Home / masisir / Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (1)
Dr. Jonas Mycah

Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (1)

Prof. DR. Judith Schlehe:

Pada era selepas tahun 2000-an, mungkin sedikit ke belakang juga sebelumnya, ketika mengkaji antropologi budaya, nama Profesor Judith Schlehe tak bisa tidak harus kita anggap penting dan primer. Utamanya, diskursus antropologi budaya pada berbagai wilayah Asia Tenggara, khususnya, Indonesia. Terlebih, sejak 2004, Prof. Judith menginisiasi pertukaran mahasiswa-mahasiswi UGM dan Freibuerg dalam bentuk kerjasama yang setara dan bersaling-membutuhkan. Tak ada yang dominan satu sama lain.

“… Gagasan yang ada di belakangnya agar para mahasiswa belajar bekerjasama sebagai mitra yang sejajar. Artinya, tidak seperti yang biasanya, dimana dalam proyek kerja lapangan pembimbingan mahasiswa asing dilakukan oleh asisten lokal, melainkan mereka harus bekerja sama sebagai mitra pertukaran,“  tutur beliau dalam salah satu wawancara beliau pada situs http://www.dw.de/ [penulis unduh pada tanggal 17 Desember 2014, pukul 10.48 clt]

Pada awal Desember 2014 ini, beliau mengunjungi Kairo-Mesir dalam rangka proses penelitian tentang budaya akademik dan menelaah kerja sama akademik secara Internasional. Hal ini, dalam diskursus ilmu sosial, sebagai bagian evaluasi dan refleksi bagaimana alumni di Asia Tenggara yang masih pada usia produktif mampu menggunakan waktu produktifnya secara baik; atau dibatasi oleh konteks yang lebih luas yaitu budaya saling kerjasama, variasi imajinatif yang mengalir dari ide dan ideologi, serta ketidak-setaraan struktural. Pertanyaan epistemologis dan metodologis akan berkaitan dengan praktek-praktek dialogis dan disandingkan dengan pendekatan post-kolonial untuk menentukan nasib mereka sendiri. Berdasarkan penelitian lapangan antropologi dan kajian sebelumnya, fokus utama bagaimana para alumni [sarjana itu] kembali, setelah belajar di luar negeri (“migran akademis” ke Barat, dunia Arab atau negara-negara Asia asing), re-integrasi alumni dan universitas, serta kolaborasinya secara Internasional.

Namun, pada beberapa penelitian Prof. Judith sebelumnya, lama sekali beliau berkecimpung dalam diskursus antropologi Jawa. Sesuai pengakuan beliau pada wawancara media online kswmesir.org, “…Dulu ketika saya masih muda, mungkin paling dipengaruhi oleh feminisme. Karena itu sesuatu yang baru pada waktu itu. Sekitar tahun 70-an. …  dari feminisme inilah, kemudian saya mulai mengkaji Ratu Kidul di Jawa.” Beberapa karya beliau yang masyhur, pada buku “Religion, Tradition and the Popular” [Translating Traditions and Transcendence: Popularized Religiosity and the paranormals’ Position in Indonesian Society], “Anthropology of Religion: Disasters and the Representations of Tradition and Modernity”, “Cultural Politics of Representation in Contemporary Indonesia” dan masih banyak berbagai tulisan beliau yang tidak mampu kami tuliskan secara detail di sini.

Pada kesempatan berharga ini, Kswmesir.org, mewawancarai antropolog senior dari Universitas Freibuerg, Jerman, Prof. Judith Schlehe. Berikut wawancaranya:

(kswmesir.org) Merujuk pada penelitian Ibu, Ibu banyak meneliti dan mempelajari Indonesia secara antropologis. Terutama Jawa. Dalam perspektif antropologi budaya, apa yang menarik dan perlu direspon secara baik atau mungkin ada ekspresi yang perlu diperkaya, dan bisa kita jadikan pembelajaran? Apalagi teman-teman mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Mesir, khususnya yang berasal Jawa, kami butuh mengetahui betul kondisi realitas sosial terkini tentang masyarakat itu.

(Mrs. Judith) Sebelumnya saya mohon maaf, saya orang asing. Jadi yang lebih tau tentang Jawa atau tentang Indonesia adalah kalian. Tapi kadang-kadang perspektif dari luar beda dengan masyarakat sendiri. Maka saya sangat senang sekali ketika ada orang Indonesia datang ke Freibuerg, kota saya. Karena mereka melihat sesuatu yang kami menganggap biasa saja, nggak perlu diteliti karena sudah jadi keseharian. Jadi, orang dari luar sering bertanya sesuatu yang menurut orang asing tidak menarik. Tapi lama-lama menjadi menarik juga. Karena ketika kita hidup di suatu lingkungan tertentu, kita tidak begitu sadar dengan banyak hal-hal apalagi dari budaya, komunikasi, sopan santun. Kita sendiri tidak begitu tahu, yang dari luar, kok…, heran kenapa begitu(?) Dan baru kita mulai bertanya kepada diri sendiri atau diskusi dengan teman-teman. Saya rasa itu manfaat dari antropologi. Bahwa kita meneliti di lingkungan yang berbeda dari lingkungan sosial dan, sampai, budaya kita sendiri. Dan saya sudah lebih dari 30 tahun melakukan penelitian di Jawa. Ada beberapa topik penelitian yang agak beda.

Pertama, adalah penelitian yang cukup lama, Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul. Karena pada saat itu, saya masih muda. Saya pikir, kok bisa di negara dengan mayoritas Islam ada tokoh perempuan yang dianggap penting untuk alam gaib dan alam spiritual. Apalagi saya lihat malam Jum’at Kliwon banyak orang yang membawa sesajen ke pantai selatan, mereka kebanyakan muslim. Ada yang Kristen, ada yang Tionghoa, Konghuchu, bermacama-macam, tapi kebanyakan muslim. Dan ada cukup banyak yang sebelum turun ke pantai Parang Kusumo, mereka ke makam syekh Maulana Magribi dan syekh Belabelu. Cukup banyak orang-orang yang berdoa disana dulu, terus turun ke pantai bawa sesajen minta sesuatu dari alam gaib di sana. Jadi tampaknya, hal itu tidak seharusnya menjadi kontradiksi untuk mereka dan itu bagi saya sebagai antropolog menarik sekali. Jadi saya mulai meneliti tentang hal itu, apakah ini menarik atau tidak menurut kalian?

(kswmesir.org) Wow, menarik sekali.

(Mrs. Judith) Kemudian, lama-lama saya lihat, topik itu (Kanjeng Ratu Kidul) muncul versi yang bermacam-macam sekali dari orang-orang. Baik orang kota, orang desa, atau dari orang berpendidikan tinggi, atau orang miskin dengan pendidikan rendah. Banyak versi, dan selama hidup saya dapat mengumpulkan banyak versi itu. Tapi lama-kelamaan saya lihat bahwa semua, versi tentang alam gaib, dan kekuasaan di dalam Laut Kidul dan yang berhubungan dengan gunung merapi, semua versi mencerminkan pikiran orang dalam berbagai hal.  Ada hal secara politik tentang kepercayaan itu, dari dulu, kepercayaan itu dikaitkan dengan Sultan dan kekuasaan politik di sana. Pada dasarnya itu legitimasi untuk Sultan, dulu. Lama-lama ada demokratisasi dalam hal itu [alam gaib dan Ratu Kidul] juga. Karena sekarang, semua termasuk kita perempuan, semua bisa mencari hubungan. Dulu hanya Sri Sultan yang boleh cari hubungan dengan makhluk halus di laut. Sekarang agak terbuka, karena Sultan sendiri sudah tidak terlalu tertarik. Ini sudah demokratisasi dalam hal itu.

Artinya, semua orang bisa minta apa saja yang mereka perlu dari alam gaib, tidak hanya dari Nyi Roro Kidul tapi mahluk halus lainnya. Tempat-tempat keramat juga. Jadi kapan mereka butuh, terutama bisnis, atau nomor lottery Hal itu mencerminkan tidak hanya kondisi politik tapi ekonomi juga. Banyak juga yang mencari jodoh. Ada banyak yang minta dukungan[bantuan] untuk ujian, tapi juga ada cukup banyak pelacur disana yang minta dan memanfaatkan banyak orang laki-laki dalam waktu Jumat Kliwon, mereka datang ke lingkungan Parang Kusumo itu untuk mencari nafkah untuk mereka sendiri.

Dari praktek itu, ada yang bisa dianggap dasar struktur masyarakat. Ketika ada sesuatu bencana alam, seperti gempa bumi, gempa bumi di Bantul tahun 2006, tidak semua, tapi banyak orang bilang itu sebagai kiriman dari Laut Selatan. Jadi saya sebagai orang asing berani untuk bertanya. Kenapa kok bisa dari dulu kita tahu, bahwa ada perjanjian antara Ratu Kidul dan panembahan senopati selama dia mau melindungi kerajaan Mataram, kok bisa, sekarang bencana ini dari dia? Berarti dia menghancurkan anak sendiri atau tanah Mataram sendiri. Ada banyak lagi penjelasan menginterpretasi sebagai pikiran kritis dari masyarakat, misalnya banyak orang bilang itu karena banyak orang korupsi. Yang terjadi tidak hanya di Bantul, tapi dari Indonesia pada umumnya. Ada juga yang bilang, itu karena alam dihancurkan oleh polusi industri, jadi ada pihak ekologi lingkungan. Ada hal lain yang bilang, karena di Parang Kusumo banyak pelacur, jadi ada dekadensi nilai moralitas. Macam-macam penjelasan. Dan menurut saya itu lambang untuk orang Jawa. Simbol yang dianggap tidak sempurna, kurang bagus, dalam kehidupan masa kini. Jadi, mitos bukan hanya sebagai sesuatu yang kuno, legenda, dari dulu dari Mataram pertama atau lebih dulu dari Majapahit. Itu penting juga. Tapi untuk antropologi lebih menarik, adaptasi masalah kehidupan, problema sosial-politik-ekonomi dan masalah lingkungan pada masa kini.

Jadi semua terkait, terkait dengan ide atau persepsi. Jadi itu bisa diteruskan selama hidup bisa meneliti itu, tentang Ratu Kidul (Nyi Roro Kidul), karena selalu ada versi baru, versi baru secara adaptasi media masa, atau film-film yang menurut saya jelek sekali. Sampai-sampai orang lebih percaya apa yang mereka lihat di film dari pada apa yang mereka dengar dari orang tua. Setelah itu ada beberapa hal penelitian yang jauh berbeda tapi lucunya di Jawa itu muncul lagi di sini belum saya lihat tapi siapa tahu, kalau saya lama disini, saya mengunjungi anda di rumah. Barangkali di sana ada lukisan Nyi Roro Kidul, siapa tahu(?)

(kswmesir.org) Kemudian, bagaimana dengan dinamika Ratu Kidul mempengaruhi pikiran masyarakat? Juga membentuk perilaku masyarakat untuk menafsirkan Ratu Kidul sesuai strata ekonomi dan sosial, semerta ketika berelasi dengan trans-kultural yang berpijak dari budaya lokal, dan multikulturalisme di Indonesia itu. Jadi, di sini bisa dibilang, trans-kultural itulah yang membentuk Indonesia secara antropologis. Bagaimana menurut perspektif ibu?

(Mrs. Judith) Satu sisi, mungkin sedikit lebih lucu, karena ada globalisasi di dunia gaib juga. Misalnya, belum lama saya bertemu dengan salah-satu juru kunci di sebuah gua, dan dia hidup sendirian mungkin sudah 30 tahun, dia sudah sering meditasi, tapi juga sering dapat tamu biasa orang calon politik, yang membutuhkan bantuan. Dan dia bilang: “Judith, belum lama saya hampir mau meninggal.” Dia bilang dalam meditasi saya seperti mau meninggal. Karena ada sesuatu yang terlalu kuat bagi saya, dia di gunung, ada ombak besar sampai di sini dia merasa meninggal. Sampai putus asa. Tiba-tiba ombaknya pergi. Lalu, muncul tokoh tapi bukan Ratu Kidul. Tokoh yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dia adalah seorang Ratu yang menguasai seluruh laut di seluruh dunia, tidak hanya di laut selatan Indonesia. Ratu ini lahir di Nepal. Saya heran, Nepal jauh sekali dari laut, mungkin ibu itu tidak begitu tahu tentang geografi. Dia [sang Ratu] bilang dari sana dia pindah ke Eropa. Dan sekarang, dia menguasai laut di mana mana. Setalah ibu itu sadar lagi dari meditasi, atau dari mimpi, dia merasa dia ada tugas untuk mengasih sesajen kepada tokoh baru itu. Tetapi ibu ini bingung, karena sesajen yang Ratu minta itu keju. Karena sang Ratu lama di Eropa, dan ibu itu hidup lama di hutan. Jadi dia minta sama saya, sebaiknya kamu bawakan. Dan ada lukisan, lukisan dari yang baru ini. Setelah bangun dari meditasi. Entah dari mana tiba-tiba ada lukisan, dan menyuruh saya membawanya ke Jerman agar tidak terlalu berat bagi ibu ini.

Hal itu, mungkin sesuatu yang membuat kita bisa tertawa, karena bagi kita itu sedikit lucu. Tapi saya kira itu sesuatu yang serius. Karena sudah di hutan yang agak jauh dari pusat kota, ada ide bahwa dunia pada masa kini tidak hanya Jawa atau Indonesia atau Asia, sekarang ada globalisasi di mana-mana.

Setelah [gunung] Merapi meletus, di media massa muncul berbagai berita. Ada orang yang bilang itu karena makhluk halus di [gunung] Merapi iri: iri sama makhluk halus di tempat lain yang buat ada bencana juga. Berita bencana itu,  masuk di media massa global, dan menurut orang itu, makhluk halus di [gunung] Merapi ingin masuk jadi berita di media massa global. Jadi di mana-mana ada globalisasi, dan di mana-mana ada pengaruh dunia global. Dunia gaib sekarang sering muncul di media-masa. Dan film yang menurut saya jelek sekali. Dan ada banyak majalah tertentu, seperti majalah mistis, atau kisah misteri. Anda sudah membaca—menunjuk kepada salah satu reporter Kswmesir.org—, belum lama saya meneliti tentang paranormal, atau supra-natural modern. Karena dulu, sudah banyak penelitian, dukun di desa atau dukun yang bermacam-macam. Apalagi setelah reformasi ada banyak paranormal. Ada yang paranormal yang tegak dengan agama Islam, agama Kristen, ada yang jauh dari agama, tapi lucunya mereka yang modern itu, mereka tinggal di lingkungan kota dan mereka bertanggung-jawab untuk hal ekonomi politik seperti pilkada itu menjadi sumber mata pencaharian mereka yang penting sekali. Jadi lucunya dari satu sisi demokratisasi, dan di sisi lain, salah satunya, ada pengaruh lokal seperti mistisisme itu.

Saya ketemu dengan Ki Joko Bodo, dia punya istana yang mewah sekali, di Jakarta. Jadi tampaknya dia dapat banyak uang dari tokoh politik, selain itu dari para pengusaha. Dari satu sisi ada sistem Internasional, dari sisi yang lain ada pengaruh lokal. Dan kita sebagai antropolog atau ilmuan sosial, kita menghargai kedua-duanya. Karena dari situ menciptakan suatu identitas yang khas. Jangan sampai dunia global ini homogen saja. Tentu itu bosan. untuk apa kita keliling dunia, kalau bukan kita ingin melihat dari sesuatu yang khas, yang istimewa terutama identitas budayanya. Kita perlu sesuatu yang istemewa di lingkungan kita sendiri. Budaya itu kalau sampai hilang, akhirnya, kita semua hanya ikut film-film global. Tidak hanya beli barang yang sama, dan shoppingmall saja di mana mana.

(kswmesir.org) Apa hal ini juga bermaksud mempertegas seperti yang tertera di buku Ibu (Religion, Tradition and the Popular), kalau memperjuangkan yang populer yang khas akan hilang?

(Mrs. Judith) Iya. Tentu, dan hal itu tampaknya tidak terjadi. Karena secara empiris kita bisa menyaksikan bahwa di seluruh dunia selalu ada dimensi lokal yang selalu eksis, juga bukan hanya globalisasi. Di mana-mana ada keterkaitan antara globalisasi dan lokalisasi. Dan kita harus hargai itu dan melindungi itu. Maaf, itu mungkin sedikit sensitif, seperti kita bilang kemarin, kalau tokoh agama terlalu puritan, baik tokoh agama Kristen ataupun Islam atau Hindu, mengglobalisasikan satu praktek ritual untuk di seluruh dunia Islam, Kristen Hindu. Ya…, nanti identitas lokal hilang dan hal itu menjadi rugi untuk kekayaan budaya dunia.

(kswmesir.org) Kalau di dunia Timur, semisal Indonesia, rata-rata membangun identitasnnya berpijak dari dimensi mistik dan spiritual sedangkan di Eropa relatif lebih mengedepankan dimensi rasional. Hal ini dimulai dari cara berpikir, praktek perilaku sehari-hari dan ekspresi benar-benar rasional. Bagaimana pendapat ibu terkait polarisasi seperti ini? kemudian ketika kita gabungkan, semisal dalam wujud praktek penelitian, bagaimana dampaknya?

(Mrs. Judith) Emm …, saya tidak seratus persen setuju. Karena di Barat ada hal mistis juga, dan di Timur ada hal rasional. Jadi kalau ada polarisasi seperti itu, di Barat rasionalitas sedangkan di Timur spiritualitas, itu tidak benar. Dari secara kita tahu sejak dari dulu ada migrasi pikiran, migrasi manusia juga. Jadi kita sejak dulu saling mempengaruhi, orang Barat dan orang Timur. Apalagi ada kecenderungan, dari kecenderungan sejarah dan ilmu, bahwa di Barat memang ada ideologi yang rasional, dan di Timur mungkin ada religi yang lebih terkait dengan sistem politik atau sistem ekonomi atau sistem budaya. Tapi seperti itu tadi, saya tidak setuju kalau ada polarisasi. Karena baik di sini maupun di sana [Barat dan Timur] ada unsur ke dua-duanya. Dan jangan sampai ada dikotomi. Yang sering mendikotomi itu orientalis. Mereka, orientalisme, memang ada pada ilmu sosial kita tahu itu, bahwa misalnya juga antropolog, juga ahli sejarah dari Belanda, mereka menggambarkan citra Indonesia terutama Jawa, seperti itu, hanya mistis sekali. Itu tidak benar. Jadi saya selalu sedikit khawatir kalau ada polarisasi itu. Karena itu sering ideologi saja.

(kswmesir.org) Namun, kenyataannya, banyak orientalis yang menghadirkan polarisasi seperti itu tadi. Semisal, C. Snouck Hurgronje pada salah karyanya, fi makkah, kami membaca dalam versi bahasa Arab. Kemudian, orientalis Perancis, Ernest Renan menuliskan bahwa dunia Islam itu dunia mistik. Dunia Barat dunia rasional. Maka orang Islam perlu meng-impor pikiran-pikirn rasional dari barat.  Pendapat ibu?

Berlanjut

Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (2)

Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (3)

Tentang admin

Lihat Juga

Mahasiswa Pascasarjana Asal Jawa Tengah Raih Gelar Magister Usul Fikih

Mahasiswa pascasarjana jurusan Usul Fikih, Ahmad Munafidzul Ahkam  meraih predikat Jayyid Jiddan pada sidang tesis …