Home / OPINI / agama / Perbedaan dalam Beragama: Sebuah Cara Memaknai dan Menyikapi

Perbedaan dalam Beragama: Sebuah Cara Memaknai dan Menyikapi

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seringkali sebuah perbedaan menimbulkan percekcokan, permusuhan, bahkan pertumpahan darah. Padahal Allah Swt. telah memperingatkan manusia agar menjadikan sebuah perbedaan sebagai media tukar-menukar pengetahuan, kebudayaan, dan informasi. Allah pun sudah memberikan barometer utama untuk menentukan mana yang terbaik dalam sebuah perbedaan, yaitu taqwa dalam hati.

Dalam kitab-Nya Allah Swt. Berfirman: ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. Al-Hujurat : 13).”

Sebagai manusia pilihan-Nya untuk menjadi tokoh teladan, Rasulullah Saw. telah melaksanakan tugasnya dengan sempurna:nmenyampaikan apa yang harus disampaikan dan melakukan apa yang harus dilakukan sebagai percontohan bagi umat manusia. Tiga belas tahun lamanya Rasulullah Saw. hidup di Madinah dalam ragam perbedaan. Tidak hanya perbedaan antar suku dalam umat islam, tetapi juga antar agama. Namun demikian, perbedaan yang dialami oleh Beliau tidaklah banyak apalagi berkepanjangan.      

Dalam kitab Matsnawi, Jalaluddin Rumi bercerita:

Dahulu, ada seorang  muadzin bersuara jelek di sebuah negeri kafir, ia memanggil orang untuk salat. Banyak orang memberi nasihat, “Janganlah kamu memanggil  orang untuk shalat”. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suara kamu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dengan orang-orang kafir.” Tetapi muadzin itu menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantukan azannya yang tidak bagus itu di negeri  orang kafir. Ia merasa dapat mendapat kehormatan untuk memanggil salat di satu negeri di mana orang tak pernah salat. Sementara orang orang Islam menguatirkan dampak azan dia yang kurang  baik, seorang kafir datang kepada mereka suatu pagi. Dia membawa jubah,  lilin dan manis-manisan. Orang kafir itu mendatangi jemaah kaum muslimin dengan sikap yang bersahabat. Berulang-ulang dia bertanya, “Katakan kepadaku, di mana sang muadzin itu? Tunjukan padaku siapa muadzin yang suara dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?” “Kebahagian apa yang kau peroleh dari suari muadzin yang jelek itu?” seorang muslim bertanya. Lalu orang itu bercerita: “Suara muadzin itu menembus ke gereja, tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali menikah seorang mukmin sejati. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Kecintaan kepada iman sudah tumbuh dalam hatinya. Aku tersiksa, gelisah, dan terus-menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku kuatir dia akan masuk islam dan aku tahu tidak ada obat yang dapat menyembuhkan dia. Sampai suatu saat anak perempuanku mendengar suara azan itu. Ia bertanya, ‘apa suara yang tidak enak ini? Suara ini mengganggu telingaku. Belum pernah dalam hidupku aku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadat atau gereja.’ Saudara perempuannya menjawab, `suara itu namanya azan, panggilan untuk beribadat bagi orang-orang Islam. Azan adalah ucapan utama dari seorang yang beriman’. Ia hampir tidak mempercayainya. Dia bertanya kepadaku, `Bapak,apakah betul suara yang jelek itu adalah suara azan? `Ketika ia sudah di yakinkan bahwa betul suara itu adalah suara azan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian kepada Islam. Begitu menyaksikan perubahan itu aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan. Tadi malam aku tidur dengan nyenyak dan kenikmatan serta kesenangan yang kuperoleh tidak lain karena suara azan yang di kumandangkan muadzin itu.”Orang kafir itu melanjutkan, “Betapa besar rasa terima kasih saya kepadanya. Bawalah saya kepada muadzin itu. Aku akan memberikan seluruh hadiah ini. “Ketika orang kafir itu bertemu dengan muadzin, ia berkata, “Terimalah hadiah ini karena kau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah kau lakukan,kini aku terlepas dari penderitaan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan kuisi mulutmu dengan emas”.

Alangkah tidak baik orang yang merasa dirinya paling benar, sekalipun kepada orang non-muslim. Karena tidak ada satu pun manusia yang mengetahui akhir dari kehidupan ini. Boleh jadi, orang non-muslim yang sekarang kita anggap lebih hina dari pada kita, Allah telah mencatatnya sebagai ahli surga. Sedangkan kita yang sekarang berbangga dengan islam,  Allah Swt. telah mencatat kita sebagai ahli neraka> Naûdzubillâhi min dzâlik. Semoga kita semua tercatat sebagai ahli surga yang didamba-dambakan. Âmîn yâ rabbalâlamîn.

Kesimpulannya, perbedaan bukanlah alasan dari sebuah pertikaian, permusuhan, dan pertumpahan darah. ’Berbeda tapi bersatu’, prinsip inilah yang senantiasa harus kita usahakan, sekalipun berbeda agama. Karena hubungan suatu agama dengan agama lain adalah ’dakwah’ dan saling menyebar kasih sayang, bukan permusuhan maupun peperangan.

Ditulis oleh: Ahmad Saiful Millah, anggota Rumah Syariah

Comments

comments

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …