Home / Uncategorised / Wawancara Atdik Tentang Sistem Pembinaan Maba di Asrama Indonesia
Foto diambil dari akun Facebook Atase Pendidikan, Usman Syihab.

Wawancara Atdik Tentang Sistem Pembinaan Maba di Asrama Indonesia

Sebelum mengunggah hasil wawancara ini, redaksi kswmesir.org sudah menerbitkan dua hasil wawancara terkait pembinaan Maba di Asrama Indonesia. Yang pertama, narasumbernya seorang Musyrif asrama. Kedua, Wapres PPMI—dalam rangka merespon hasil wawancara Musyrif.

Musyrif sendiri, saat itu menangguhkan beberapa jawaban vital dari reporter dan berkata menunggu Pak Atdik kembali dari acara di Lombok. Dari sekian jawaban yang didapat saat itu pula, kami menyimpulkan bahwa konsep pembinaan Maba memang belum siap, masih dalam proses finalisasi.

Setelah Pak Atdik tiba di Kairo (25/Sept), tempo hari—tepatnya 02 November—kami bisa bertemu dengannya untuk mengklarifikasi temuan yang didapat dari Musyrif yang kami wawancarai, sekaligus—kami—menyelesaikan simpan siur konsep pembinaan asrama. Silakan simak hasil wawancara berikut ini:    

Apa konsep pembinaan asrama?

Konsepnya itu membina dalam menumbuhkan karakter, baru setelah itu skill-skill. Kita memberikan kerangka umum, yang harus mencakup—terutama—pembinaan keilmuan, dan akademik. Keilmuan itu artinya hal-hal seperti kajian atau mendengarkan kuliah-kuliah  umum terkait dengan islam dan pemikiran islam.

Sedangkan kajian akademik adalah yang mendukung secara langsung untuk peningkatan kompetensi akademik mereka. Selain itu, ya, tadi, non akademik: olahraga. Bisa tercapai dengan pembinaan karakter. Ya kalau dari sini (asrama) seperti (aturan) lewat jam malam.

Konsep dasarnya adalah pembentukkan karakter?

Sebetulnya yang kami harapkan soal DL itu sesuai dengan apa yang mereka (pihak DL) program. Melalui DL mereka sudah belajar disiplin belajar. Memang prosentase tidak sampai 50%. Tak semuanya. Kita harapkan dari kesadaran, optimis (angka dalam persen menembus) 60-70%. Dari tingkat kesadaran untuk maju dan sukses. Itu sangat penting dan itu yang kami perlukan.

Tapi, apakah mereka disiplin?

Sekarang sudah ada penanggung jawab per-lantai. Manajemen per-lantai sangat membantu. Manajemen itu penting dalam artian bahwa penugasan, kalau ada komunikasi agar bisa disampaikan dengan cepat melalui koordinasi.

Ada juga dispilin seperti di pesantren. Mereka inisiatif. Ini, kan, sekarang inisiatifnya tidak lagi dari kita. Kita hanya memberikan kerangka umum sebagai konsep dasar pembinaan itu sendiri.

Usaha apa saja agar para penghuni disiplin?

Filosofi pendidikan tingkat lulus (itu juga terkait) masalah karakter pada diri. Punya kepribadian belajar kuat, kuliah rutin, mencari sumber-sumber ilmu yang diperlukan. Di sini (asrama) ada kegiatan rutin. Tiap lantai sudah ada sistem manajemennya. Manajemen ini Al-Azhar juga (terlibat). Acara-acara yang berjalan semuanya sudah dikomunikasikan dengan mereka, termasuk ngaji maqura ini (yang sedang berjalan saat wawancara berlangsung).

Al-Azhar turut mengelola asrama?

Yang perlu kita ketahui ini bukan kita sendiri. Manajemen ini Al-Azhar. Ada apa-apa kita harus izin ke mereka. Mengadakan acara pun itu yang sudah kita komunikasikan dengan mereka.

(Dengan syarat) Kalau bagus dan itu baik. Artinya mereka harus tau kegiatan apa dan sebagainya. Mengantisipasi adanya aliran atau pemikiran yang tidak sesuai dengan Azhar. Dan itu yang mereka takutkan.

Jadi ini pengelolaannya (asrama sini) dengan musyrif Buus sana. Kalau ada kegiatan-kegiatan, hal itu sifatnya baru, artinya yang belum jadi rutin, kita harus izin. Artinya saya harus mengirim surat dulu, bahwa kegiatan itu menurut saya positif. Baru mereka kemudian mempersilakan. Seperti mengadakan maqura ini.

Apa saja kegiatan di asrama?

Ada yang mingguan. Seperti yang dibimbing Mas Arif atau Mas Ali Irham. Bulanan juga ada, ceramah-ceramah. Akan mendatangkan dekan-dekan fakultas dan Pak Ali Irham. Sudah lama itu ngobrolnya. Ini (asrama) tempat yang mudah untuk mengkomunikasikan. Saya takut acara-acara (PPMI) hanya mereka-mereka saja yang hadir. Dilihat dari absen-absen.

Ust. Wardani (mudir Maqura) ini akan membina terus dan nanti setiap gedung ada ruang mushola seperti ini. Sudah banyak yang memberi ceramah di sini. Ust. Athoillah—magister ushul fikih, memberi ceramah di sini. Ada juga Ust. Mahkamah. Pak ikhwani juga. Yang jelas Ust. Wardani ini, target saya itu mereka itu betul-betul menghafal Alquran (dengan) cepat. Dan tadi itu, beruntun. Beranak pinak (sistem halaqoh).

Akankah pemusatan mereka di asrama menjadi satu keuntungan dalam proses pembentukan karakter?

Makanya, saya lebih (menekankan) pada bukan perkara tool. Pertama bahasa, kedua juga kedisiplinan dan muhadharah. Ini perkara tool. Di atas, itu karakter atau komitmen. Ketika setahun seseorang punya karakter yang baik saya yakin di kemudian hari adalah baik.

Satu tahun membina tool dan karakter saya yakin (nantinya) bisa mempertahankkan (akademik) di tahun-tahun yang datang. Karakterlah yang mampu mempertahankan tren itu. Saya itu mengkomunikasikan kemauan-kemauan Al-Azhar dan Kementrian. Makanya ngga bisa memuaskan semua pihak termasuk mahasiswa. Sambil memperbaiki kekurangan-kekurangan. Dengan karakter yang baik, trennya (natijah)  akan naik.

Gambarannya?

Seperti di Jurusan Hadis, kenaikannya tidak pada konsisten. Lulusan mereka, tahun lalu 55% tidak naik. Maka saya khawatir bahwa orang-orang yang kemarin naik cepat, di tahun-tahun yang akan datang juga jatuh. Karenanya pembinaan secara konsisten tetap harus dilakukan. Kalau satu tahun itu mampu membina tool sekaligus karakternya, dan kalau bisa memegang karakternya itu saya yakin bisa mempertahankan (nilai) di tahun yang akan datang.

Karakter untuk konsisten belajar itu lebih penting. Saya melihatnya ke arah sana. Tool-nya penting tapi ada penciptaan karakter.

Posisi Atdik sebagai?

Saya hanya fasilitator saja di sini. Memfasilitasi kemauan orang tua, Kementrian, dan kemauan Al-Azhar. Untuk mengkomunikasikan itu diambil langkah-langkah yang menurut saya tak bisa memuaskan semua orang. Tapi, orang yang tidak puas, kan, bukan berarti musuh. Artinya dalam sebuah usaha tidak semua orang kemudian puas dengan apa yang  kita lakukan.

Disaaat kita Mengkomunikasikan berbagai kepentingan, ketika kita memutuskan sesuatu, saya yakin banyak yang tidak setuju. Seperti sejak awal PPMI membuat press release tidak setuju, lalu dilanjutkan kawan lain yang tidak setuju.

Ya namanya saja ijtihad, kita putuskan tidak ada jalan lain dan kita melihat ini adalah langkah yang kita anggap sebagai alternatif sambil kita memperbaiki kekurangan-kekurangan, sambil berjalan.

Lantas, untuk menciptakan karakter yang bapak sebut di awal, cukupkah dengan bantuan 4 orang Musyrif?

Kalau ada dana dari kemenag, 4 gedung bisa tiapnya diisi 4 pembina. Sekarang yang ada (gaji/biaya operasinal pembina) sementara diambil dari kantor saya semua. Dari Kemenag belum ada apa-apa. Saya masih menunggu hatinya kemenag ini kapan. Saya dengar 2018 mulai dibahas kemungkinan dana bantuan. Tapi saya belum tau kapan dan berapanya. Subsidi uang makan (bahasanya). Sebagai redaksi saja. Sekali lagi banyak kekurangan, tapi kita selalu berusaha komunikasikan.

Kepembinaan asrama tanggung jawab siapa?

Kewajiban membina bukan hanya KBRI. Ini kewajiban semua. Orang-orang di sini terikat dengan almamater dan kekeluargaan. Ada waktu-waktu yang cukup mulai pukul 8-10 bisa dibina, diajak rapat dan sebagainya silakan, di sini pun yang lainnya mengerjakan. Ya masing-masing mengerjakan tanpa suudzon terhadap yang lain. Masing-masing mengerjakan kepembinaan itu. Jangan hanya KBRI yang bertanggungj jawab. Silakan bina di luar jam kami (aturan jam malam asrama). Di luar itu bisa kalian manfaatkan.

Semuanya bekerja untuk kebaikan semua. Saya tak pernah melihat negatif apa yang dilakukan orang lain. Sekali lagi saya ingin mengatakan yang paling diuntungkan dari kedatangan 1555 Maba, dalam segi finanasial, adalah PPMI. Setengah Milyar lebih dikit. Termasuk di dalamnya (edaran iuran $25) digunakan untuk pembinaan itu. Ini saya hanya mengatakan bahwa kita semuanya bertanggung jawab, lebih-lebih ada konsekuensi keuangan tadi.

Comments

comments

Lihat Juga

Darul Lughoh: Antara Bolos dan Ongkos

Membolos ternyata masih digemari. Khususnya bagi kalangan murid Darul Lughoh Universitas Al-Azhar. Ada yang bolos …