Home / KSW NEWS / SEPUTAR KSW / Akhirnya Legenda KSW Ini Bisa Move On

Akhirnya Legenda KSW Ini Bisa Move On

3

Kairo, kswmesir.org (14/7) – Dua senior KSW, Landy Trisna Abdulrahman dan Aan Amiruddin Prima, telah bertolak ke tanah air, kemarin, Minggu, 12 Juli, dini hari waktu Kairo. Mereka telah berhasil menyelesaikan studi, yang kemudian disambung dengan keputusan mengakhiri kiprahnya di negeri miniatur bernama Masisir.

Mengingat sepak terjang mereka berdua yang dianggaap telah meninggalkan banyak jejak dan kenangan indah, baik dalam KSW sendiri, maupun di Masisir secara keseluruhan, satu bus dan dua mobil turut mengantarkan mereka ke bandara, bahkan sebagian besar para pengantar rela berramai-ramai makan sahur di tengah halaman bandara, dengan bahan makanan yang ala kadarnya.

Terlepas dari hal itu, kedua aktivis ini memang telah sekian lama malang melintang di kancah Masisir. Siapa tak kenal Landy T. Abdulrahman, seorang pejuang media yang telah banyak mengusut berbagai permasalahan, mengurainya, lantas menawarkan formula-formula yang solutional. Melalui media lah, ia banyak melahirkan karya-karya yang cukup penting untuk dijadikan rujukan bagi generasi selanjutnya. Namun tak jarang, sifatnya yang blak-blakan dapat membuat telinga menjadi merah, dengan kicauan pedasnya. Hal ini bahkan diakui sendiri oleh Landy di acara seremoni perpisahannya, Sabtu 11 Juli, malam.

“Saya akui, saya memang orang yang suka membuat masalah dimana-mana, saya suka bikin onar. Maka dari itu saya minta maaf kepada semuanya, tanpa menggunakan alasan apapun, pokoknya saya minta maaf,” tandasnya.

Demikian juga Aan Amiruddin Prima. Selain piawai dalam urusan dapur, Coh’an, begitu ia kerap disapa, adalah legenda di jagad persepakbolaan Masisir. Ia merupakan salah satu palang pintu pertahanan yang paling ditakuti lawan. Bersama Walisongo FC, Coh’an turut merasakan prestasi super manis, yakni menjadi kampiun turnamen Jawa Cup sembilan kali berturut-turut. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, pemuda asal Blora ini didapuk sebagai kapten tim, sehingga namanya kerap kali digaungkan melalui yel-yel yang dinyanyikan suporter. Selain itu, ia juga dikenal sebagai sosok yang kritis, dimana ia sering menyisipkan pesan atau sindiran melalui statusnya di Facebook.

Dalam sambutan di acara wada’annya, Coh’an menegaskan bahwa kepulangannya bukan diartikan sebagai sebuah perpisahan abadi. “Saya di sini bukan untuk say good bye, tapi untuk say see you next time,” selorohnya, yang langsung disambut tepuk tangan para tamu yang hadir.

Sedangkan Landy, dalam sambutannya menegaskan bahwa ia telah bertekad untuk move on dari Masisir. “Selama dua tahun saya gagal move on, mungkin karena banyak yang mendoakan agar saya lebih lama lagi, agar saya nggak cepat-cepat pulang, entah, maunya apa orang-orang ini.” Faktanya, memang banyak orang yang mengharapkan Landy untuk stay lebih lama lagi di Mesir, karena jasanya yang masih sangat dibutuhkan.

“Namun tidak untuk saat ini. Semoga untuk kali ini saya bisa benar-benar move on,” Lanjutnya.

Duo veteran ini akhirnya meninggalkan bumi kinanah seiring pesawat yang lepas landas pada pukul 03.30 dini hari. (kim)

Tentang admin

Lihat Juga

La Decima:10 Komentar Walisongo

Pagelaran Jawa Cup XIV memang telah berakhir. Namun, euforia La decima Walisongo FC masih terasa …