Home / KSW NEWS / ALL ABOUT PRESTASI / 40 Komentar Beragam Masisir untuk Bapak DR. Fahmi Lukman, M.Hum., Atase Pendidikan Nasional di KBRI Kairo

40 Komentar Beragam Masisir untuk Bapak DR. Fahmi Lukman, M.Hum., Atase Pendidikan Nasional di KBRI Kairo

  1. “Selama ini saya tidak pernah mendengar apresiasi positif dari mahasiswa atas kinerja beliau. Saya pikir ini adalah hasil yang riil dari kinerjanya selama ini.” Muhammad Yunus Masruchin, Kandidat Doktoral Aqidah Filsafat
  2. “Lebih sering memahami keadaan Masisir.” Agus Susanto, Presiden PPMI.
  3. “Perbaiki komunikasi dengan Masisir, pahami budaya Masisir, jadikan diri anda sebagai bapak Masisir!” -Jamil Abdul Lathif, Mantan Presiden PPMI 2012-2013.
  4. “Lebih intens berbaur dengan para mahasiswa, memahami segala serba-serbi dunia mereka dan lebih obyektif dan proporsional dalam mengambil setiap kebijakan.” Abdul Rouf, Dirasat Islamiyah.
  5. “Bapak baik, tapi dalam komunikasi dengan kami selaku mahasiswa cara yang digunakan kurang baik. Salah satu hal yang membuat orang-orang tua tampak buruk di mata anak-anak adalah karena seorang anak harus mendongakan kepala di hadapan mereka. Padahal, jarang ada wajah yang terlihat bagus jika dilihat dari bawah.” -Umar Abdullah, Mahasiswa Fakultas Syari’ah wal Qonun.
  6. “Jangan main-main!” -Mas Aria Muhammad Okto, Ketua Senat Mahasiswa FBA.
  7. “Kurangi hidup borjuistik!” -Wais al-Qorny, Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah.
  8. “Pak Fahmi, aturan itu bukan saja tegas tapi juga bijaksana.” -Hafidz Widodo, Lc., Mahasiswa Jurusan Filsafat.
  9. “Sekalipun Bapak merupakan perwakilan dari kementrian pendidikan, tolong juga kami yang merupakan asuhan kementrian agama lebih diperhatikan. Pasalnya, beberapa kali saya bertanya tidak pernah ada jawaban.” -Abiyu M K I, Tarikh wal Hadharah.
  10. “Sebagai orang atasan yang menaungi sebuah institusi atau pemimpin, seharusnya bapak Atdik harus menjadi role model bagi orang-orang di bawahnya. Begitu juga dalam hal ini, mahasiswa dalam setiap kebijakan harus melihat sisi baik dan buruk dan pertimbangan yang matang untuk kemaslahatan yang lebih baik, dengan mendengar usulan-usulan yang lain dan atau gimana gitu lah.” -Ahmad Obiek. Syariah Islamiyah.
    130
  11. “Sebenarnya Anda tahu tidak apa yang Anda lakukan di sini?” -Fadhilah Rizqi, Fakultas Bahasa Arab.
  12. “Ada baiknya selaku Atase Pendidikan KBRI lebih memahami kondisi Masisir dan meluangkan waktu untuk terjun di Masisir.” -Mahdi, Syariah Islamiyah.
  13. “Lebih mempertimbangkan dalam mengambil langkah untuk menelurkan program-program pendidikan dan kemahasiswaan.” -Putri Churriyatul Latifah, Syariah Islamiyah.
  14. “Seorang Atdik sebagai bapak, mestinya mrangkul semua golongan, semua anak dari latar belakang mana pun.” -M. S. Arifin, Dirasat Islamiyah.
  15. “Alangkah baiknya, sebagai Atase Pendidikan di negeri orang, selain fungsi keluar dan ke dalam (Masisir), bisa lebih dekat Masisir, mendukung kegiatan-kegiatan Masisir. Dengan mendekat, saya rasa lebih haromonis dan tentunya dengan sikap atau kebijakan yang sesuai kapasitas.” -Mu’hid Rahman, Syariah Islamiyah.
  16. “Kritik dan saran saya agar Anda dan yang akan menjadi Anda, untuk menetap dan berinteraksi dahulu selama empat tahun, sebelum Anda berani memakai jabatan Anda.” Syukran Sayyidil Anshar, Fakultas Bahasa Arab.
  17. “Manusia bukanlah malaikat. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan. Manusiakanlah manusia!” -Rasyad Sudrajad, Ushuluddin.
  18. “Lebih memahami kembali kondisi sosial dan budaya Masisir.” Ahmad Subakri, Ushuluddin.
  19. “Seharusnya bapak Fahmi Lukman bisa lebih memahami keadaan Mesir secara umumnya dan Masisir secara khususnya.” Zuhdan Maimun, Fakultas Bahasa Arab.
  20. “Sebagai seorang Atase Pendidikan adalah tugas utamanya mendidik. Mendidik dari perilaku tindakan dan kebijakan, bukan melakukan tindakan kontroversial dan memberikan kebijakan yang aneh. Di sini supaya jelas, Anda seorang pendidik atau seorang pejabat yang pragmatis.” Ahmad Akbar, Ketua GAMAJATIM.
  21. “Yang paling awal tentunya, tidak ada pihak mana pun yang bisa disalahkan secara mutlak. Akan tetapi, seyogyanya dari Bapak, ATDIKBUD sendiri lebih paham dengan kearifan lokal (Masisir).  Dan jangan suka mengeluarkan statement yang kontroversial!” -Fahruddin, Syariah Islamiyah.
  22. “Yang sabar pak, dengan saran dan kritikan Mahasiswa dan mohon ditanggapi dengan tulus dan lapang dada! Dan mohon diperjuangkan aspirasi kita, yang saya yakin bapak sudah mendengarnya!” -Alda Kartika Yuda, Syariah Islamiyah.
  23. “Jadilah Atdik yang berjuang dan memperjuangkan hidup dan menghidupi!” -Az-Zimam Auliya, Syariah Islamiyah.
  24. “Kita hidup di bumi manusia, Bung, bahkan surga pun baru dijanjikan! Mari belajar tentang manusia!” Landy T. Abdurrahman, Syariah Islamiyah.
  25. “Tentu seorang anak butuh perhatian dari orang tua. Siapa lagi orang tua terdekat kita selain Bapak Fahmi. Namun, di antara kita masih ada yang tak memahami siapakah sosok pak Fahmi. Tidak lain itu adalah karena bapak tak memahami kita dan kurang berbaur dengan kita.” -Lella Fidela, Ushuluddin.
  26. “Pak Fahmi seharusnya lebih berdialektika dengan kawan-kawan Masisir yang sangat kompleks ragamnya dan corak idealismenya. Hingga supaya beliau bisa memahami hal-hal yang prinsipil dari hal-hal yang hanya sekunder. Karena hidup lebih luas dari hanya yang dipahami oleh beliau.” -Ilmanuddin M. Abdul Haqq, Ushuluddin.
  27. “Agar lebih memahami dinamika Masisir dan harus menyeimbangkan antara kritik dan apresiasi, serta lebih hati-hati dalam memberi pernyataan selaku pejabat publik.” -L. Rahim, KMKM.
  28. “ATDIK fungsi dasarnya sebagai pengayom para mahasiswa atau pelajar Indonesia, seharusnya memiliki romantisme dengan medan yang Masisir miliki. Kita melihat kebijakan-kebijakan yang agak dipaksakan oleh petinggi ATDIK dan kebijakan tersebut tidak kita ketahui atas dasar apa, walaupun ada kita tidak melihat kebijakan tersebut sebagai sebuah keputusan yang netral untuk mahasiswa. Namun lebih kepada pemaksaan kehendak dari pihak Atdik sendiri. Kita berharap semoga ke depan, mauver dan program Atdik lebih menimbang kondisi Masisir, tidak bersikeras memaksakan kebijakan mereka.” -Muhibbussabri Hamid, Syariah Islamiyah.
  29. “Saran-saran, kebijakan-kebijakan dan program-program bapak Fahmi Lukman cukup bagus, akan tetapi harus bisa merealisasikannya dengan baik dan benar. Seharusnya, Bapak Fahmi dapat memahami keadaan Masisir saat ini. Dalam segala hal tidak bisa diputuskan oleh sendiri, akan tetapi butuh kepada aspirasi atau keinginan-keinginan Masisir. Terutama, dalam sikap harus bijaksana dan profesional. In sya Allah, jikalau bijak dan profesional, segalanya akan mudah, berjalan stabil dan produktif.” -Saiful Anam, Ushuluddin.
  30. “Lebih memahami dan mengetahui kondisi Masisir.” -Hofid Eksan Rowi, Syariah Islamiyah.
  31. “Masyarakat Masisir merupakan elemen yang kompleks dengan segala keberagaman pernak-perniknya. Kebijakan dan program sekiranya tidak akan berjalan baik, kecuali dengan memahami psikologi, sosial dan kultur masyarakat ini. Semoga ke depan, Bapak bisa lebih mengenal kami.” -Akta, Syariah Islamiyah Pasca Sarjana.
  32. “Saran saya buat Bapak Dr. Fahmi Lukman M. Hum., agar supaya menjadi lebih dekat lagi dengan mahasiswa dan ingin menerima aspirasi-aspirasinya dan memenuhi hak-hak mahasiswa.” -Ahmad Mu’abbid, Syariah Islamiyah.
  33.  “Memahami Masisir sebagai komunitas yang beragam, jangan membuat kebijakan yang kontoversial!” -Ja’far Shadiq, Akidah-Filsafat.
  34. “Kurang memahami Masisir, harusnya komprehensif dan memahami obyek Masisir.” -Vurna Hubbatalillah, Fakultas Bahasa Arab.
  35. “Terima kasih, Pak!” -Randy Ahmad Fadhli, Akidah-Filsafat.
  36. “Kepada bapak yang terhormat untuk lebih memahami kondisi Masisir. Bukankah Bapak sebagai bapak dari kami, in sya Allah kami di sini  telah mempertimbangkan dan memusyawarahkan keputusan kami.” Bahtiar, Fakultas Bahasa Arab.
  37. “Secara personal beliau baik. Namun, untuk sosialisasi ke-Mesir-an, saya rasa tidak, kurang tahu apa yang dibutuhkan Masisir.” -Azhar Abdul Aziz, Ushuluddin Pasca Sarjana.
  38. “Bapak Fahmi sebaiknya memahami Masisir dengan segala aspek yang ada di dalamnya sebelum mengeluarkan kebijakan. Dan ketika kebijakan itu diterbitkan, seyogyanya menggunakan pendekatan persuasif, bukan asal kritik.” -Pangeran, Ushuluddin.
  39. “Terima kasih, Pak!” -Randy Ahmad Fadhli, Aqidah Filsafat.
  40. “Fokus, Bro!” -Muhammad Nur Thariq, Ushuluddin. (red/kswmesir.org)

Tentang admin

Lihat Juga

Mahasiswa Pascasarjana Asal Jawa Tengah Raih Gelar Magister Usul Fikih

Mahasiswa pascasarjana jurusan Usul Fikih, Ahmad Munafidzul Ahkam  meraih predikat Jayyid Jiddan pada sidang tesis …