Home / ؞ Opini / Viral / Benarkah Nabi Muhammad Sesat?
Foto Ustaz Evie Effendi

Benarkah Nabi Muhammad Sesat?

“Setiap orang itu awalnya sesat, termasuk Nabi Muhammad. Makanya kalau ada yang maulidan, berarti itu memperingati kesesatan Nabi Muhammad”. Demikian kurang lebih maksud pernyataan yang diungkapkan oleh Ustaz Evie Effendie dalam ceramahnya yang viral itu.

Ustaz yang pernah mengaku tidak lulus pesantren dan pernah dipenjara lantas kemudian hijrah tersebut berdalil bahwa pendapatnya itu mengacu pada QS. adh-Dhuha [93]: 7, yang berbunyi

وَ وَجَدَكَ ضَالاًّ فَهَدَى

Kata dhâllan dalam ayat tersebut diartikannya sebagai ‘sesat’, setelah bertanya kepada seorang ustaz yang berada di sampingnya yang menerjemahkan ayat tersebut dengan “Ketika Allah mendapatimu dalam keadaaan sesat, lalu Allah memberimu petunjuk”.

Terjemaham di atas sungguh sangat berbeda dengan terjemaham Kemenag yang berbunyi: “Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”.

Perlu diketahui, bahwa menerjemahkan kata dhâlla dalam konteks ayat tersebut sangatlah rentan terjadi kekeliruan. Sebagaimana yang sempat disinggung oleh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam tafsirnya, al-Mishbah, bahwa ada sementara orang yang secara keliru memahami ayat di atas, dengan menyatakan bahwa “Nabi Muhammad saw. didapati Allah dalam keadaan sesat atau kafir atau tidak beragama, kemudian Dia memberi petunjuk keagamaan kepada beliau”.  Menurutnya, pemahaman ini jelas tidak sejalan dengan penggunaan kata dhalla dalam Alquran dan tidak juga dengan prinsip yang dianut oleh mayoritas ulama yang menyatakan bahwa “Para Nabi saw. terpelihara dari segala macam dosa baik sebelum apalagi sesudah masa kenabian mereka.”

Lalu bagaimana dengan penafsiran para ulama terkait ayat di atas? Jika kita menilik pandangan para ulama dalam kitab-kitab tafsir yang muktamad, maka setidaknya kita akan menemukan beragam penafsiran sebagai berikut:

As-Sudi, sebagaimana yang dikutip oleh Imam at-Thobari dalam tafsirnya berpendapat bahwa ayat tersebut berkenaan dengan Nabi Muhamad yang hidup berbaur selama 40 tahun yang tidak terlepas dari pelbagai urusan kaumnya yang sesat. Sehingga, seolah-olah ayat tersebut hendak berkata bahwa “Dia mendapatimu (Muhammad) berada di kerumunan kaum yang sesat, lalu Dia memberimu petunjuk”. Jadi yang sesat di sini bukanlah Nabi Muhammad, tetapi kaumnya.

Al-Qurtuby mengatakan bahwa makna dhâlla tersebut adalah kelengahan atau kelalaian Sang Nabi dari tugas kenabian, kemudian Allah memberinya petunjuk dalam melaksanakan hal tersebut.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya—sebagaimana yang dikutip dari cerita al-Baghowi— berkata bahwa sebagian ulama ada yang berpendapat, yang dimaksud ayat tersebut adalah bahwa nabi sewaktu kecil pernah tersesat di lereng gunung, lalu kemudian Nabi diberi petunjuk hingga bisa pulang kembali ke rumah. Dan dikatakan pula bahwa nabi pernah tersesat bersama pamannya sewaktu perjalanan ke Syam saat mengendarai onta di malam hari yang gelap gulita, kemudian datanglah iblis yang memalingkannya dari jalur perjalanan yang dituju, kemudian datanglah malaikat Jibril yang meniup iblis tesersebut hingga terpental jauh sampai negeri Habasyah. Lalu jibril meluruskan kendaraannya kembali hingga berada di jalur yang benar.

Penafsiran di atas juga jelas, bahwa jika toh harus mengatakan Nabi Muhammad itu pernah sesat, maka kesesatannya tersebut bukanlah dalam hal tauhid atau ajaran yang yang dibawanya, akan tetapi hanya dalam kontes tersesat dalam perjalanan saja.

Dalam tafsir al-Washit pun demikian, dari beragam makna yang dicakup oleh kata dhalla, hanya dua yang dipilih oleh sang mufasir dalam konteks ayat di atas. Pertama bermakna bingung dalam mencapai kebenaran, yang kedua lalai dari apa yang telah diwahyukan oleh  Allah, berupa al-Quran dan syariatnya.

Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya juga menambahkan bahwa kesesatan aqidah dan kesesatan hawa nafsu dalam beramal, keduanya sangatlah jauh dari kepribadian Sang Nabi sendiri, sehingga makna dhalla yang dimaksud dalam konteks ayat di atas tentunya adalah makna yang lain, yaitu kebingungan di dalam memilih sekian hal; yang mana sebaiknya harus beliau pilih. Dan makna inilah yang dimaksud oleh Allah dalam ayat tersebut, bahwa Allah telah memberinya petunjuk dari kebingungan yang beliau alami dengan memilihkan untuknya agama yang lurus berikut bagaimana cara  memberi petunjuk kepada kaumnya, sehingga dhalla di sini bukanlah sifat nabi yang menjadi aib bagi beliau, melainkan penghormatan dan mahkota bagi Sang Nabi. Karena setiap kali nabi mengalami kebingungan atau ketidaktahuan, Allah selalu datang memberinya petunjuk dan pengajaran.

Jadi, dari beragam penafsiran di atas jelaslah bahwa Nabi Muhamaad bukanlah orang yang sesat ataupun pernah sesat. Karena Nabi Muhammad adalah seorang yang maksum, yakni seorang yang terjaga dari segala bentuk dosa dan cela (QS. al-Ahzab[33]: 33).

Karena memahami QS. adh-Dhuha [93]: 7 hanya berdasarkan terjemah harfiah saja, tanpa menyempatkan menilik kitab-kitab tafsir terlebih dahulu, sang ustaz semakin parah ketika menyatakan bahwa mauludan (memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad) berarti sama dengan memperingati kesesatan Nabi Muhammad saw. Seolah-olah ia menggunakan logika “Jika Nabi Muhammad sebelum kenabiannya itu sesat, berarti perayaan maulid itu sama dengan memperingati kesesatannya, dong?”. Pernyataan ini jelaslah semakin fatal dan berantakan. Karena sejak awal asumsinya saja sudah keliru, bagaimana dengan narasi yang ia bangun di atasnya?

 

 

Tentang Hasyim Danten

Fans berat Prof. Quraish Shihab. Sekarang kuliah di Azhar. Meniti jalan sang idola.