Berita Terkini
Home / FIKIH KONTEMPORER / Mendengarkan Musik, Haram atau Tidak?
gambar diambil dari https://www.google.com.eg/imgres?imgurl=http://3.bp.blogspot.com/-eqOpgMB_TgI/VOlv2mpLA1I/AAAAAAAABqo/cI_4Q5Pwx4w/s400/musik%25252Bdalam%25252Bislam.jpg&imgrefurl=http://beritaislamiterkini.blogspot.com/2014/09/hukum-nyanyian-dan-musik-dalam-islam.html&h=278&w=400&tbnid=22muj9C1Wdn9iM:&docid=NWtfGqlaeiy4BM&ei=cLT7VuraMMasU4buuIgN&tbm=isch&ved=0ahUKEwjq0riwo-jLAhVG1hQKHQY3DtEQMwhOKCkwKQ

Mendengarkan Musik, Haram atau Tidak?

Terlepas dari hukum dan suka atau tidaknya seseorang mendengarkan musik, pada kenyataannya ia sudah menjadi bagian dari hidup umat islam. Dalam artian seorang muslim paling tidak pernah mendengarkan suatu musik.

Pada kenyataannya pula, ada sebagian orang yang senang mendengarkan musik dan sebagian lagi tidak. Hal ini disebabkan oleh dua faktor: pertama, karena wataknya yang memang tidak menyukai musik, kedua karena adanya pro kontra hukum mendengarkan musik itu sendiri.

Sebenarnya hukum mendengarkan musik telah dibahas oleh para ulama berabad-abad yang lalu. Sebagian dari mereka mengharamkannya sekalipun musik tersebut tergolong islami, kecuali pada keadaan-keadaan tertentu seperti pada hari ‘ied dan pernikahan (seperti yang dijelaskan oleh  Imam Ibnu Katsir ketika menafsiri surat Luqman ayat 6, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ighâthatul Lafahân, Nâshiruddîn al-Albâni dalam Tahrîm Âlatit Tharb dan ulama-ulama lain).

Sedangkan sebagian ulama lain membolehkannya, akan tetapi dengan beberapa ketentuan-ketentuan (seperti  yang dijelaskan oleh syekh ‘Ali Jum’ah dalam al-Kalim at-Thayyib, syekh Mutawalli Sya’râwi dalam tafsirnya dan ulam-ulama lainnya).

Sebagai kaum muslim yang hidup di masa kini, seringkali kita dibingungkan dengan dua pendapat ulama yang berbeda dalam satu permasalahan, bahkan lebih. Apalagi keduanya sama-sama bersandar pada dalil Qur`an dan Hadis.

Oleh karena itu, mari kita pahami beberapa hal di bawah ini dalam menyikapi perbedaan pendapat ulama secara umum dan perbedaan pendapat ulama dalam mendengarkan musik secara khusus:

  • Hal pertama yang harus kita fahami yaitu fiqhunâ mabniyyun ‘alâ at-ta’addudiyyah (fikih kita berasaskan keberagaman). Maksudnya, dalam masalah-masalah fikih sangatlah wajar sekali terjadi perbedaan pendapat, al-Qâdi Abul Walîd Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd al-Qurthubi al-Mâliki dalam Bidâyatul Mujtahid menjelaskan sebab-sebab perbedaan ulama dalam fikih padahal sumber pengambilan hukumnya sama: perbedaan metodologi pengambilan hukum dari sumbernya, perbedaan macam-macam hukum syar’i, dan perbedaan dalam menyikapi redaksi-redaksi sumber pengambilan hukum, meskipun imam as-Syaukâni dan imam Ashab hanya menyebutkan sebab yang ke tiga saja.

Berbicara ta’addudiyyah (keberagaman) sebenarnya ia tidak terbatas pada masalah fikih, tetapi juga masalah akidah (keyakinan), sebagaimana yang di jelaskan oleh al-Imâm al-Akbar Ahmad Thayyib (grand syeikh al-Azhar sekarang) dalam acara televisi ‘fiqhul hayâh’. Adanya keberagaman dalam masalah keyakinan inilah yang membuat kaum Asy’ariyyah tidak mudah mengafirkan kelompok lain, seperti mu’tazilah dan kelompok yang mengaku sebagai pengikut imam Ahmad ibn Hanbal.

  • Hal ke dua adalah islâmunâ mabniyyun ‘alâ al-washathiyyah (islam kita berasaskan kemoderatan). Apa itu islam moderat? Apa ciri-ciri khas islam moderat? kelompok mana yang moderat? Adalah pembahasan yang panjang, apalagi semua kelompok yang ada mengaku bahwa merekalah yang moderat? Ringkasnya, moderat bisa diartikan sebagai suatu sikap yang tidak tasyaddud (sikap keras dan sempit) dan tidak tasâhul (sikap teledor dan bebas) dalam berhukum.
  • Hal ke tiga yang tidak kalah penting yaitu, ketika kita sudah berpegang pada satu madzhab/satu kelompok/satu hukum, seyogyanya tidak kemudian merasa yang kita pegangi adalah yang paling benar, sedang yang lain salah dan akan masuk neraka. ’Na’ûdzubillâh’.

Adapun dalam permasalahan mendengarkan musik, rasanya sangat sulit dan sempit sekali ketika hukumnya haram secara mutlak. Karena tidak bisa dipungkiri ada jenis-jenis musik yang memiliki lirik positif -bisa membantu mengingat Allah. Namun, terlalu berlebihan juga ketika hukumnya boleh secara mutlak, karena tidak bisa dipungkiri ada juga jenis-jenis musik yang lirik-liriknya berpotensi menutup hati dari unsur kebaikan dan mengingat Allah.

Kesimpulannya adalah kita harus mempunya tolak ukur yang jelas untuk menentukan apakah musik yang ini haram, yang ini boleh dan seterusnya. Syeikh Mutawalli Sya’rawi pernah berkata, ”kullu syai`in yulghîka ’an mathlûbillâhi minka lahwun” (segala sesuatu yang melalaikanmu dari perintah Allah Swt. adalah hal yang tidak berguna), sedangkan lahwun (sesuatu yang tidak berguna) kita diperintahkan untuk menjauhinya berdasarkan Qur`an dan Hadis.

Berdasar pada ketentuan di atas, untuk menghukumi suatu hal, kita perlu menimbang-nimbang apakah ia melalaikan dan menelantarkan perintah Allah atau tidak. Jika melalaikan -meninggalkan perintah Allah, menutup hati dari kebaikan, menggugah nafsu, melupakan Allah Swt, maka ia haram, jika tidak maka ia boleh.

Jadi, setiap dari kita adalah penentu apakah mendengarkan musik itu haram atau tidak, sehingga dalam masalah mendengarkan musik bisa jadi bagi sebagian orang melalaikan sehingga hukumnya haram baginya dan bagi sebagian lagi tidak melalaikan sehingga hukumnya boleh baginya. Wallahu a’lam wa waliyyuttaufîq.

Oleh : Ahmad Saiful Millah, anggota Rumah Syariah Mesir.