Home / OPINI / Apofatik: Kebisuan yang Berbicara

Apofatik: Kebisuan yang Berbicara

/1/

Muhammad Al-Fayyadl menyebut bahwa ada dua jalur untuk “membicarakan” Tuhan. Pertama, melalui jalur dirkursus, artinya menggunakan pendekatan naratif yang diskursif untuk menguraikan, mendedahkan, membantah, dan mendekati Tuhan dengan bahasa. Jalur ini yang selama ini mungkin dilakukan oleh para cendikiawan, baik itu muslim maupun non-muslim. Kedua, melalui jalur non-diskursus, atau bisa disebut dengan Apofatik. Jalur inilah yang sebenarnya problematis, yang bersifat kontradiktif secara niscaya dan memiliki konsekuensi oposisi biner. Menggunakan jalur ini sama saja “membicarakan” Tuhan tapi bisu (not-saying); membahasakan Tuhan tapi terus melakukan negasi (saying-not); menulis Tuhan tapi tidak melukiskannya. Dengan pengertian yang lebih simpel: pendekatan apofatik sama dengan menghadirkan tulisan yang tanpa tulisan, menghadirkan buku yang tanpa bahasa.

Oleh mayoritas orang, pendekatan apofatik dirasa nyaris mustahil dilakukan. Sebab manusia punya bahasa, punya peradaban yang membentuk cara ia bernalar. Saya jadi teringat sebuah film konyol tapi serius: “Kungfu Panda [1]”. Jika Anda penyuka film animasi, saya rasa Anda tidak akan melewatkan film yang satu ini. Plot singkat film itu adalah seperti ini. Master Shifu mempunyai firasat bahwa mantan muridnya Tai Lung yang dipenjara akan melarikan diri dan menyerbu lembah untuk balas dendam karena Shifu menolak untuk menyerahkan Dragon Scroll yang disinyalir memiliki rahasia jurus tanpa batas. Singkat cerita, Po, si panda gemuk itu, dipilih oleh Master Shifu untuk mewarisi Dragon Scroll. Tapi Po mendapati Dragon Scroll tanpa tulisan apa-apa, tanpa jurus apa-apa. Po dilanda dilema yang kronis.

Waktu semakin dekat. Dengan putus asa, Shifu menyuruh Po dan Farious Five (lima pendekar) untuk mengevakuasi lembah. Di sanalah Po bertemu dengan ayahnya sang penjual sup yang nikmat. Oleh ayahnya, Po diberi tahu bahwa sup buatannya sama sekali tidak ada resep rahasia. Resepnya adalah dalam diri ayah Po. Menyadari hal itu, Po berpikir bahwa konsep ini sama dengan apa yang ia temui di Dragon Scroll; bahwa ia tidak memuat jurus rahasia, yang ada adalah sebuah plakat yang terbuat dari tembaga yang memantulkan wajahnya sendiri, dirinya sendiri. Sampai di sini agaknya pembahasan kita mengenai apofatik akan menemui titik sublimnya.

Sebuah plakat yang tidak memuat jurus rahasia itu adalah sebentuk apofatik. Ia tidak terbahasakan namun memiliki simbol; ia bisu namun memiliki makna. Kita tentu ingat dengan hadis yang sering dikutip oleh siapapun: “Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya”. Apa yang dialami oleh Po adalah demikian. Untuk mengetahui jurus rahasia, ia tidak harus menggunakan pendekatan kebahasaan; baik itu berupa tulisan atau gambar. Demi mengetahui Tuhan, kita tidak membutuhkan bahasa. Karena, untuk kesekian kali, bahasa tak mampu menyentuh entitas ketuhanan yang paling hakiki. Para sufi, al-Ghazali salah satunya, mengamalkan hal yang demikian. Imam Ghazali musti mengenal dirinya sendiri sebelum mengenal Tuhannya.

Dengan demikian, usaha menegasi pembicaraan tentang tuhan sesungguhnya bermakna paling ambigu; ia menyuruh untuk mendekati tuhan yang negatif dengan usaha menegasi, tetapi ia sendiri bersifat positif (terbukti dengan masih berkuasanya bahasa); ia menganjurkan untuk menafikan pembicaraan apapun yang bersifat positif (berupa teologi normatif seperti yang sedari dini kita pelajari) dengan pendekatan yang apriori bersifat positif. Alhasil, pembicaraan tentang Tuhan mau tidak mau akan menuju pada kebisuan yang paling sunyi. Po, si panda gemuk itu, telah membuktikan kebenaran kaum sufi. Agaknya, kita perlu belajar dari dia.

/2/

Benarkah Tuhan sama sekali tidak bisa dibicarakan seperti klaim apofatis? Pada pembahasan di atas, telah disinggung bahwa pembicaraan apapun mengenai Tuhan hanya akan berakhir pada satu hal tidak lebih: kebisuan. Di sana, porsi pembicaraan alternatif, yang ditempuh oleh banyak intelektual, tidak disinggung secara proporsional. Hanya disebutkan dua jalan untuk membicarakan Tuhan: diskursus dan non-diskursus/apofatik. Saya akan mencoba lebih dalam untuk fokus pada pembicaraan Tuhan melalui jalur diskursus.

Polemik “Turats wa Tajdid” yang diusung oleh banyak intelektual Renaissance Arab, yang salah satunya digawangi oleh Hasan Hanafi, masih terus diperbincangkan. Dalam Turats wa Tajdid-nya Syekh Ahmad Thayyib, yang secara khusus membantah Hasan Hanafi, terdapat pembahasan mengenai upaya membicarakan Tuhan. Sebenarnya masalah ini hanya bagian terkecil dari buku itu, sebab Ahmad Thayyib tidak hanya membantah pemikiran Hasan Hanafi pada sisi spesifik ini. Tapi tentu dalam tulisan saya ini, yang patut disinggung adalah mengenai: apakah mungkin membicarakan Tuhan?

Hasan Hanafi menafikan pembicaraan Tuhan dalam lokus apapun, secara mutlak. Menurutnya, pembicaraan apapun mengenai Tuhan hanyalah upaya tanpa akhir, atau upaya tanpa penyelesaian. Dan ini bertentangan dengan sifat ilmu, karena ilmu selalu dan harus memiliki konklusi meskipun itu bersifat sementara (kontingensi) dan memungkinkan untuk dibantah. Ia berkata: “Jika zat Tuhan tidak bisa diabstraksikan dalam benak dan tidak bisa indera, maka ia juga tidak bisa dan tidak mungkin diisyaratkan—sehingga memungkinkan untuk menjadi objek ilmu.” Juga: “Dengan demikian, pembicaraan apapun mengenai Tuhan adalah keliru jika ditilik dari fungsi bahasa.”

Dalam hal ini, Ahmad Thayyib setuju pada satu hal dan tidak setuju pada hal lain. Ia setuju bahwa zat Tuhan yang maha suci, sama sekali tidak bisa dijangkau semua ilmu. Tetapi ia tidak setuju bahwa Tuhan dengan segala nama dan sifatnya, tidak bisa dijadikan objek  ilmu dan iman. Di sini, Ahmad Thayyib membedakan antara Tuhan dengan Zat Tuhan. Yang kedua, seperti telah disinggung dimuka, bukanlah ranah inderawi. Ia tidak bisa diafirmasi oleh bahasa apapun. Sedangkan yang pertama, adalah Ia yang sebagai Wajib Al-Wujud; artinya, ia melampui jangkauan indra namun bisa diabstraksikan sebagai entitas universal (mafhumkulli). Dan kita tahu, entitas universal Tuhan, sebagai Wajib Al-Wujud, dibicarakan hampir tiap generasi oleh orang dari kalangan manapun.

Pembahasan mengerucut pada kata Allah. Menurut Hanafi, kata Allah adalah kata yang maknanya terbatas (mahdudal-dilalah). Karena menurutnya, sifat bahasa adalah nisbi. Dalam artian, kata Allah tidak mencerminkan entitas tertinggi dari zat Tuhan. Ahmad Thayyib menganggap ada yang kurang dari pemahaman Hanafi. Maklum diketahui bahwa kata-kata boleh terbatas, tapi makna (mafhum) tidaklah terbatas. Kata “mutlak” secara bahasa memang nisbi. Tapi secara mafhum, ia bermakna tidak terbatas. Ahmad Thayyib kemudian bertanya: “Bagaimana mungkin kata yang terbatas bermakna tidak terbatas?” Itulah yang mungkin terjadi pada kata Allah. Ia kata yang terbatas, tapi bermakna tidak terbatas. Abstraksi kita terhadap kata Allah adalah makna yang melampaui kenisbian bahasa.

Ahamad Thayyib menganggap ada yang ambigu dari pemikiran Hasan Hanafi. Di sisi lain, Hanafi mengatakan bahwa: “Bahasa kebisuan adalah bahasa yang paling bisa mengungkap Zat Tuhan.” Sementara itu, ia sendiri menghabiskan berjilid-jilid buku untuk membahasakan Tuhan secara terus-menerus, dan dengan demikian, ia sendiri tidak bisa diam ketika membahasakan Tuhan. Dalam hal ini, saya juga menemukan ambiguitas mendasar. Di satu sisi, Hasan Hanafi menghancurkan kejumudan kaum Sufi, tapi di sisi lain—entah sengaja atau tidak—sebetulnya pemikiran Apofatiknya lahir dari rahim kaum Sufi (sebut saja salah satunya Ibn Arabi).

Dalam ranah diskursus, Tuhan mungkin saja dibicarakan. Meskipun kita tahu, pembicaraan menganai Tuhan tak akan pernah menemui garis finish. Kita tidak hendak mengebiri fitrah kita sebagai—seperti kata Karen Amstrong, homorelegious; yakni manusia yang memiliki naluri religi. Tuhan, seperti kata Ia sendiri, adalah yang maha zahir dan maha batin (QS. Al-Hadid:03). Barangkali, kita baru sampai pada kemahaan zahir dari Tuhan. Masih perlu berjuta-juta lembar kertas untuk mengatasi kerinduan kita kepada Sang Maha Batin. [*]

M.S Arifin

 

Comments

comments

Lihat Juga

Perbedaan dalam Beragama: Sebuah Cara Memaknai dan Menyikapi

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seringkali sebuah perbedaan menimbulkan percekcokan, permusuhan, bahkan pertumpahan darah. Padahal Allah …