Home / OPINI / Omah

Omah

Oleh: Fadhilah Rizqi*

“We leave something of ourselves behind when we leave a place, we stay there, even though we go away. And there are things in us that we can find again only by going back there.”

-Pascal Mercier, Night Train to Lisbon

***

Tiba-tiba ada yang menghubungi telepon genggam KSW dan bertanya; “Mas, boleh main ke KSW? Kebetulan saya lagi kepanasan di luar.”

“Halah! KSW itu rumah, Mas. Mbok ya pulang lebih sering lagi.”

Demikian Mas-Mas penghuni sekretariat KSW merespon seseorang yang kepanasan di luar sana. Untuk alasan paling sederhana seperti numpang ngadem, numpang sembahyang, numpang ke kamar mandi, numpang internet-an, numpang curhat dan numpang-numpang lainnya yang hanya membutuhkan durasi singkat, akan tetap dianggap sebagai kepulangan yang telah lama dinanti-nanti. Kurang lebih demikian. Meski terdengar naif, tapi berada di sekretariat membuat perasaan kekeluargaan terhadap semua anggota KSW —yang seringkali tidak familiar sama sekali— semakin erat. Hal-hal melelahkan yang mungkin akan menghantui tidak masalah selama warga berdatangan main ke KSW.

Bahkan bagi kita sebagai anggota biasa yang jarang menemukan arti untuk sekedar berkunjung ke sekretariat, bisa jadi dapat inspirasi setibanya di sana. Inspirasi yang hanya didapat saat bermain ke KSW. Inspirasi untuk berkultur, misalnya bertutur jawa. Hal sederhana yang bisa jadi terlupakan saat jauh dari kampung halaman. Atau juga terinspirasi sekretariat  KSW jadi meeting point bertemu dengan kawan yang flatnya saling berjauhan. Inspirasi-inspirasi ini agaknya terlalu bertebar di sudut-sudut sekretariat dan sulit dilacak hingga tetap jarang terjadi.

Untuk sampai ke situ, KSW memang perlu melakukan banyak upaya untuk memotivasi warganya berdatangan. Salah satunya adalah hajat tahunan Malam Puncak Pesta Warga merayakan Hari Ulang Tahun KSW. Dalam kesempatan menggarap HUT, biasanya sesepuh menemukan titik temu dalam setahun terakhir apa yang diperlukan KSW, atau apa yang kurang dari KSW atau setidaknya apa yang sedang diusahakan KSW untuk warganya. Seperti tiga tahun lalu KSW mengangkat tema “KSW Berbudaya, KSW Milik Kita”, lalu tahun berikutnya “KSW Membangun; Kesadaran, Kebersamaan, Keharmonisan dan Kesantunan”, kemudian tahun lalu “Tanam Kepedulian, Pupuk Kreatvitas, Tumbuhkan Generasi yang Berkualitas”, masing-masing dari tema tersebut mewakili kebutuhan dan perbaikan bagi KSW dan warganya. Tahun ini, KSW mengangkat tema sesederhana dan semudah-diingat mungkin, “KSW; Rumah Kita, Keluarga Kita”.

Pelaksanaan perayaan ulang tahun ini menjadi sangat penting. Karena pada momen tersebut, kemungkinan-kemungkinan yang sulit diwujudkan semacam mendatangkan warga KSW yang asing jadi lebih mungkin terealisasikan. Kali ini, KSW ingin warganya menyadari betapa terasa-rumahnya kekeluargaan ini. Saat kita bepergian, atau merantau dalam waktu yang lama dalam kasus kita, selalu ada banyak alasan untuk kembali. Maka perasaan ingin kembali itu terobati saat KSW menawarkan nuansa kampung halaman di dalam komunitasnya. Meski banyak anggapan dari luaran sana bahwa relasi yang harus dibangun oleh Masisir adalah relasi internasional, atau minimal nasional. Sehingga sikap-sikap kedaerahan yang terbatas pada satu kultur saja mesti dikurangi. Oleh karena iming-iming menjadi lebih fokus studi dan —katakanlah— kemungkinan untuk lebih populer, banyak yang semerta mengamini tanpa memahami apa yang tertinggal jika mutlak meninggalkan rumah begitu saja.

Laku sosial yang diajarkan oleh kultur kedaerahan jangan sampai hilang. Itu saja yang diinginkan oleh KSW. Mau dianggap sebagai karakter, latar belakang ataupun identitas tidak masalah. Yang penting dan yang perlu dipahami adalah ajaran itu bersifat universal dalam penerapannya. Karena kedekatan manusia dengan kemanusiaan, menurut pengalaman penulis, berangkat dari masyarakat pedesaan ketimbang perkotaan yang merupakan wujud dari relasi lintas kultur. Saat kita diharuskan tergesa mengejar kemapanan hingga relasi internasional, apa artinya jika tidak peka dengan kemanusiaan sebagai relasi paling sublim antar mahluk hidup (bahkan selain manusia sekalipun diperlakukan lebih manusiawi ketimbang manusia sendiri).

Lalu kembali pada pilihan untuk tetap pulang meski sedang dalam perantauan, maka akan sangat tepat bila kembali pada kultur masing-masing. Atau setidaknya tidak melupakan asal muasal. KSW berusaha menjadi rumah terbaik bagi perasaan-perasaan tersebut. Dengan memahami hal itu, rumah di sini bukanlah (sekedar) markas ataupun sekretariat. Rumah dalam artian KSW adalah abstrak. Ia hanya bisa terlihat saat kita benar-benar menyadari betapa pentingnya KSW ada. Mari masuk bersama, pintunya ada di sana; satu dari banyak hal yang kelewat sederhana, kebersamaan. Ya, itu saja.[]

 

*Ketua Panitia HUT KSW ke-28
(Tulisan ini dimuat di Prestasi edisi interaktif HUT ke-29)

Comments

comments

Lihat Juga

Khataman Lintas Generasi KSW 2017

Kairo, kswmesir.org – Dalam waktu dekat KSW (Kelompok Studi Walisongo) akan menghadirkan “gawe gedhe”   tahunan …