan kebutuhan.

Kajian dan buletin Citra masih aktifkah?

Buletin Citra alhamdulillah berjalan. Zamannya Ikrima saja terbit empat kali, dan kebetulan Pimrednya saya sendiri. Terus tahun ini sudah tiga, satu lagi besok sebelum berakhirnya periode sekarang. Namun distribusinya masih dalam tataran keputrian organisasi. Belum menyeluruh. Rencananya ada juga yang online, masalahnya kita belum ada orangnya. Walaupun dulu pernah mengadakan pelatihan blogging, tetapi masih belum kelihatan hasilnya.

Soal kajian, tahun lalu Wihdah mau menghapus program kajian. Pertimbangan yang kita ambil: di luar sudah banyak kajian. Maka dari itu peserta kajian di wihdah sangat minim. Cuma kalau mau begitu, harus ada kegiatan pngganti yang kira-kira akan banyak pesertanya.

Apa kabar Azhari Backpacker?

Dutanya sudah berangkat, dan kabarnya pondok tujuan menyambut dengan baik. Misi yang dibawa Furna kan tidak sepele, ya. Kalau kita membawa nama Azhar, itu sama dengan membawa labelnya sendiri. Karenanya, saat seleksi kita ada tes soal keazharan. Disitu peserta Azhari backpacker mempresentasikan dan menjelaskan manhaj Azhar yang wasathi.

Teknis pelaksanaan?

Dari awal kita sudah mempersiapkan satu pondok untuk pengutusan ke sana. Teknis agendanya kita menyesuaikan dengan utusan yang kita kirimkan. Karena ini menjadi program pertama Wihdah megutus mahasiswi, kami rasa kalau kita lepas ke masyarakat umum, apalagi kampus, rasanya terlalu berat bagi utusannya.

Proses pencarian pondok pesantren yang dituju?

Kalau untuk pencarian pondok kita ada beberapa opsi, linknya dari alumni al-Azhar yang ada di indonesia. Setelah kita cari, akhirnya ketemulah pondok Baiturrahman itu.

Mengirimkan duta ke tanah air pastinya membutuhkan dana lebih. Sumbernya?

Kalau kita mengadakan acara, tidak mungkin seluruhnya berasal dari KBRI, apalagi program ini bisa dikatakan yang paling besar. Inisiatif kami, dana akan kita dapatkan melalui penjualan bagasi. Hitungannya, kalau semuanya terjual itu bisa menutup harga tiket.

Bisa dikatakan bisniskah?

Iya. Karena, Azhari backpacker itu back pack saja, koper juga dijual untuk bagasi. Konsekuensinya, ketika pulang peserta hanya membawa kenang-kenangan untuk pondok yang akan dikunjungi. Selebihnya untuk bagasi.

Seberapa penting Azhari backpacker?

Urgensi jelas; bagimana mewujudkan bakti kita untuk Indonesia secara riil. Karena kebanyakan kawan kita yang pulang ya sekedar liburan saja. Di sinilah kita ingin menyadarkan bahwa, kita ini kader ulama yang dibutuhkan indonesia. Dan semoga Azhari backpacker bisa diadopsi oleh banyak pihak kemudian dikembangkan supaya lebih maju dari backpacker Wihdah.

Bagaimana akses Masisir untuk memantau kabar Azhari Backpacker?

Publikasi sudah kita lakukan. Bisa disimak di laman Facebook Wihdah. Saat pelepasan pihak KBRI juga hadir. Mulai keberangkatan sampai tiba di Indonesia juga kami informasikan. Adapun laporan, kita menugaskan Furna agar membuat laporan harian. Dan setiap malam dia selalu membuat laporan lalu dibagikan di laman.

Sempat kita mencari akun Facebook Wihdah, dimana?

Oh, iya. Kemarin akun Facebook Wihdah hilang, jadi kita belum press release. Jadi sementra Facebook Wihdah menggunakan milik saya. Nanti kita bikin press release baru membuat akun baru lagi.

Mba Zakiyah boleh menitipkan pesan untuk kawan Masisir…     

Di Mesir itu banyak sekali pengalaman yang harus digali. Yang pada saatnya menjadi bekal hidup kita di Indonesia. Di sini kita juga bisa belajar banyak hal. Jangan sampai saat kita pulang, eh, menyesal.

Percakapan pun berakhir, dan Mba Zakiyah menawarkan air minum. “Eh, minum dulu.” Pungkasnya. (natadecoco)

Lihat Juga

Mengenal Lebih Dekat Gadis Pembawa Bendera Paskibra Kairo

Kairo, kswmesir.org – Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia di Mesir, KBRI Kairo mengadakan upacara …