Home / Uncategorised / Agus: “Tujuan Kita Untuk Kemaslahatan Masisir”

Agus: “Tujuan Kita Untuk Kemaslahatan Masisir”

Kairo, kswmesir.org (1/9) Pasca beralihnya kepemimpinan PPMI dari Agususanto Chairil Anwar kepada Abdul Gofur Mahmudin, rupanya masih ada beberapa permasalahan yang menjadi pertanyaan publik, baik itu mengenai SK maupun sikap Agus yang cenderung diam. Maka tim web kswmesir.org mencoba menguak mengenai hal tersebut. Simak liputan wawancaranya berikut ini:

Mengenai fakta terkait SK Atdik yang diungkapkan oleh Bu Nia, bagaimana menurut Anda?

Masalah SK memang harus melalui prosedur yang ada dan tidak bisa dipaksakan turun begitu saja. Beliau mencontohkan dulu ketika dipindah dari Atdag (Atase Perdagangan) ke Ekonomi, SK baru turun sekitar 7 bulan kemudian.

Apakah pergantian itu bisa dibilang cuma untuk menenangkan masa?

Bisa juga dibilang begitu. Jadi begini, Atdik itu kan masih di bawah fungsi Pensosbud, dan sebelumnya Pensosbud dipegang oleh Bu Nia. Jadi sebenarnya tidak apa-apa jika ada penggeseran di sana. Dalam artian, kita kembali ke tujuan awal diadakannya demo ini kenapa. Untuk memperoleh maslahat kan? Jadi ketika dengan penggeseran posisi saja kita sudah memperoleh maslahat kan tidak usah mencari-cari perkara yang justru ber-mudharat. Kita berdemo dengan asas memperoleh maslahat, bukan adu kuat dengan KBRI. Dengan diletakkannya seluruh urusan Atdik ke Bu Nia itu kan berarti Bu Nia sudah berkomitmen.

Apakah ada perubahan dalam KBRI pada Masisir setelah demo kemarin?

Perubahan-perubahan tentu saja ada. Alhamdulillah, masukan-masukan mulai lebih didengarkan. Seperti misalkan problem kita dulu, yaitu kurang transparannya masalah dana dari pihak KBRI kepada Masisir. Kita waktu itu sampai mendatangi Pak Tubagus yang mana beliau ahli di bidang administratif negara. Dan di situ kita tahu, bahwa dana yang tidak terpakai bisa dialihkan. Dibilang alasannya dana dipotong dari pusat, tapi di dalam KBRI sendiri ada kegiatan terus. Ini kan menimbulkan kecurigaan, apakah jangan-jangan dana yang seharusnya dialirkan ke mahasiswa itu dipotong dan dialihkan untuk internal? Kan kita juga ‘gak tau. Itu bisa saja terjadi.

Tapi sekarang Alhamdulillah, dana yang dulunya bisa turun 50% dari proposal yang diajukan saja sudah syukur, sekarang dana tersebut turun penuh 100%. Saya dengar dari presiden PPMI sekarang, dana dari KBRI turun untuk satu termin. Kalau begitu kan lebih mudah juga bagi pihak PPMI untuk mengadakan rencana acara dan kegiatan apa saja dalam satu termin dengan dana segitu, tidak was-was seperti kemarin, “Ini dana turun atau gak ya?” dan kemarin ketika mengajukan proposal pun dana mulai turun secara full.

Bagaimana tanggapan Anda jika suatu saat publik menuntut untuk diperlihatkan SK karena mereka tidak benar-benar percaya?

Kalau memang ada yang menuntut hal tersebut, silahkan tanya langsung ke saya. Perlu diketahui bahwa sampai saat ini, kita masih terus menggali dan memonitoring masalah SK tersebut. Selain itu, kami juga berinisiatif menyusun SOP (Standar Operasional) Atdik. Kami membuat standar operasional untuk Atdik, apa saja yang perlu dilakukan seorang Atdik. Paling tidak, jika hal-hal yang ada dalam SOP tersebut terpenuhi, sudah cukup. Kami, presiden-presiden sebelumnya dan beberapa kepala kekeluargaan akan mencoba menyusun SOP itu. Insya Allah optimis adanya perubahan? Ya Insya Allah kami optimis. Tentu saja dibantu dengan dukungan kawan-kawan semua.

Terkait SK, siapa yang meng-handle sekarang?

Semua urusan pemerintahan sudah diserahkan pada presiden yang baru. Tapi saya sebagai presiden periode sebelumnya juga tetap turut mengawal. Ini sebagai bentuk tanggung jawab moral saya.

Bagaimana terkait tim investigasi dari pusat?

Kemarin Pak Anis Baswedan sendiri menyatakan sekitar akhir Agustus akan berkunjung ke Mesir. Kedatangan beliau guna menindaklanjuti hasil simposium dan petisi yang sudah kita serahkan ke tangan beliau. Selain itu, beliau sekaligus meninjau perkembangan asrama mahasiswa Indonesia dan bagaimana sebenarnya keadaan mahasiswa Indonesia di Kairo.

Kabarnya, Pak Anies Baswedan bersama Wamenlu yang akan mengurus hal itu. Jadi terkait permasalahan kemarin memang sudah diusahakan sampai ke pusat? Bisa dibilang begitu. Segala cara sudah kita tempuh. Kemarin saya perkuat dengan mengirim petisi tersebut ke email beliau-beliau secara pribadi, walaupun belum ada respon. Akhirnya, saya melihat ada peluang di simposium. Dan alhamdulillah, petisi tersebut sudah diterima langsung di tangan Pak Anies.

Bagaimana tentang isu ancaman pencemaran nama baik?

Untuk isu itu kami katakan PPMI kemarin ketika mendengar isu tersebut langsung mengecek undang-undang terkait pencemaran nama baik.

Pertama: Pencemaran nama baik ketika melibatkan kemaslahatan banyak orang, tidak bisa disebut sebagai pencemaran nama baik. Kita punya hak untuk membantah itu. Kami katakan, kita tidak bisa dibawa ke ranah hukum. Kita jangan sampai terpengaruh hal itu. Kedua: Pak Fahmy sudah menyampaikan permohonan maaf beliau. Beliau minta maaf ini kan sudah berarti beliau mengakui memang ada yang salah. Beliau sudah tidak punya hak untuk melaporkan karena beliau sudah mengakui. Jangan sampai kita terpecah belah karena isu ini. Mari kita satukan langkah. Kawan-kawan jangan pernah gentar. Kita harus hadapi ke depan.

Sekarang adalah, bagaimana caranya kita memanfaatkan hasil yang kita peroleh dengan sebaik mungkin. Jangan malah berfikir untuk mundur. Sekarang kita fokus bagaimana kita akan menghadapi tim dari pusat, mempertahankan wajah kita sama-sama. Gerakan kita ini dengan prasangka kah? Ataukah data? Kita harus persiapkan bahan-bahan. Kalau kemarin kita mengajukan petisi dengan bahasa tulisan, kali ini kita harus menunjukkan sikap dengan bahasa lisan. Jangan takut ketika kita ditakut-takuti. Semua jenis ancaman, mau itu Bareskrim atau apa, jangan takut. Kita melakukan bukan untuk kepentingan pribadi tapi untuk bersama.

Selanjutnya, terkait ramai-ramai di media sosial. Kan kemarin ada sedikit keramaian di beberapa postingan baik itu pribadi atau grup yang membawa nama Anda. Tanggapan Anda?

Barangkali publik melihat saya cenderung diam. Muncul pertanyaan, apakah Mas Agus sembunyi? Atau jangan-jangan Mas Agus lari dari tanggung jawab? Untuk kali ini saya katakan, saya cenderung save dulu dari semua hal-hal itu. Dalam artian, oke silahkan saya dikorbankan. Ini kan sudah tentang kejelekan nama pribadi, bukan institusi lagi. Ibaratnya saya sudah berjalan dari A-Z, sudah banyak hal-hal positif yang kawan-kawan lihat bahkan rasakan. Lalu tiba-tiba di langkah-langkah akhir saya mendapat sandungan. Ya, manusiawi lah kalau banyak dari kawan-kawan yang lebih menyorot kepada akhirnya. Kalau dibilang saya tidak melawan karena tidak punya masa, saya katakan tidak. Saya juga punya masa.

Tapi apakah dengan saya mengerahkan masa, masalah selesai? Di sini ada pro dan kontra. Kalau saya melawan, di sinilah akan timbul perpecahan di Masisir. Bukannya lebih baik, malah jadi bahan tertawaan: Masisir sudah nggak kompak. Makanya, waktu hari terakhir aksi damai itu, pulangnya saya langsung menulis dalam status FB: “Perjuangan belum berakhir.” Kan kawan-kawan kalau ada yang dimintai tolong atas nama Masisir harus bersedia. Ini akan jadi rambu kuning untuk KBRI bahwa mahasiswa tidak main-main. Tidak ada tipu-tipu.

Jangan sampai kita dilihat dari atas pecah. Itu kan memalukan. Sampai saya bilang, apakah ini karena dendam pribadi pada saya sendiri? Hal itu langsung saya tanyakan pada yang bersangkutan. Kalau memang ada masalah pribadi, kita sampaikan dan selesaikan secara pribadi, jangan bawa-bawa institusi dan menyeret-nyeret pihak lain. Tujuan kita sama, dan itu yang kita ambil: untuk kemaslahatan Masisir. Bukan berarti saya gak berontak itu saya diam. Saya punya pergerakan, dan itu juga membuahkan hasil. Siapa bilang kenduri 1-4 gak ada hasil? Ada hasilnya. Perubahan Pak Fahmy sudah terasa sejak Kenduri 1.

Disitu kita sudah merasa dana tidak terlalu sulit diperoleh, sudah lebih mudah cair. Saya lebih condong diam agar tidak ada perpecahan. Ini juga sedang masa transisi, pengalihan pemerintahan. Jangan sampai presiden yang baru sibuk mendamaikan hal ini. Di awal-awal masa kepemimpinan, PR masih menumpuk. Jangan sampai presiden malah sibuk untuk mendamaikan. Ini bukan masalah Agus dan Batubara, tapi ini antar mantan presiden dan mantan presiden. Kalau dilihat publik kan gak enak juga. Kalau memang ada masalah pribadi, gimana kita selesaikan secara pribadi. Saya tanggapi lewat dalam, saya inbox dia. Saya punya hak jawab. Hak kan berarti kalau kita mau menggunakan tidak apa-apa dan tidak digunakan juga sah-sah saja. Begitu kan? Artinya, saya boleh untuk menjawab, boleh tidak. Ini bukan kewajiban jawab, tapi hak jawab. Akhirnya saya pilih jawab secara pribadi. Kalau memang harus kumpul, kita evaluasi bersama.

Ada pesan-pesan untuk Masisir?

Kalau untuk kawan-kawan Masisir ke depan:

Pertama: Mari kita lebih aktif ke depannya. Dalam artian, tingkatkan akademisi dan produktifitas kita. Tunjukkan inilah wajah Masisir yang sesungguhnya. Kalau ada yang bilang kemarin kita dibatasi, batas-batas itu sudah terbuka sekarang. Mari kita lampaui batas-batas itu. Kalau butuh bantuan, PPMI akan sangat welcome untuk membantu. Kedua: Ayo kawan-kawan kita sama-sama harus bijak dalam menggunakan media sosial. Karena yang kita bawa nama nanti adalah almamater kita, al-Azhar. Kita ke depan ialah orang yang akan menjadi suri tauladan minimal di daerah kita masing-masing, dan ini akan menjadi rekam jejak kita. Setidaknya kalau kita tidak sayang dengan kelompok kita, kita sayang pada diri kita sendiri, pribadi kita. Karena masyarakat itu mudah untuk men-judge.

Ketiga: Kita harus berpikir ke depan, bangsa kita. Bagaimana kita bisa berjuang untuk hal-hal yang lebih. Jangan sampai kita disibukan dengan masalah internal. Selain itu, percaya pada pemimpin yang ada. Karena seluruh pemimpin, siapapun itu akan memberikan yang terbaik kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Harapan untuk presiden yang baru?

Pertama: Untuk bisa menyatukan langkah kabinet. Karena kabinet adalah bahan bakar kita. Pupuk kekompakan yang menjadi motor penggerak pemerintahan.

Kedua: Selalu percaya diri bahwa bukan beliau saja yang bekerja, tapi ratusan bahkan ribuan kawan-kawan Masisir siap untuk membantu beliau bekerja.

Ketiga: Untuk presiden dan kabinet beserta seluruh menteri supaya dilancarkan dan diistiqomahkan. Selain itu juga pembentukan karakteristiknya ada. Istilahnya, bukan hanya mendapat lelah saja, tapi input dan outputnya ada. Ada pembentukan karakteristik di sana. (pandu/kaha/am)

Tentang admin

Lihat Juga

Final CCL, Munculnya Juara Baru

Kairo, kswmesir(6/9) – Akhirnya gelaran Cempe Champions League(CCL) berakhir dengan anti klimaks. Barcelona yang mengirimkan …