Home / Masisir / LIPSUS MASISIR / Asrama Indonesia Belum Memiliki Konsep Pembinaan yang Jelas

Asrama Indonesia Belum Memiliki Konsep Pembinaan yang Jelas

Konsep bisa diartikan sebagai ide yang digunakan untuk menjalankan suatu agenda. Adanya konsep pembinaan—nantinya—akan menjawab bagaimana para maba akan dibina selama satu tahun di asrama.

Sejak kedatangan kloter pertama maba pada 12 September lalu, hingga kini belum terdengar publikasi dari pihak pengelola terkait konsep pembinaan. Masisir tidak tahu bagaimana adik-adik mereka akan dibentuk sebagai pribadi sebagaimana dicita-citakan oleh mereka yang memutuskan wajib asrama.

Tidak terpublikasikannya konsep pembinaan bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama, kelalaian pengelola; kedua, memang belum siap. Berangkat dari situasi yang tidak jelas ini, redaksi kswmesir.org mewawancarai salah satu dari empat pembina asrama.   

Sejak kapan konsep pembinaan mulai digarap?

Kita sendiri selaku musyrif kurang tahu. Terakhir yang kami dengar dari Pak Atdik, beliau nanti setelah pulang dari Indonesia (tanggal 25) akan menghadap Grand Syekh untuk membicarakan masalah pembinaan.

Apakah Musyrif akan dilibatkan dalam pembuatan atau sekadar menjalankan isi konsep?

Itu mungkin sambil ngobrol juga sama Pak Atdik. Pembagian (tugas) belum jelas.

Adakah keterkaitan pihak Azhar dalam pembinaan?

Yang baru kami dengar, kemarin kabar singkat hanya yang tadi saja: setelah pulang dari Indonesia, Pak Atdik akan menghadap kantor Grand Syekh.

Berarti konsep belum siap?

Kalau itu saya belum bisa bilang seperti itu.

Target- target dari diasramakannya Maba sudah ada?

Belum juga. Harapan kami teman-teman di sini punya nilai plus dalam akedemis, bahasa atau hapalan—minimal di sini punya empat juz.

Selama ini adakah kegiatan harian di asrama?

Tidak ada. Adanya setiap dua minggu sekali, seperti seminar-seminar. Muhadasah pagi juga pernah dilalukan penghuni gedung satu. Tapi baru tiga minggu, saat Pak Masyhuri di sini. Di luar itu mereka banyak  yang ikut Maqura, untuk tahsin dan tahfiz—karena beberapa mustawa DL-nya masih dita’khir.

Tentang peningkatan kebahasaan bisa dijelaskan?

Di DL, kan, mereka sudah belajar sebenarnya. Karena itu, di sini teman-teman dibikin lebih aktif ke prakteknya, ngomongnya.  Namun detailnya seperti apa, rencana kita mengundang kawan-kawan yang aktif di Kawakib Fushaha untuk memberi masukan agar tidak teknisnya tidak monoton.

Kegiatan apa yang diinginkan para Maba?

Jadi, mereka inginnya sebulan ini diisi kegiatan-kegiatan positif seperti tahfiz. Cuman sampai sekarang (dari) kita masih belum (memfasilitasi). Kemarin sempat menghadap langsung kepada Ust. Arif, selaku pembimbing di Maqura, untuk meminta kesediaan mengisi daurah tajwid. Rencana minggu depan, entah Jumat atau Sabtu untuk pembukaan. Berhubung Pak  Atdiknya di Indonesia, jadi saya belum menghadap langsung. Kemarin saya masih cancel dulu takutnya kan dari beliau  juga ada  program tahfiz  yang langsung dari Azhar.

Mereka juga berharap ada jadwal talaqi untuk materi-materi mubtadi. Selama ini teman-teman, kan, pada ke Darosah. Kalau di sini diadakan bisa juga sebenarnya.

Jadi, sampai saat ini konsep secara keseluruhan belum final?

Iya. Masih progres.

Setelah resmi menjadi Musyrif, tugas apa yang dibebankan?

Titipnya disuruh bantu-bantu di sini. Kalau ada keluhan-keluhan dari teman-teman biar disampaikan ke beliau.

Untuk perwakilan saja?

Heem-heem. Sebagai fasilitator.   

Apakah Musyrif melapor kepada Pak Atdik?

Iya. Bisa lewat Pak Subhan atau Atdik. Atau juga kepala asrama. Tergantung permasalahannya. Kalau soal makan, ya, ke kepala asrama.

Bagaimana dengan aturan-aturan?

Dari asrama ada, dari (pihak) keamanan juga ada. Berbahasa arab, tapi sudah diterjemahkan. Di luar ada (dipajang).

Contohnya?

Seperti aturan harus kembali ke asrama sebelum jam sebelas malam, kalau menginap harus izin, dan tak boleh merokok. Tapi terkait merokok, pihak keamanan sendiri masih berbeda-beda. Ada yang membolehkan total, ada yang bersayarat: di luar gedung.

Sifat aturan itu sendiri mengikat atau…

Statusnya seperti himbauan saja. Karena untuk mengontrolnya kan sulit itu. Misalnya, wajib izin ke lewat konsuler jika hendak menginap di luar. Kemudian terkait merokok  juga sama. Sebenerya kalau kita keliling nemu banyak.

Comments

comments

Lihat Juga

Peringati Hari Diplomasi, KBRI Gelar Al Youm Indonesia – Mesir

Kairo, kswmesir.org – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo Mesir, sebagai perwakilan diplomatik pemerintah Republik …