Home / Masisir / Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (3)
Dr. Jonas Mycah

Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (3)

(kswmesir.org) Karena memang legitimasi itu penting. Tapi namanya sebuah perkembangan sosial, terus, perkembangan manusia tidak hanya tergantung sama yang popular, tapi akar tradisi dan pikiran identitas awal itu jadi sangat penting. Dan kebetulan Indonesia itu, menurut kami sebuah masyarakat atau nusantara yang sudah dibangun dengan pondasi-pondasi yang mau tidak mau itu sudah punya antivirus-nya untuk puritarisme, atau radikalisme. Meskipun kita itu terbuka, tapi tahu mana yang harus di ambil mana yang tidak. Hal itu reflek, spontanitas manusia dari pikiran sama perilakunya itu kelihatan. Misalkan ada transnasionalisme dengan organisasi hisbut tahrir Indonesia. Lalu, untuk ini segmen agama Islam dan keagamaan, yaa, itupun gak banyak, cuma mereka mengandalkan media massa. Begitu pun, front pembela Islam dan majelis mujahidin. Tapi kita semua mengerti dan memahami bahwa mereka tidak mempunyai akar tradisi, jadinya susah untuk diikuti dan dikembangkan  di Indonesia. Kalaupun ada ya ideologis.

(Mrs. Judith) Bagaimana komunikasi dengan mereka di sini, di Mesir sekarang? Ada diskusi, ada pertemuan?

(kswmesir.org) ada pertemuan, meski masih sering bertahan pada perspektif dan pendapat masing-masing tapi cukup baik untuk membangun suasana dialogis pada ranah kemahasiswaan.

(Mrs. Judith) Bagaimana kalau komentar mereka, mengenai hal baru mengenai ISIS/(IS) misalnya, mereka bisa melihat sendiri bahwa banyak orang muslim dibunuh?

(kswmesir.org) Kalau itu sepakat, sepakat menolak. Dan mereka menyelesaikannya dalam bahasa yang paling halus: Kita tidak ingin menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan persoalan baru.

Kemudian, selama ini apa dan siapa yang paling mempengaruhi ibu?

(Mrs. Judith) Dulu ketika saya ketika masih muda, mungkin paling dipengaruhi oleh feminisme. Karena itu sesuatu yang baru pada waktu itu. Sekitar tahun 70-an. Karena itu ya, tadi ya, saya lihat ada Ratu Kidul. Tokoh perempuan itu, Ratu Kidul, mungkin nggak bisa dianggap feminisme, tapi dalam perspektif lain, apa dan bagaimana wujud keseimbangan politik, sistem politik Sultan, kalau di Solo dan Jogja, sampai sekarang laki-laki. Siapa tahu di waktu yang akan datang perempuan. Tapi sampai sekarang laki-laki, jadi kekuasaan sosial politik dengan laki-laki. Tapi di alam gaib ada…Perempuan! Ide atau bayangan… Konsep perempuan! Itu pada awalnya, saya tertarik sama hal itu.

Terus mungkin paling atau sama penting bagi saya dulu: post-modernisme. Karena ketika saya masih kecil, ya kita belajar teori ini, konsep itu. Tapi baru dengan teori dari post-modernisme kita dekonstruksikan semua teori besar yang punya niat untuk menjelaskan apa saja di seluruh dunia. Fungsionalisme atau strukturalisme atau yang lebih lama lagi, tokoh-tokoh dari situ punya ide bahwa teori mereka adasesuatu yang universal. Teori modernitas misalnya mengclaim bahwa modernitas dalam bentuk tertentu  itu universal. Lain dengan pihak post-modernisme atau post-strukturalisme. Kita tahu bahwa pengetahuan kita selalu hanya puzzle, partial, terbatas. Dan hanya untuk situasi tertentu, untuk zaman tertentu dan mungkin untuk tujuan tertentu. Dan kita akan lebih modest [rendah hati/sederhana/free from vanity, egoism and boastfulness]. Tidak begitu bangga sebagai ilmuwan atau ilmuwati. Kita tidak punya niat untuk menjelaskan apa saja, tidak punya ide bahwa ada kebenaran obyektif. Di social science, kita tahu bahwa kita sebagai seorang manusia kita meneliti dengan manusia lain, jadi selalu ada subjektifitas. Kalau kita kerja keras, paling kita bisa dekat dengan objektifitas. Tapi tidak pernah mendaku objektif.

Tidak begitu gengsi sebagai ilmuwan atau ilmuwati. Kita tahu bahwa ada batas, kita lebih self-reflective, lebih kritis, tidak hanya terhadap sistem sosial, sistem politik, tapi juga terhadap diri kita sendiri. Supaya, misalnya, saya menulis sesuatu, saya tidak pura-pura bahwa saya tahu semua situasi mahasiswa Indonesia. Saya bilang saya di sana hanya dua minggu. Dan pengetahuan saya terbatas sekali. Tapi dalam dua minggu saya dapat ini, ini,ini, ini! Itu saja. Saya tidak pura-pura bahwa saya tahu atau bisa menjelaskan apa saja.

Dengan begitu, karena setelah post-modernisme ada teori post-kolonial. Dan itu kembali ke hal politik. Karena post-modernisme terlalu fleksibel, terlalu terbuka. Kalau kita bilang kita tidak bisa tahu apa-apa secara tentu, kita tidak bisa mengkritik, terlalu relatif. Menurut saya, sebagai ilmuwan dan ilmuwati sosial, kita harus meneliti se-objektif mungkin, tidak pernah bisa objektif, tapi berusaha se-objektif mungkin. Dan kita harus benar-benar ingin tahu persepsi orang lain. Misalnya, kalau saya meneliti dengan orang fanatis itu bukan tugas saya untuk mengajari mereka. Saya harus cek, saya dengar dulu. Supaya saya bisa mengerti persepsi dia bagaimana. Baru setelah itu, ada seperti dialog, karena manusia juga. Dan saya juga punya ide, ideologi sendiri. Jadi saya bisa memberi sumbangsih kritis yang ada di masyarakat, di sistem sosial, sistem politik, sistem budaya dan juga dari orang-orang tertentu. Tapi tidak sampai pada persepsi saya lebih tinggi atau lebih tahu. Itu hanya seperti dialog. Antara ilmuwan dan informan. Tapi kalau kita terlalu relatifis, kita tidak mampu mengkritik sesuatu.

Jadi kembali ke post-modernisme, itu satu aspek yang mempengaruhi saya sampai batas [sekarang] ini. Karena saya ingin mengkritik yang saya dapat hasil dari penelitian, apa saja. Tapi tidak mau hanya mendeskripsikan, deskriptif saja. Kalau kita memanfaatkan teori-teori, atau penjelasan atau interpretasi secara otomatis kita kritis. Dan untuk itu kita perlu pengaruh dari post-kolonialisme itu. Karena dari sisi itu, kita belajar bahwa tidak hanya orientalisme ada juga oksidentalisme. Jadi kita dari dunia global, dari global theories atau teori-teori tentang globalisasi kita tahu bahwa tidak hanya dalam era globalisasi, tapi sejak dulu ada pengaruh yang tidak hanya dari Barat ke Timur tapi juga dari Timur ke Barat. Dan sekarang kita hidup dalam sistem desentralisasi.

(kswmesir.org) Nggak ada yang dominan?

(Mrs. Judith) Iya! Ada banyak, ada multisentral. Ada banyak pusat. Dan sekarang kita sebagai antropolog  tidak hanya lihat satu lingkungan tertentu, misalnya Jawa ada Jawa Tengah atau satu desa, satu pulau. Kita tahu bahwa dimana-mana ada unsur pengaruh atau dunia global. Jadi kita harus mengaitkan teori post-kolonialisme, teori globalisasi dengan teori post-modernisme supaya dapat mengkritik sistem kekuasaan dan power inequalities di mana-mana saja. Tidak hanya di tingkat pemerinta atau antara negara tetapi juga dalam kehidupan dan praktek sehari-hari dan misalnya antara laki-laki dan perempuan. Itu menurut saya.

(kswmesir.org) Tapi di Jerman sendiri sepertinya kecenderungan pengaruh post-modern-nya kok kurang begitu terdengar sampai Mesir, relatif yang sampai Kairo lebih dominan buku-buku Prancis yang berbahasa Inggris. Rata-rata dominasi buku Jerman itu berhenti pada madzhab Frankfurt dan Habermas sama..

(Mrs. Judith) Oh tidak! Mungkin hanya buku yang dicari belum datang.

(kswmesir.org) Lalu, bagaimana perkembangan? Karena, bagi teman-teman di sini, kalau bicara Jerman kita masih didominasi modernisme Max Weber, Habermas atau Max Horkheimer. Adorno-lah, mewakili madzhab subjektivitas.

(Mrs. Judith) Itu klasik ya!

(kswmesir.org) Klasik, ya?

(Mrs. Judith) Kita harus, mahasiswa-mahasiswi saya harus belajar ini. Tapi itu, jadi secara disiplin, apa namanya.. it’s the history of our discipline. Jadi kita harus tahu klasiknya.

Yang sekarang ini sering sekali dipakai adalah konsep multiple modernities, modernitas… apa ya dalam bahasa Indonesia..modernitas tidak hanya satu ya (model-model Modernitas).Tapi dengan metode itu tadi bisa membaca buku sebagai pisau analisa?

(kswmesir.org) Iya! Kebanyakan teman kita menggunakan agama sebagai teks dasarnya, klasiknya.  Tapi itu kan literatur klasik, nah, biar dipahami dan dimengerti secara kekinian kita menggunakan beberapa teks-teks pisau analisa dari beberapa pemikir barat itu.

(Mrs. Judith) Nah itu penting.

Yang sekarang ini,  model baru adalah post-humanisme. Post-humanisme dalam arti bahwa tidak tentu konsep manusia hanya badan kita, dari antropologi misalnya ada banyak data-data tentang mitos, relasi manusia dengan alam gaib, dengan hewan, separuh hewan separuh manusia dan macam-macam. Itu bisa terkait dengan cyborg, dengan tokoh yang hanya ada di komputer (internet). Hal itu menciptakan ide tentang manusia yang baru. Atau bahwa sekarang dari ilmu medical, belum tentu apakah hati ini dari saya sendiri atau sudah ada transplantasi dari hati orang lain. Jadi kalau saya, syukurlah, belum. Tapi, hal itu menciptakan manusia atau badan yang beda ya, kita bisa. Dari teknologi ada banyak pengaruh.

Dan pada umumnya yang dianggap penting sekarang adalah refleksi tentang produksi pengetahuan, production of knowledge. Bagiamana kita menciptakan ilmu, dari agama, dari ilmu rasional, dari emosi, dari tradisi. Misalnya, satu kolega saya meneliti tentang semacam namanya indigenous University di Ecuador, di sana ada orang Indian, Indigenous people, yang membuat universitas untuk menciptakan metode dan teori baru yang punya akar dalam pengetahuan indigenous itu. Mungkin kalau di Indonesia itu tadi mistisisme, atau tradisi praktek ritual-ritual, spiritual. Mereka bilang, “kenapa ikut sistem barat, kenapa ikut sistem Internasional, ayo kita ciptakan sesuatu yang khas, hanya pengetahuan kami.“ Tidak perlu dijelaskan, tidak perlu diadopsikan dari orang lain. Itu pengetahuan kami, mereka bilang. Itu sesuatu yang baru. Dan menarik juga.

Pengetahuan teknis, pengetahuan agamis, pengetahuan lokal, pengetahuan global, bagaimana itu diciptakan. Selalu ada institusi, selalu ada uang, selalu ada tokoh tertentu yang kharismatis. Ada banyak unsur yang harus kita jadikan analisa untuk mengerti bagaimana kita menciptakan pengetahuan. Dan itu sesuatu yang menurut saya menarik sekali pada saat ini. Karena sekarang ini, selalu ada kemungkinan ya tukar pengalaman dan pengetahuan, tapi belum tentu apakah nanti sistem Barat atau sistem Cina atau sistem Indonesia akan menang, dan menurut saya tidak usah satu yang menang, kita harus bekerja sama.

(kswmesir.org) Selama itu meneliti tentang keindonesiaan, terutama Jawa, pernah nggak menganalisa literature yang berkaitan tentang kitab-kitab Jawa seperti kan Dharma Gandhul atau serat-serat jawa kuno? Dalam buku Dharma Gandhul itu juga disebutkan bahwa ada julukan di dalam tradisi jawa tentang Ratu Adil, akan tetapinya rajanya Jawa. Yakni kalau di tradisi jawa mempunyai keyakinan yang menjadi raja itu memang seorang laki-laki tetapi mempunyai tindakan atau perilaku yang feminim, maka dia mendapat Ratu Adil sebagai julukan untuk para raja. Menurut Ibu?

(Mrs. Judith) Tapi saya dengar dari beberapa tokoh di Jawa bahwa ada kemungkinan juga bahwa Ratu Adil itu adalah perempuan, dan mereka bilang, sebenarnya, seharusnya perempuan. Karena menurut mereka, filsafat dan etika dari zaman kita, jaman sekarang, sudah terkabul, sudah cukup, sudah selesai, sudah sampai…aduuh [pizza datang]… Jadi kita karena banyak masalah ekologis, kita perlu prinsip yang baru, dan prinsip itu menurut mereka, prinsip itu adalah prinsip feminin. Supaya tidak ada perang lagi, tidak ada polusi lagi. Itu idealisme, siapa tahu perempuan itu lebih … Menurut anda bagaimana?

(kswmesir.org) Bagus juga bu! Perlu dikendalikan oleh cewek-cewek.

Terakhir, dari pengamatan ibu selama beberapa hari ini, apa yang perlu dikembangkan oleh mahasiswa Indonesia disini selain tadi yang sudah kita obrolkan tadi?

(Mrs. Judith) Belajar bahasa Inggris! Itu saran utama. Padahal, kenapa bahasa inggris, kenapa tidak bahasa…, Jerman terlalu kecil, bahasa Cina atau bahasa Arab? Tapi sampai sekarang, bahasa Inggris itu bahasa dunia. Bagaimana kita bekerja sama kalau tidak ada bahasa yang menyatukan? Jadi itu paling penting saya kira.

(kswmesir.org) Terimakasih banyak atas kesempatan wawancaranya. Sebuah kesempatan yang langka dan berharga sekali bagi kami. Terima kasih banyak, Bu.

(Mrs. Judith)

Owh …iya, terima kasih dari saya juga.

Link Terkait
Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (1)
Antropologi Budaya, Nyi Roro Kidul, dan Masisir (2)

Tim Wawancara

  1. Ronny Giat Brahmanto
    2. Luqmanul Hakim
    3. Muhamad Fadilah Rizki
    4. Sitta A’la Arkham
    5. Choiriya Dina Safina
    6. M. Rosyad Sudrajad
    7. Nashifuddin Luthfi

Curriculum Vitae (CV) Sederhana

Prof. Dr. Judith Schlehe lahir tahun 1956. Beliau adalah Profesor di Institut Antropologi Budaya di Universitas Freibuerg, Jerman (Institut fuer Ethnologie). Dia telah menerbitkan banyak karya akademik, baik dalam dinamika agama, globalisasi budaya,  representasi dan popularisasi budaya, dan isu-isu lintas budaya, gender, antropologi bencana, dan pendekatan baru untuk kolaborasi transnasional. Prof. Schlehe adalah peneliti senior Southeast Asian Studies Group di universitas Freibuerg dan tergabung dalam komunitas peneliti inter-disipliner lainnya. Dia telah melakukan penelitian lapangan dalam waktu yang tak sebegitu singkat di beberapa wilayah Indonesia, kurang-lebih tiga puluh tahun, sejak tahun 1985. Sekarang, Prof. Judith adalah fellow di Freibuerg Institute for Advanced Studies (FRIAS).

Beberapa karya ilmiah

  1. Judith Schlehe dan Sita Hidayah, “Transcultural Ethnography: Reciprocity in Indonesian-German Tandem Research.” Pada buku: Huotari, Mikko/Jürgen Rüland/Judith Schlehe (eds.): Methodology and Research Practice in Southeast Asian Studies. Palgrave Macmillan 2014.
  2. Judith Schlehe, “Translating Traditions and Transcendence: Popularized Religiosity and the paranormals’ Position in Indonesian Society.” Pada buku: Judith Schlehe dan Evamaria Sandkühler (eds.) Religion, Tradition and the Popular. Transcultural Views from Asia and Europe. Bielefeld: transcript 2014.
  3. Schlehe, Judith, “Concepts of Asia, the West and the Self in Contemporary Indonesia: an Anthropological Account” dalam, South East Asia Research, Vol. 21, No. 3, 2013.
  4. Judith Schlehe, “Cultural Politics of Representation in Contemporary Indonesia.” Dalam: European Journal of East Asian Studies, Vol. 10, 2, 2011.
  5. Judith Schlehe, “Anthropology of Religion: Disasters and the Representations of Tradition and Modernity”, In: Religion. Edisi khusus pada “Religions, Natural Hazards, and Disasters”, Vol. 40, No. 2, 2010.
  6. Judith Schlehe dan Sita Hidayah (2013): “Transcultural Ethnography In Tandems: Collaboration And Reciprocity Combined And Extended.“ dalam: Freibuerger Ethnologische Arbeitspapiere Nr. 23, http://www.freidok.uni-Freibuerg.de/volltexte/9155/

Lihat Juga

Mahasiswa Al Azhar Asal Banyumas Raih Gelar Magister Dengan Predikat Mumtaz

Mahasiswa Asal Banyumas, Antoni Oktavian, resmi menyandang gelar Magister Universitas Al Azhar dengan predikat mumtaz, …