Home / Opini / Bendera Setengah Tiang untuk Indonesia*

Bendera Setengah Tiang untuk Indonesia*

 Pagi saja tidak cukup redakan riuh rendah pesta semalaman, pemasangan umbul-umbul, pawai anak-anak sekolah. Bendera-bendera merah putih dikibarkan bebas-bebas di setiap rumah, di mana saja. Pertanda sudah merdeka, ya, bangsa kita sudah merdeka. Kita boleh naikan bendera di tiang-tiang tanpa cemas dibedil kompeni. Kita sudah tidak terjajah. Bendera kita berkibar tertiup angin laut tiap tanggal 17 Agustus, sepenuh tiang setinggi-tingginya. Dan sore menjelang, bendera-bendera itu diturunkan. Hari kemerdekaan segera berakhir. Kita kembali pada monolog yang sepi, pada kesulitan ekonomi, pada usaha yang mati suri, pada kacaunya interaksi, pada menyedihkannya birokrasi. Kita memang merdeka, atau entah siapa yang merdeka pada tujuh puluh tahun yang lalu, namun kita tidak semerta mudah mendapat kesejahtaraan sebagaimana sebuah kemerdekaan menjanjikan hal itu. Kita mungkin akan terus mempertanyakan kemerdekaan yang kita miliki, dengan kenyataan pahit nasib masing-masing orang yang berbeda-beda. Paling tidak, refleksi akan perenungan perjuangan mati-matian para pahlawan yang tidak perlu kita alami sekarang, pengorbanan darah yang tidak perlu lagi tertumpah oleh perebutan tanah air, hanya luntur sedikit demi sedikit dan selalu diingatkan tiap 17 Agustus.

***

Sekitar satu tahun yang lalu, satu memori yang masih pekat, Jumat di Jogja. Dengan mata agak terlalu berbinar saya berkesempatan lagi sembahyang shalat Jumat di Masjid Munawwir, Krapyak. Memang baru dua tahunan saya meninggalkan Krapyak, tapi energi nostalgia yang bergemuruh di benak cukup besar. Saat khutbah, Kyai menyampaikan tema yang berbeda dari biasanya. Biasanya khutbah mengangkat tema-tema metafisik Ketuhanan yang mengajak pada ketaqwaan, meningkatkan keimanan dengan menjelaskan perintah-perinah Tuhan dan ajakan-ajakan RasulNya, atau juga yang berkaitan dengan syariat islam, tatacara menjalankan ibadah dan hukum-hukum dalam agama. Namun kali itu, khutbah Kyai mengangkat tema fenomena sosial berkaitan dengan acara televisi yang semakin tidak berkualitas. Kyai menjelaskan dalam khutbah beliau, bahwa tayangan televisi kebanyakan diisi dengan hiburan-hiburan nihil manfaat, joget-joget tidak jelas, talkshow dan infotainment penuh gunjingan, dan acara-acara lain yang minim edukasi. Apalagi sinetron-sinetron tidak bernutrisi, sekedar lawakan-lawakan tak bermutu, dan penggambaran kehidupan yang tidak layak dipertontonkan apalagi dipercontohkan seperti kedurhakaan seorang anak pada orangtuanya atau sebaliknya sikap kejam orangtua pada anak-anaknya, perselingkuhan dalam rumah tangga, visualisasi situasi sekolah yang tidak bersahabat dan sama sekali tidak edukatif, murid-muridnya saling bertengkar, membuat geng dan membenci satu sama lain, berpacaran di sekolah. Sangat jarang sekali penggambaran prestasi dan kerja keras dalam pendidikan.

Para penyimak khutbah, saya perhatikan, juga tidak seperti biasanya seperti kepala tertunduk terkantuk-kantuk. Bahkan sebagian wajahnya tampak berseri dan tersenyum satu sama lain pada yang dikenalnya pertanda setuju akan euforia yang diterima dari isi dan penyampaian khutbah, sangat tidak biasa, khutbah adalah suatu penyampaian dan penerimaan yang serius dan sakral, serta khusyu’ seperti halnya shalat. Namun saya tidak mempermasalahkan hal itu, dan memang tidak ada yang saya permasalahkan. Hanya saja ini sesuatu yang menarik, mungkin sudah banyak yang mengangkat gagasan tentang hal di atas, menarik karena agaknya pertama kali disampaikan pada momen sesakral khutbah. Dengan tujuan yang masih sama, bahwa agama juga berperan penting dalam pembentukan karakter manusia-manusia yang berpegang padanya. Akhirnya pada kesimpulan, Kyai menegaskan pelurusan pola pikir kita sebagai sebuah bangsa yang beradab dan berbudaya, menentang tayangan-tayangan televisi minim edukasi dan prestasi dan jelas jauh dari nilai-nilai agama. Kemudian mempertanyakan sejauh mana kita sudah merdeka, sekedar kemerdekaan raga dari penjajahan dan ancaman bangsa lain kah? Lalu bagaimana nasib pemikiran kita yang masih terjajah? Belum bisa terbebas dari kekangan keterbelakangan yang mengutamakan kesenangan sesaat.

Yah, namun bagaimanapun kita adalah manusia yang tak berdaya, sifat-sifat manusiawi yang dengan naif seringkali kita pertanyakan, mungkin akan berubah, atau hanya sedikit yang berubah, atau malah tidak akan pernah berubah untuk jumlah yang dapat menggerakkan sebuah bangsa. Membicarakan kemerdekaan, tidak hanya kita, banyak bangsa yang masih terbelakang terseok-seok berdiri sendiri. Indonesia punya kekuatan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain, kekuatan untuk bersatu dari sekian perbedaan yang menyesakkan. Media massa, baik di televisi maupun cetak, seringkali main-main dengan hal-hal yang berbau kontraversi dan provokasi demi meraup keuntungan. Semuanya berawal dari memanfaatkan perbedaan yang cukup masif di negara kita, dan mengedepankannya dalam berita kemudian membuat panas beberapa pihak tertentu. Seharusnya media menjadi alat pemersatu, ikut membangun sedikit demi sedikit bangsa yang katanya sudah merdeka ini agar tampak benar-benar merdeka di mata dunia. Bukan sebaliknya, memecah belah kemudian ditinggal begitu  saja sembari menghitung uang.

Banyak penyayangan yang bermunculan, rasa kecewa, sikap pesimis, pada negeri sendiri dari rakyatnya sendiri. Mungkin sebuah pemakluman bagi negara berkembang, namun kenyataan pahit yang harus ditelan tidak terelakkan. Bangsa Indonesia mungkin harus bersabar puluhan, atau ratusan tahun lagi untuk benar-benar menjadi bangsa yang utuh dan dipimpin oleh orang-orang yang tidak korup. Maka mengedepankan persatuan adalah hal yang utama, kebijaksanaan tertinggi dari sebuah bangsa untuk bertahan. Pada akhirnya, kita perlu kekuatan berlebih dari sekedar refleksi akan perjuangan para pahlawan, meski itu tetap saja penting, setidaknya semangat kemerdakaan tidak hanya teringat di hari H saja. Orang-orang perlu memperjuangkan hidupnya masing-masing, tanpa bergantung pada negara, menyalahkannya atas nasib yang terjadi pada dirinya, karna ini bukan tentang apa yang kita terima dari negara, namun apa yang kita beri padanya. Kita sebagai bagian dari bangsa perlu menyadari hal itu dan meninggalkan kemalasan, ikut membangun dan memenuhi kebutuhan bangsa.

Jujur saja, dengan pengandaian yang berlebih, serta keputusasaan yang tinggi, untuk bahan tulisan saya mencari-cari, adakah orang yang mengibarkan bendera merah putih setengah tiang di hari 17 Agustus, dimana orang-orang pada umumnya dengan sadar atau sekedar ikut trend mengibarkan merah putih sepenuh tiang, sebuah memoar akan kebebasan kita mengibarkan bendera sendiri di negara sendiri tanpa ancaman dari negara lain. Saya ingin meliputnya, menjadikannya kisah menarik, orang yang penuh kekecewaan mengibarkan bendera setengah tiang, pertanda berduka, bukannya hari kelahiran Indonesia melainkan hari kematiannya. Sungguh ironis kalau itu benar-benar ada, namun sebaiknya jangan pernah ditemukan. Setidaknya hari kemerdekaan jadi batu pijakan tiap tahunnya, masyarakat bagaimanapun membutuhkan harapan meski tinggal di tengah reruntuhan. Atau saya belum benar-benar mencari? Mari berharap tidak demikian.(MFR)

 *Tulisan ini pernah diterbitkan pada rubrik Oase Buletin PRESTâSI Edisi 99 Agustus 2014, dengan beberapa perbaikan dan penyesuaian waktu.

Tentang admin

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …