Home / ؞ Opini / Antara Isu, Fakta dan Penafsiran-Penafsiran; Berkaca pada Gerak Media Populer di Indonesia*

Antara Isu, Fakta dan Penafsiran-Penafsiran; Berkaca pada Gerak Media Populer di Indonesia*

Demikian. Isu-isu adalah konsumsi publik yang paling diminati. Entah kenapa orang-orang begitu menyukai kisah-kisah, terutama yang menarik perhatiannya. Tentu saja. Mungkin memperbincangkan sesuatu adalah hal yang paling menyenangkan dalam kondisi psikologis manusia. Semakin pelik sebuah isu, semakin banyak peminatnya. Maka dengan memahami hal tersebut, permainan isu dapat menjadi rumus dasar bagi seorang yang menekuni dunia jurnalistik. Yang tersisa hanya bagaimana ia memilih menjalani kehidupan jurnalistik-nya, tujuan apa yang hendak diraih, kata-kata apa yang ingin dirangkai, lalu akibat apa yang akan ditanggung. Baik olehnya sebagai jurnalis maupun masyarakat sebagai pembaca.

Beberapa waktu lalu, pada salah satu stasiun televisi Indonesia yang populer, saya menyaksikan sebuah reportase visual berita tentang Muktamar NU. Ketika hangat-hangatnya tema tersebut, tentu pewartaannya tersebar dimana-mana. Salah satunya kabar angin terkait pengukuhan majunya Gus Solah sebagai salah satu kandidat Rais Tanfidzy PBNU. Ada satu hal yang aneh, narator dalam liputan berita tersebut menyampaikan bahwa Gus Solah mengakui ada campur tangan money politic dalam pemilihan Rais Tanfidzy baru, bahkan beliau sendiri ditawari sejumlah uang yang sangat banyak agar mundur dari pemilihan. Tentu penyampaian ini akan menimbulkan banyak pertanyaan dan kecurigaan pada pihak-pihak tertentu. Kemudian diperdengarkan bagaimana redaksi Gus Solah tentang perihal money politic sebagai sumber referensi pewartaan narator tadi. Beliau menyampaikan himbauan kepada segenap warga NU, khususnya yang terlibat di Muktamar secara langsung maupun tidak, untuk menghindari money politic. Begitu saja. Sebagai pembaca dan pendengar yang baik, kita harus memperhatikan betul apa yang kita baca dan kita dengar. Ada sesuatu yang janggal kah? Bila dicermati antara redaksi asli Gus Solah dengan penyampaian narator ada ketimpangan. Penyampaian narator agaknya dievolusi sedemekian rupa dari redaksi aslinya. Bukan masalah fakta atau tidaknya hal tersebut, namun dengan opini yang tersampaikan, cukupkah kita hanya mendengar redaksi yang hanya berupa himbauan, tidak ada pengakuan sama sekali? Tentu tidak.

Mari tanya diri masing-masing, sejauh mana seorang jurnalis perlu menganalisa sebuah informasi dan meleburnya menjadi tafsiran-tafisran―yang seringkali―kemana-kemana. Sikap yang harus diambil mesti fair terlebih dahulu sebelum menghakimi. Terlebih terkait adanya tuduhan, maka perlu sumber redaksi yang minimal secara makna saling berhubungan. Salahkah menyampaikannya demikian? Kembali pada kepentingan masing-masing kelompok, yang tidak dapat dipungkiri lagi kebutuhannya. Untuk tidak bersikap naif dan ditinggalkan, anggap saja kepentingan adalah hal yang sewajar-wajarnya.
Maka, cukup jelas bagaimana media di sini bermain. Di bawah otoritas sebuah kelompok, media bertugas menggiring opini publik sesuai dengan kepentingan yang dibutuhkan. Bisa jadi, kelompok atau media menginginkan publik berpikir bahwa sebuah kelompok menyuap Gus Solah agar tak jadi mencalonkan diri, hanya saja dengan redaksi yang pas-pasan dan jauh dari informasi yang ingin diopinikan. Atau juga hanya sekedar bertujuan meramaikan media sosial dan mendapat perhatian sebanyak-banyaknya. Komersial.

Dari situ, kekhawatiran-kekhawatiran akan segera bermunculan. Secara tidak langsung akan tersimpulkan bahwa setiap saat demikian lah yang terjadi. Bahkan untuk sebuah fakta, selalu ada opini egois yang disematkan agar fakta yang dinginkan lebih dipercaya ketimbang fakta yang sesungguhnya terjadi. Mungkin, ini merupakan sebuah rahasia umum yang tak menarik dibincangkan, siapa yang tak tahu hal tersebut? Akan tetapi menetapkan pandangan dan sikap adalah bijaksana. Pelurusan paradigma pada ketimpangan fungsi jurnalistik seharusnya ditanamkan sejak para jurnalis masih amatir dan terkejar hanya oleh deadline, bukannya bayaran. Maka sikap kita adalah meyakini bahwa sharing tulisan bukan sekedar menghitung berapa jumlah viewer, harap-harap cemas tidak ada yang peduli dan berlalu begitu saja.

Seperti ungkapan Budi Setiyono pada tulisannya ‘Bukan Rosihan Biasa’; “Tugas surat kabar atau media adalah menghibur mereka yang sengsara dan mencambuk mereka yang keenakan.” Mungkin merupakan ungkapan yang tepat untuk menindaklanjuti penyalahgunaan media sebagai alat komersial. Meski sedikit naif, mesti diakui perihal media dipandang sebelah mata oleh karena ketidak-seriusannya mengeksekusi kerjaannya. Terkadang terlalu lemah, terkadang terlalu salah. Terlebih masuk ke ranah tuduhan boneka kepentingan suatu kelompok. Sebagai jurnalis yang sedang berusaha untuk mempertahankan kemurnian tugas media, seperti yang terjadi di lingkungan Masisir sendiri, kita alangkah tidak adilnya disamaratakan dalam penilaian.

Di tanah air, sulit bagi masyarakat untuk merujuk pada sumber berita yang pada akhirnya tidak memunculkan perdebatan kusir. Isu-isu sekedar makanan ringan yang terbeli begitu mudah oleh pembaca. Sedang fakta, bukan lagi barang mahal, bahkan langka untuk diperoleh. Pertautan antara isu-isu dan fakta-fakta yang sering berbenturan melahirkan banyak penafsiran-penafsiran yang kelewat beragam. Maka, bagaimana persatuan dapat diraih bila kondisi per-media-an sedemikian kritis.

Bagaimanapun, ini hanyalah pembacaan sementara penulis, penafsiran-penafsiran―yang bisa jadi―kemana-mana. Namun, kesadaran terhadap kekuatan murni jurnalis yang berkutat pada validitas fakta dan intensitas opini harus ditanamkan betul-betul. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang memalukan bagi dunia media seperti kasus di awal, yang semoga hanya kali itu saja atau hanya media populer itu saja. Rating memang penting, sebab bagaimana suara kita tersampaikan adalah bergantung pada marketting-nya. Namun apalah artinya, berdesak-desak mengejar popularitas, jika hanya berakhir lembaran-lembaran kertas. Manusia tidak se-simple itu, bukan?[]

Fadhilah Rizqi
*Tulisan ini telah diterbitan pada Buletin PRESTâSI Edisi 104, September 2015 pada rubrik Analisa Nusantara.

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …