Home / ؞ Opini / Antara Agama, Tuhan dan Iman

Antara Agama, Tuhan dan Iman

Oleh: Sendra Kurniawan

Seseorang pernah bertanya kepada Gandhi, “bila hanya ada satu Tuhan, tidakkah seharusnya hanya ada satu agama saja?” Gandhi –menurut kisah Louis Fischer— menjawab, “sebatang pohon mesti punya sejuta daun. Ada banyak agama sebagaimana ada banyak pria dan wanita, tapi semua mesti berakar pada satu Tuhan.” Kiasan yang dipergunakan Gandhi barangkali tidak tepat, tetapi siapa yang hidup di India, yang tumbuh dengan pengalaman India, akan memahami mengapa tanya jawab yang demikian bisa terjadi.

India, kata Nehru –seorang pejuang kemerdekaan dan pembangunan tanah air yang sulit ini— merupakan sebuah negara yang berisi semua hal yang memuakkan dan semua hal yang luhur. Beratus-ratus tahun negeri ini memang tak putus-putusnya menyaksikan apa yang indah dari perjalanan spiritual manusia. Tapi pada saat yang sama ia juga menyaksikan bagaimana jutaan orang ganas mengganasi orang lain atas nama agama yang berbeda, semisal penghangusan bumi Ayodya. Maka apa desain Tuhan dengan semua ini? Apa ge-rangan Iradah-Nya?

Banyak mungkin jawaban yang bisa diberikan, tapi satu hal yang jelas: kita tak bisa mengatakan bahwa Tuhan mengutuk manusia dengan memberinya pelbagai iman dan kepercayaan, tetapi kita juga tak bisa menyimpulkan bahwa dunia menjadi tempat yang berbahagia karena itu. Kitapun tahu seorang Jawaharal Nehru, ia adalah orang besar dan tidak beragama. Tetapi ironisnya, ia mati dan dikubur dalam upacara keagamaan. Ada yang menuduh, bahwa upacara berwarna agama itu tak sesuai dengan pandangan pemimpin yang sosialis dan sekuler itu. Tetek bengek itu hanya untuk mengipas emosi rakyat. Tapi ada juga yang mencela, bahwa perjalanan terakhir tokoh India itu justru melanggar ritus agama. Padahal ia lahir sebagai seorang agamawan. Ini tentu bukan cuma karena masa kecilnya sehingga Nehru bersikap demikian dan juga bukan karena latar belakang pendidikannya di Inggris, tempat ia mendapatkan eksakta dan sosialisme. Tapi karena justru India yang membentuknya. Inilah negeri dimana bentrokan bisa panjang dan berdarah antara penganut Islam dan orang Hindu. Maka tak sukar menebak dimana sebenarya Nehru mempertaruhkan harap, karena ia tak pernah punya respek terhadap agama-agama yang berkembang disana. Tetapi untung bagi agama-agama yang ada di India akan merasa lega bahwa India didirikan bukan oleh Nehru seorang. Disanapun masih tersisa Gandhi –seorang tokoh jenis lain dalam cerita sedih ini juga menderita oleh serangkaian bentrokan antar umat. Namun ia seorang religius yang sanggup berkata dengan tulus, “rasa hormatku kepada iman yang lain terhadap agamanya, sama seperti kepada imanku sendiri terhadap agamaku.”

Diantara bangsa-bangsa Asia Selatan dan Timur pada umumnya, Indialah yang berbeda dalam skala ini. Barangkali karena itulah banyak pemikir agama yang lahir dari dilema dan kompleksitas hidup dalam keanekaragaman iman itu dan turut menjadi sebab akan tahunya arti berendah hati.

Beberapa tahun yang lalu seorang metodis muda yang mengajar agama di Kandi, sebuah kota di perbukitan Sri Langka tengah. Dimana di dalamnya pernah mendiskusikan sebuah perayaan Hindu yang akan diselenggarakan di kampus mereka. “Kami biasanya tak pergi ke perayaan itu, karena kami tak menyembah Tuhan Hindu itu” ujar seorang mahasiswa. Sang guru pun bertanya, “jadi maksudmu ada Tuhan Hindu yang berbeda dengan Tuhan Nasrani dan Tuhan Islam?” Mahasiswa itu menjawab, setelah agak bingung, bahwa ia tak tahu. Sang guru yang kemudian di tahun 1985 menerbitkan bukunya The Bible and People of Other Faiths, mengambil anekdot itu sekaligus mempersoalkan: ada berapa banyak Tuhan sebenarnya di alam semesta ini? Adakah tempat untuk satu Tuhan Nasrani, satu Tuhan Hindu, satu Tuhan Yahudi dan satu Tuhan Islam?

Bagi Wesley Arirajah –sang guru itu— jawabannya adalah jawaban monotheis sejati: jelas hanya ada satu Tuhan. Injil, kata Arirajah, dimulai dengan kisah genesis, penciptaan kosmos bukan penciptaan gereja, bukan pula penciptaan tanah Israel. Sayangnya, demikian kritik Arirajah kepada sebagian pemikiran Nasrani, Tuhan telah dijadikan Tuhan suku, bukan Tuhan segala bangsa, segala umat. Dan dalam Christian’s theology di sana ada keharusan untuk membiarkan Tuhan menjadi Tuhan. Teologi itu seharusnya memiliki Tuhan, seperti kita memiliki seonggok milik pribadi. Kita tak bisa memagari Tuhan dengan mengatakan: “Nah, jika kau ingin mengenal Tuhan, datanglah melalui pintu ini.” Maka dalam hal ini kita tak memiliki Tuhan, Tuhanlah yang memiliki kita dan Tuhan pulalah yang memiliki seluruh ciptaan. Sebagaimana kalangan Islam mengimaninya.

Namun walaupun terbitan bukunya laris di luar, ia pun menyebutkan kesulitan penerjemahan kedalam bahasa Indonesia yang ter-ganjal kalangan Dewan Gereja Jakarta. Dari situ kita bisa membayangkan betapa tidak mudahnya pemikiran keagamaan yang liberal untuk berkembang di Indonesia dari kelompok agama manapun. Sebagaimana yang dilakukan Arirajah yang menghormati imannya seorang Islam terhadap Tuhan semesta alam yang mereka imani. Dan dari ketidakmudahan itupun kita bisa melihat banyak umat Islam yang tak senang dengan catatan harian almarhum Ahmad Wahib yang pernah diterbitkan dan kini tak dijual. Banyak pula yang curiga dengan pemikiran Nurcholis Madjid dan tak tentram dengan pendapat Abdurrahman Wahid. Banyak pula dari kalangan Katholik yang merengut ketika membaca kritik MAW Brouwer dan menjadi panas ketika membaca analisa YB Mangunwijaya. Kisah inipun bisa ditarik panjang sampai ke Mesir dimana orang bisa saja curiga terhadap karya-karya kontroversial Hasan Hanafi, ide-ide Sayyed Thanthawi, bahkan terhadap seorang Muhammad Abduh sekalipun.

Maka di India, Gandhi memang tak selamanya didengar. Reaksi terhadap keanekaragaman agama tak selamanya reaksi meluaskan wilayah rohani. Padahal, di inti spiritual yang paling dalam, iman adalah iman yang rindu dan berani, bukan karena cemas dan perasaan kehilangan kebenaran absolut. Tetapi di jaman ini kita hidup dengan terlalu banyak rasa waswas. Dan di India sendiripun Gandhi ditembak mati oleh seorang fanatikus Hindu di tahun 1948, yang khawatir sang Mahatma terlalu memberi hati kepada umat Islam. Dan kita tambah semakin tahu betapa bisa mengerikannya keyakinan manusia. itulah sebabnya ketika Nehru mati tahun 1964, ia tak berbisik seperti Gandhi: “O, Ram (ya Tuhan YME)” Tuhan kita semua merasa kehilangan ketika persaudaraan digugurkan oleh fanatis dan kebencian. Tapi apa yang diketahui manusia? Hanya rasa keraguan dan kebencian.

*Pernah dimuat di PRESTASI No.13 Vol. II Th. V Juli 1997

Tulisan ini telah mengalami beberapa perubahan redaksi karena unsur penyelarasan EYD sekarang, tanpa mengubah maksud isi tulisan.

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …