Home / masisir / Akhir Dari Perseteruan Ruwaq Azhar dan Atdik

Akhir Dari Perseteruan Ruwaq Azhar dan Atdik

Kairo (19/12) Puncak dari pertemuan yang melibatkan Ruwaq Azhar dan atase pendidikan KBRI Kairo di konsuler KBRI, Sabtu, 13 Desember kemarin adalah komunikasi via telepon antara Dr. H. Fahmy Lukman, M. Hum., dan Muhammad Hidayatullah, atau yang biasa disapa Hidayat, selaku senior dan salah satu founding father Ruwaq. Tim kswmesir.org berhasil mendapatkan rekaman pembicaraan antara keduanya, dan berikut transkip rekamannya.

Pak Fahmy : Halo, Assalamu’alaikum. Ini Fahmy.

Hidayat : Ya pak, gimana?

Pak Fahmy : Ini saya sudah bicara sama Zulfikar.

Hidayat : Ya, ya pak, gimana?

Pak Fahmy : Ini berkaitan dengan buku.

Hidayat : Iya pak, gimana?

Pak Fahmy : Kita sejak awal, saya ingin ketika buku itu dicetak, yang awalnya kan mau kita cetak dua ribu, kemudian saya bilang seribu saja dulu, nanti kita bagikan semuanya kepada adik-adik mahasiswa, begitu kan?

Hidayat : Ya gimana kalau……, sebenarnya kesepakatannya sama teman-teman Ruwaq gimana awalnya?

Pak Fahmy : Ya awalnya kan ini memang ada kesalahmengertian (kesalahpahaman -red) ini, saya dengan Zulfikar, yang persepsi saya itu, buku itu biar Atdik yang cetakkan semuanya, yang tadinya dua ribu saya katakan supaya seribu saja dulu untuk tahun ini. Dan itu buku bisa dicetak untuk bisa dibagikan kepada mahasiswa baru, kemudian juga dibagikan untuk teman-teman kekeluargaan, PPMI, kemudian perpustakaan yang ada di Wisma, dan beberapa organisasi-organisasi kemahasiswaan yang lainya, gitukan? Nah, makanya saya bilang udah, dicetak sama Atdik deh. Biar saya yang membiayai. Gitukan? Lah kemudian nanti tahun depan, saya bilang kalau memang teman-teman Ruwaq akan buat buku lagi,  saya bilang usul dua deh nanti. Kalau ini kan berbicara mengenai manhaj Al-Azhar, nanti tahun depan kita cetak dua judul buku yang lanjutannya, yang sesudah manhaj, nanti maroji’-nya, kemudian apa lagi gitu. Itu yang saya faham. Dan itu kita cetakkan mungkin tahun depan dua ribu-dua ribu, misalnya. Tapi itu semuanya untuk adik-adik mahasiswa Indonesia kita yang ada di Mesir ini, dibagikan gratis gitu lho.

Hidayat : Maaf pak, keuntungan bagi kita apa pak?

Pak Fahmy : Nah, keuntungannya, tulisan-tulisan itu kan dipublikasikan, dicetakkan, gitu.

Hidayat : Enggak pak, maksudnya, awalnya kita ngarang buku itu bukan untuk digratiskan. Kita ingin berkarya, juga ingin untuk membiayai organisasi kita.

Pak Fahmy : Ya, saya baru mengerti barusan, begitu lho, baru mengerti itu barusan, tidak sebelum-sebelumnya, sebab kalau konteksnya adalah untuk diperjualbelikan, maka tidak mungkin saya membantu, begitu.

Hidayat : Jadi logikanya gini pak, kenapa kami lima ratus nggak mau? Sekarang  coba bapak pikir kenapa kami lima ratus nggak mau? Karena kalau lima ratus, akhirnya dibagikan, nggak ada untung untuk Ruwaq, ya percuma lah, kami mending jalan sendiri.

Pak Fahmy : Artinya kalau gitu, sejak awal harus dikomunikasikan bahwa memang buku ini tujuannya untuk dijual, gitu.

Hidayat : Awalnya di depan sudah dibilang cuman bapak kurang perhatian.

Pak Fahmy : Loh, kalau tujuannya untuk dijual maka tentu saya tidak bisa berkomitmen untuk itu.

Hidayat : Ya sebenarnya kerja sama ini kan rencananya lima ratus itu untuk anak baru kita gratiskan, sisanya dihibahkan ke Ruwaq terserah mau diapakan sebagai modal awal, itu bayangan kami pertama. Logika ini, kenapa kami tidak mau lima ratus, karena tidak ada (keuntungan) untuk Ruwaq-nya.

Pak Fahmy : Gini, gini, makanya sudah saya sampaikan  kepada Zulfikar kalau kemudian Ruwaq hendak (meminta bantuan) berkaitan dengan produksi-produksi, ajukan proposalnya kepada kita, kita biayai, kita danai untuk itu.

Pak Cecep : Coba sama saya, assalamualaikum, Yat, ini saya Cecep (Cecep Taufiqurrahman –red). Gini, jadi kita sudah dengar semua dari Zulfikar bahwa maksudnya antum menjual itu kan untuk membiayai kegiatan-kegiatan Ruwaq ke depan.

Hidayat : Bukan hanya kegiatan, infrastruktur…….

Pak Cecep : Ya pokoknya kegiatan, pokoknya meliputi infrastruktur, tidak ada infrastruktur bagaimana ada kegiatan. Jadi gini, tadi pak Atdik sudah menyampaikan, komitmen beliau ini sudah besar untuk membesarkan Ruwaq dan ingin membantu Ruwaq, bukan hanya ingin menerbitkan satu buku ini, terkait dengan kegiatan-kegiatan dan apapun kebutuhan Ruwaq ke depan, coba nanti kalau misalnya Ruwaq ada kebutuhan, baik kegiatan ataupun apa, bisa disampaikan oleh antum atau pengurus, di KBRI. Nanti beliau akan membantu. Jadi pengen-nya pak Atdik, kawan-kawan itu sekarang tidak disibukkan oleh hal-hal menghitung uang, menjual buku dan segala macam, pengen-nya Ruwaq itu fokus di substansi. Antum sebagai “tingteng” sekaligus agen yang menyebarluaskan misi Al-Azhar, jangan kemudian disibukkan dengan hitungan receh lima ratus pounds, dua ratus pounds, tiga ratus pounds, itu bukan “domain” kita. Jadi pak Atdik itu fokus betul di substansi bagaimana untuk menjadi agen penyebaran misi Al-Azhar ini secara luas, dan tidak harus direpotkan dengan hal-hal begitu.

Hidayat : Saya paham pak.

Pak Cecep : Terus?

Hidayat : Sekarang visi-misi kita ini adalah, kita membutuhkan komputer dengan kapasitas yang baik, dan kamera DSLR yang baik untuk membuat video, apakah ada komitmen? Saya minta komitmen. Ini kita sekarang membutuhkan sekitar tujuh ribu pounds, apakah ada komitmen dari Atdik membantu teman-teman Ruwaq untuk membeli alat-alat itu?

Pak Cecep : Sebentar, itu kegiatannya untuk apa?

Hidayat : Kita mau membuat video, membuat film berkaitan dengan Al-Azhar dan talaqi, kita membutuhkan alat-alat yang milik kita.

Pak Cecep : Saya paham antum butuh perlengkapan itu. Begini, jangan kemudian Ruwaq ini dijadikan kayak production house. Kalau misalnya antum nanti mau buat film, buat shooting, bisa kita carikan kerjasama , KBRI punya kamera, iya kan? Kan perlu dibicarakan, jangan antum berfikir Ruwaq ini menjadi tempat pembuatan film kayak production house, itu sudah bukan lagi tempat diskusi, sudah bukan lagi tempat penyebaran misi Al-Azhar. Kalau misalnya mau membuat film, itu bagus, tapi tidak harus menjadi beban sendiri bagi Ruwaq, gitu lho, beban Ruwaq itu bukan untuk itu kalau menurut saya.

Hidayat : Sekarang saya minta komitmen!

Pak Cecep : Soal komitmen itu, tadi sudah disampaikan oleh pak Atdik.

Hidayat : Sebentar dulu, sebentar dulu, jadi untuk operasional mau enggak Atdik menjadi donatur tetap untuk Ruwaq?

Pak Cecep : Tadi sudah disampaikan ke Zulfikar dan teman yang antum utus ini, beliau insyaallah akan membantu, ya kan? Cuman kalau misalnya untuk donatur, KBRI bukan lembaga donator. Tetapi, yang akan dibantu oleh KBRI adalah kegiatan-kegiatan Ruwaq yang mendesak dan sangat penting untuk pengembangan misi Ruwaq kedepan. Nah, itu pak Atdik sudah memberikan komitmen. Tapi kalau misalnya menjadi donatur tetap, ini bahasa-bahasa menurut saya tidak pas ini, untuk lembaga ikhlas kayak kita ini, jadi tidak pantas keluar kata dari antum sebagai penasehat Ruwaq.

Pak Fahmy : Gini saja mas, sudah selesai ya, yang jelas terserah antum, terserah mau diapakan, bagi saya komitmennya sudah selesai, yang jelas ini keputusan saya. Artinya saya sudah mengerti posisi sekarang. Buku itu mau diapain, mangga, terserah, saya sudah angkat tangan. Karena niat saya baik, untuk kemudian membesarkan teman-teman, tapi kalau teman-teman sudah tidak mau dibesarkan ya enggak apa-apa , saya akan membesarkan yang lain, itu komitmen saya.(kim)

Tentang admin

Lihat Juga

Mahasiswa Pascasarjana Asal Jawa Tengah Raih Gelar Magister Usul Fikih

Mahasiswa pascasarjana jurusan Usul Fikih, Ahmad Munafidzul Ahkam  meraih predikat Jayyid Jiddan pada sidang tesis …