Home / Uncategorised / Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (2)
Dr. Jonas Mycah

Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (2)

(kswmesir.org) Namun, kenyataannya, banyak orientalis yang menghadirkan polarisasi seperti itu tadi. Semisal, C. Snouck Hurgronje pada salah karyanya, fi makkah, kami membaca dalam versi bahasa Arab. Kemudian, orientalis Perancis, Ernest Renan menuliskan bahwa dunia Islam itu dunia mistik. Dunia Barat dunia rasional. Maka orang Islam perlu meng-impor pikiran-pikirn rasional dari barat.  Pendapat ibu?

(Mrs. Judith) Saya kira di mana-mana, di dunia kita ingin selengkap mungkin, dan apa lengkapnya manusia itu pasti ada rasionalitas, pasti ada emosi, pasti ada spiritualitas, pasti ada fisika, dan kita hanya lengkap kalau semua aspek dari antropos itu terkait. Kalau kita surprise dengan pemberontakan salah satu dalam diri, kita tidak bisa berkembang. Kalau rasionalitas diberontakkan[ditumpulkan] kita memang mungkin terlalu mistis, [dan hal itu] tidak bisa. Tidak bisa berfungsi dalam realitas sekarang. Karena kalau kita terlalu rasional mungkin ada depresi, mungkin kita merasa kosong, dan, bahkan, tidak ada etika. Jadi, kita di mana-mana di Afrika, di Amerika, di Eropa, dan Asia, kita perlu keseimbangan dan kelengkapan.  Dan sistem politik yang membebaskan masyarakat untuk berkembang, harus menerima semua unsur unsur dari kehidupan kita.

(kswmesir.org) Bagaimana metode ibu dalam mengkaji antropologi budaya ini? Karena di Freibuerg-nya baru limapuluh tahun—seperti yang ibu bilang tadi di awal. Sampai salah satu konklusinya bisa memugar atau memindahkan cara pandang dikotomi itu menjadi tidak dikotomis?

(Mrs. Judith) Saya rasa penting sekali bahwa kita kerja sama. Kerja sama secara setara. Maka dari itu, saya menciptakan model itu tadi. Maaf ya, teman saya dari antropolog Indonesia, mereka biasanya hanya meneliti di Indonesia saja. Kalau mereka dapat kesempatan untuk penelitian S-3 atau mereka dapat beasiswa, mereka meneliti kalau tidak di kampung sendiri, pasti di Indonesia. Juga yang dapat beasiswa belajar di Eropa, Jerman atau Belanda, kalau ada kesempatan untuk penelitian lapangan mereka pulang untuk meneliti di Indonesia saja. Itu menciptakan ilmu atau pengetahuan yang terlalu sempit. Apalagi seorang antropolog harus tahu atau harus membandingkan di seluruh dunia, tidak hanya Indonesia saja. Jadi, saya sebagai orang Jerman ingin belajar banyak dari budaya Indonesia, kenapa orang Indonesa tidak datang ke Jerman untuk belajar atau meneliti tentang orang Jerman? Mereka sampai sekarang, kebanyakan, agak malas belajar bahasa, menyesuaikan dengan makanan dan, mungkin, berpisah lama dari keluarga—untuk tugas penelitian. Karena S-3 sering sudah punya keluarga. Jadi itu terus terang sedikit sulit untuk mendorong mahasiswa-mahasiswi Indonesia untuk meneliti di Eropa, Afrika atau di Amerika. Mereka terutama ingin belajar tentang Indonesia sendiri, dan itu, menurut saya, terlalu sempit.

(kswmesir.org) Kalau di tempat ibu, apakah aspek-aspek seperti itu menghambat? Apakah orang-orang di Jerman atau Eropa itu terhambat oleh aspek-aspek seperti itu, semisal keluarga atau yang lain?

(Mrs. Judith) Apa saja yang bisa diteliti di sana (Jerman atau Eropa). Apa saja yang dianggap menarik.

(kswmesir.org) Ketika yang menarik itu hadir, dan diterima sebagai objek penelitian mereka itu pasti akan berangkat?

(Mrs. Judith) Iya. Oleh karena itu, saya sering mengundang yang masih muda, yang belum berkeluarga, yang masih terbuka, masih fleksibel.

Kalau mereka datang ke Freibuerg, misalnya, mereka heran sekali: kok bisa di sana, tentu tidak semuanya, banyak sekali orang naik sepeda. Termasuk seorang profesor. Mereka naik sepeda ke universitas, ke kantor. Mereka [orang Indonesia] punya ide bahwa semua orang membawa Mercedes. 

(kswmesir.org) Padahal orang Indonesia bangga sekali kalau sudah bisa naik Mercedes?

(Mrs. Judith) Iya …, jadi mereka membayangkan di sana semua orang kaya, dan pasti hanya mau naik mobil saja. Padahal sebenarnya nggak begitu. Mungkin kami punya mobil tapi itu jarang dipakai. Saya setiap hari naik sepeda ke kantor, mobil di garasi rumah. Karena itu [kami sadar betul] untuk melawan polusi,  karena itu pula lebih bermanfaat bagi diri sendiri, supaya ada olahraga. Selain itu, lebih cepat, karena jalannya lancar melalui jalan kecil.  Itu satu contoh saja. Ketika mahasiswa-mahasiswi Indonesia datang ke Jerman mereka heran sekali dengan hal seperti itu.  Tapi ada banyak contoh lain. Hal semacam itu, sesuatu yang mereka tidak menduga sebelumnya. Mungkin[Informasi dari televisi] nggak begitu jelas. Ada banyak aspek, jadi kita harus menyaksikan sendiri.

Seperti anda, dan di Mesir bayangan di sini hanya masjid-masjid bagus [mendadak tertawa ngakak semua], Al Azhar dan akhirnya kalau dapat kesempatan untuk menyaksikan sendiri, kebenaran, ya, lebih luas. Tidak hanya masjid yang bagus. Jadi kita harus menyaksikan sendiri. Ada banyak aspek, dan harus mampu menerjemahkan buat mereka yang tidak dapat kesempatan menyaksikan sendiri. Kita harus kasih tahu. Jangan sampai seperti para migran, apalagi para migran dengan pendidikan rendah, mereka sering kalau pulang mereka pura-pura bahwa mereka berhasil sekali. Jadi mereka [ketika pulang kampung] membawa banyak sekali oleh-oleh, mereka pura-pura di sana ada surga. Padahal, kita tahu sebenarnya mereka menderita. Mereka kerja keras, mereka mungkin kedinginan, ya, dan macam-macam masalah di sana. Tapi mereka pura-pura sukses. Hanya seratus persen sukses.

Kenapa begitu? Kita sebagai intelektual harus lebih kritis, kita harus mengabarkan kebenaran dan kebenaran selalu ada yang positif dan negatif. Kenapa pura-pura hanya surga di sana? Jadi, kenapa kebanyakan orang Indonesia membayangkan di Mesir bagus sekali. Di sana semua baik, saleh semua. Jadi itu tugas mahasiswa untuk kasih tahu yang sebenarnya ada, dan terjadi. Dan yang benar selalu positif dan negatif. Kedua-duanya ada. Jangan sampai yang negatif tidak pernah disampaikan.

(kswmesir.org) Ironisnya, hal yang dibayangkan seperti surga itu dikomersialisasikan?

(Mrs. Judith) Iya …, dan juga untuk mendorong mereka untuk membeli banyak oleh-oleh dari Mesir.

(kswmesir.org) Kami mendengar kabar bahwa fokus penelitian ibu kan mengkaji alumni mahasiswa Indonesia yang di Kairo untuk Indonesia? Kemudian, bagaimana para alumninya meng-akulturasikan budaya yang ada di Indonesia, dan kemudian, mengakulturasikan apa yang dia pahami dari sini? Pendapat Ibu?

(Mrs. Judith) Hmm … saya baru beberapa hari di sini. Saya belum tahu persis. Tapi impresi (kesan) pertama bahwa di sini ada Indonesia kecil. Saya syukur sekali di sini, karena memudahkan saya. Saya dilindungi oleh teman indonesia di sini, bisa pakai bahasa Indonesia. Dan bagi saya senang sekali dalam kondisi seperti itu. Tapi mungkin, mungkin …, ada aspek sedih juga. Karena kalau, ya seperti kemarin ya, saya bilang kalau hanya bergaul sama, sama-sama Indonesia, kesempatan belajar dari orang Afrika, atau dari orang Eropa, atau orang Mesir sendiri, mungkin sedikit kurang. Itu dugaan saya.  Menurut Anda bagaimana?

(kswmesir.org) Kalau secara pergaulan, memang, sebenarnya, terbuka juga. Dan relatif seimbang antara kita bergaul dengan orang Mesir atau asing dibanding kita bergaul dengan sesama Indonesia. Tapi, memang, banyak dari Mahasiswa Indonesia, lebih dominan dengan sesama kita. Orang Indonesia sendiri.  Namun, hal itu, apakah menghambat pengetahuan, atau pergaulan? Saya kira tidak juga. Karena terkondisikan oleh budaya Mesir itu sendiri. Terkondisikan dengan kondisi Mesirnya sendiri yang cara berfikir atau pandangan orang Mesirnya itu agak susah berkomunikasi dengan orang di luar mesir. Dan banyak faktor lain tentunya. Selain itu, ketika kita kuliah di Al Azhar juga nyaris tidak ada guru dari luar Mesir, terus dosen dari luar Mesir. Dan itu, barangkali, bagian mereka mempertahankan Identitas ke-Mesir-annya.

(Mrs. Judith) Saya sudah bertemu dengan beberapa, dan banyak alumni dari al Azhar di Indonesia mereka rata-rata sudah lebih tua, dan saya tanya, apakah masih ada teman atau sahabat atau hubungan dengan orang Mesir atau dengan orang dari luar Mesir? Jawab mereka, tidak ada. Sama sekali tidak ada. Mereka beberapa tahun di sini, lalu pulang. Apalagi generasi tua, belum ada handphone pada waktu itu, dan jadi mereka putus kontak. Barangkali selama di sini, ya, main bola bersama. Tapi setelah pulang tidak ada hubungan lagi. Siapa tahu barangkali untuk generasi muda nanti berbeda.

(kswmesir.org) Lalu, apa yang mendorong ibu untuk melakukan penelitian ini? Karena sebelumnya, sekitar tahun 2004 Michel Laffan mengeluarkan penelitian yang hampir serupa. Dan dia beberapa kali ke Kairo. Namun, beliau, Michel Laffan (antropolog asal Belanda yang intens meneliti Indonesia), lebih berpijak pada aspek relasi keagamaan, dan literature dan dinamika pergerakan keagamaan antara Indonesia dan Mesir. Adapun pada penelitian Ibu, alumni Mesir. Berarti tidak segmentasi baik itu suku, kultur, budaya, dan alumni secara lebih general. Pendapat ibu?

(Mrs. Judith) Saya tidak mau begitu terfokus pada hal agama, karena saya bukan ahli agama. Jadi saya lebih tertarik belajar tentang sistem sosial, dan kehidupan sehari-hari. Termasuk yang itu tadi, hubungan dengan orang Mesir atau dengan orang asing lainnya. Apakah itu mempengaruhi sifat dan kesediaan untuk kerja sama Internasional, misalnya, di waktu yang akan datang. Atau, apakah orang di sini, hanya hidup di dalam miniatur Indonesia terus pulang dan tidak ada perubahan dalam pikirannya atau dalam hal jaringan. Karena kalau kita membandingkan, kalau alumni dari Barat biasanya punya jaringan profesional tapi juga persahabatan. Mereka punya pertemanan, mungkin selama hidup, dari waktu masih mahasiswa. Dan itu, bisa menjadi alasan untuk kerja sama untuk jaringan profesional. Iya, kan, kalau kita sudah saling kenal kita jauh lebih mudah percaya dan bisa bekerja sama. Misalnya di dunia akademis. Saya mengadakan proyek-proyek penelitian bersama-sama dengan teman Indonesia yang sungguh-sungguh teman saya. Saya kenal sama keluarga mereka saya diundang ke rumah [di Indonesia] kalau mereka di Jerman, saya juga begitu[mengundang balik bertemu keluarga saya]. Dan itu menciptakan suasana yang memudahkan kerja sama untuk penelitian. Mereka tidak punya niat, kalau suatu saat nanti menciptakan proyek atau kerja sama dengan yayasan global atau internasional. Adakah? Atau mereka hanya mengajar saja?

(kswmesir.org) Kalau bayangan-bayangan seperti proyek atau bekerja sama dengan yayasan global atau LSM Internasional itu, hampir semuanya mungkin, belum punya bayangan ke situ. Tapi kalau, individu per-individu, kebanyakan mulai berinteraksi dengan karyanya diterbitkan, semisal buku. Yang terbaru, ada salah satu teman Masisir, Mohammad Yunus Masrukhin, MA. Buku beliau diterbitkan di penerbit Beirut yang mempunyai kerja sama dengan penerbit di Jerman. Tapi kebanyakan ke [penerbit] Indonesia. Kalau yang Internasional, relatif masih sedikit. Dan sedihnya, orang-orang yang mengkaji secara serius, penelitian atau semodel dengan itu, mereka yang aktifnya bukan di dunia organisasi ‘resmi’. Tapi mereka yang otodidak, membuat perkumpulan sendiri dan kuliah. Jadi mereka, kuliah di Al Azhar tapi juga membentuk forum diskusi sesama teman dan di situ kita diskusi serius.

(Mrs. Judith) Itu sesuatu yang menurut saya bagus sekali. Sungguh. Ketika saya masih muda, mungkin sedikit mirip. Dalam urusan antropologi ya. Pada waktu itu, lain dengan yang sekarang. Di sana pada waktu itu, jarang ada teori-teori yang kritis, jarang ada metodologi yang mendalam. Dan kita, waktu itu, ya seperti kalian menciptakan kelompok belajar, kerja sendiri, dan itu lebih efektif. Dari pada, kalau kita terpaksa, dari atas, dari guru saja kita mungkin hanya pasif. Tapi kalau kita menciptakan sesuatu sendiri, sebagai autodidak kita lebih aktif dan efeknya, hasilnya lebih baik.

Dan yang perlu diperhatikan, materi diskusi. Dan itu masih sedikit kurang di sini.  Dan juga akses terhadap jurnal Internasional, itu belum ada di sini. Saya dengar dari Farida, di Al Azhar sama sekali belum ada. Dan perpustakaan di Azhar juga belum ada. Saya melihat ke sana, ya memang buku-bukunya rapi, tapi [fasilitas] komputer belum mencukupi dengan baik. Tapi tidak cukup dengan punya komputer saja. Karena kalau kita mau membaca majalah ilmiah, kita perlu akses secara cepat dan itu muaahal sekali. Seorang swasta nggak bisa itu. Itu harus dibayar oleh institusi. Kalau institusi tidak mau, tidak mungkin kita bayar sendiri. Dan [fasilitas] seperti itu, seperti yang saya tahu, belum ada di sini, di Kairo.

(kswmesir.org) Kami melihat, setidaknya, tiga buku dari hasil penelitian Ibu. Pertama,  tentang tadi [Religion, Tradition dan Popular]. Kedua, terkait penelitian tradisi asia dalam mengkaji Barat, oksidentalism, dan ketiga,  tentang penelitian di Indonesia tapi saya sendiri kurang familiar dengan tempat itu. Di Sulawesi kalau nggak salah ingat.

(Mrs. Judith) Yang terakhir tentang bukit kasih, Manado.

(kswmesir.org) Dari berbagai penelitian itu, menurut ibu, bagaimana prospek Indonesia ketika di lihat secara antropologi? Kita tadi bicara tentang trans-kultulral yang berpijak secara multi-kultural, tapi ketika kita melihat secara spesifik manusia indonesia itu apakah juga mengalami pergeseran positif atau sebaliknya, atau mungkin, ada polarisasi yang berubah secara tak pernah bisa diduga. Bagaimana pengaruh alumni luar negeri kepada Indonesia?

(Mrs. Judith) Iya, itu memang pertanyaan yang bagus,  tapi memang saya tidak bisa memprediksikan. Cuma saya hanya bisa lihat apa yang terjadi pada saat ini. Dan sekarang ada banyak ideologi yang lebih fanatis. Ada yang lebih moderat, ada juga yang tidak begitu tertarik sama agama sekali, ada generasi muda yang sangat-sangat tergantung kepada media sosial, dan sangat commodified. Dan apa itu, mereka sangat terfokus kepada shopping saja, yang tidak punya idealisme seperti kalian ini.

Belum tentu ya, untuk waktu yang akan datang, apa dan mana yang paling kuat nanti, yang mampu menghegemonik, nantinya. Ya mudah-mudahan, tidak ada konflik atau polarisasi yang terlalu keras atau tajam, nanti. Tapi saya menduga, dari sejarah, dari pengalaman saya di beberapa daerah di Indonesia, saya menduga yang moderat akan menang.  Dugaan saya saja. Impresi[kesan] saya saja. Sampai sekarang, ya memang, kalau kita nonton media massa kita mendapat kesan bahwa ada banyak yang radikal sampai terorisme di Indonesia. Tapi di mana mereka? Sebenarnya hanya, hanya golongan kecil sekali.

Misalnya, ketika saya cari, kemarin saya cerita kepada beberapa teman sedikit tentang penelitian, tentang kirab budaya dari Kotagede. Itu hanya contoh. Dalam penelitian itu, banyak orang cerita bahwa di Muhammadiyah ada orang yang keras sekali melawan itu [tradisi kirab Budaya]. Mungkin lebih dari seratus orang bercerita tentang itu kepada saya. Dan saya selalu bilang: “oh itu menarik sekali ada alamatnya dari orang yang melarang tradisi ini?” Semuanya bilang, oh nggak. Saya hanya dengar. Saya nggak tahu itu. Sulit sekali untuk dapat satu suara untuk orang yang benar-benar radikal, atau keras sekali. Saya lebih dapat banyak sekali yang moderat, tapi hanya yang terakhir saya dapat satu suara dari seorang yang sedikit lebih keras. Barangkali, karena saya orang Barat tapi saya dengar dari beberapa peneliti, teman yang dari Indonesia, juga mendapat perlakuan yang sama seperti saya. Tampaknya memang ada, dan pasti ada orang puritan itu. Tapi yang benar-benar puritan sekali, sampai radikal, sampai fanatik tidak begitu banyak. Kalau kita cari pun, sulit untuk ditemukan. Menurut anda bagaimana?

Berlanjut: 
Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (1)

Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (3)

Lihat Juga

Final CCL, Munculnya Juara Baru

Kairo, kswmesir(6/9) – Akhirnya gelaran Cempe Champions League(CCL) berakhir dengan anti klimaks. Barcelona yang mengirimkan …