Home / masisir / ATDIK Janjikan Pakar Ekonomi Islam Sekaligus Pendanaan PAKEIS

ATDIK Janjikan Pakar Ekonomi Islam Sekaligus Pendanaan PAKEIS

Kairo (04/11). Kenduri Masisir Jilid II kali ini menghadirkan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, Dr. Fahmy Lukman, M. Hum., yang juga dilaksanakan bersama perwakilan elemen penting Masisir. Selain Atdik, hadir pula Sekretaris I bagian politik KBRI Mesir. Acara ini digelar di Aula Griya Jawa Tengah dari pukul 15.00 sampai 20.30 Waktu Kairo.

Setidaknya ada beberapa poin yang didialogkan pada kesempatan ini. Di antaranya menyoal standar kepenulisan jurnal, dalam hal ini Atdik melihat jurnal HIMMAH sebagai bahan evaluasi. Kemudian pemberitaan media Terobosan yang kurang proporsional menurut beliau, mempertimbangkan buku hasil kajian Kekeluargaan FOSGAMA tahun 2013 yang mengkaji tentang Ahmadiyah, proses ORMABA PPMI Mesir seakan kurang evisien, kemudian mengenai persoalan sistem pembimbing yang digunakan PAKEIS (Pusat Kajian Ekonomi Islam) di Mesir.

Reporter portal berita kswmesir.org pada kesempatan ini satu per-satu menyajikan berita acara dialog Kenduri Masisir Jilid II. Sajian polemik PAKEIS yang dirasa ATDIK perlu dibenahi sistemnya, menjadi deretan pemberitaan kali ini. Telah diketahui masyhur bahwa PAKEIS adalah pusat kajian ekonomi islam di Mesir, di bawah naungan Orsat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kairo. Pusat kajian ini memberlakukan empat level pendidikan sebelum nantinya peserta kajian dianggap tamat oleh pembimbing dan diwisuda. Kenduri ini dilatarbelakangi oleh posting-an status facebook yang menganggap ATDIK mempertanyakan kualitas pusat kajian ini.

Pada sesi ini, terlontar pertanyaan tentang permintaan klarifikasi dari salah satu mahasiswa mengenai PAKEIS yang dianggap ATDIK kurang bargaining untuk aspek pembimbingnya. Menurut penuturan beliau, mahasiswa diajar oleh mahasiswa seperti “jeruk makan jeruk”. Antara pengajar dan yang diajar masih sama-sama belajar. Jadi seharusnya ada pembimbing secara langsung dari pakar ekonomi islam. Dalam konteks ini, mungkin menghadirkan tokoh bidang ekonomi Al-Azhar, pegiat ekonomi islam dari Indonesia, ataupun dari tokoh ekonomi perguruan tinggi yang ada di Mesir. Ketika ditanya apakah memungkinkan semua pembimbing tersebut dihadirkan, beliau secara jelas akan mengusahakan dan membantu dalam hal pendanaan, bahkan ketika sempat diajak untuk ikut kajian bersama, beliau menyanggupi. “Ajaklah saya untuk ikut kajian, asal tentukan waktunya, agar tidak tabrakan dengan agenda lain,” tutur beliau.

Masih di kesempatan yang sama, beliau juga dimintai klarifikasi tentang kritik istilah “wisuda” PAKEIS digunakan ketika peserta kajian telah menamatkan empat level pendidikan. Namun beliau menampik anggapan yang beredar, bahwa ATDIK tidak sependapat mengenai kata “wisuda”. Beliau tidak mempermasalahkan penggunaan istilah tersebut di pusat kajian ini, “saya tidak mempermasalahkan itu, silahkan gunakan istilah apapun, tamatan TK saja menggunakan istilah wisuda,” tutur beliau.

Terakhir tentang janji beliau akan membantu menghadirkan pembimbing ahli memang menjadi perhatian serius dari pelaku pusat kajian ekonomi islam ini. Walaupun sempat disinggung sudah beberapa kali pusat kajian ini dapat menghadirkan pembimbing ahli, akan tetapi dengan janji beliau untuk lebih serius dalam upaya menghadirkan tokoh-tokoh pegiat ekonomi islam, tentu menjadi sebuah hal baru yang menarik dan patut ditunggu. (jem)

Tentang admin

Lihat Juga

Mahasiswa Pascasarjana Asal Jawa Tengah Raih Gelar Magister Usul Fikih

Mahasiswa pascasarjana jurusan Usul Fikih, Ahmad Munafidzul Ahkam  meraih predikat Jayyid Jiddan pada sidang tesis …