Home / Resensi / buku / Berceloteh Soal “Celoteh Jalanan”

Berceloteh Soal “Celoteh Jalanan”

Bertemu dengan buku ini rasanya seperti bertemu jodoh. Tidak disengaja, tidak diduga. Ceritanya, pada suatu hari, buku berjudul “Celoteh Jalanan” ini diiklankan oleh akun Berdikaribook. Saya langsung jatuh hati usai membaca caption-nya. Jadi langsung saja saya save, jaga-jaga kalau hendak berbelanja buku, yang satu ini tak luput.

Keesokan harinya, dalam perjalanan pulang dari kampus, saya mampir ke perpustakaan KSW. Di antara deretan buku di dalam lemari, ternyata buku yang saya incar kemarin terselip di situ! Yang bikin kesal, buku tersebut belum boleh dipinjam.

“Baca di sini saja, Mas,” saran seorang petugas, karena perpustakaan memang  akan dibuka selepas lebaran. “Yang penting jangan dibawa pulang dulu,” tambahnya.

Saya langsung mengiyakan dan lekas membaca. Karena tebalnya hanya 178 halaman, buku terbitan BASABASI ini bisa rampung dibaca sekali duduk—sesekali sambil tiduran, ngobrol, dan ngopi. Kesannya, dari awal mengetahui keberadaan buku ini hingga selesai dibaca, itu ibarat dapat pacar dalam waktu dua hari. Hari pertama melihat seorang gadis dan hati langsung sreg, kemudian pada hari kedua langsung kencan. Sungguh pengalaman yang mengasyikkan.

Apalagi, lima puluh satu tulisan yang terkumpul dalam buku ini memang asyik dibaca. Walau M. Fauzi mengkritik perilaku masyarakat di jalanan, tetapi ia tidak menuliskannya dalam bentuk kajian. Hampir seluruhnya tidak menggunakan pendekatan teori tertentu. Psikologis tidak, teologi juga tidak. Sesekali, pria asal Madura ini mungkin menggunakan teori dasar berlalu lintas. Akan tetapi, cara dia mengkritik lebih banyak melalui curhatan-curhatannya di jalan raya, di balik kemudi.

Misalnya ketika ia menemani sang paman mengendarai mobil, tiba-tiba dari arah jalan desa seorang pengemudi motor nyelonong masuk ke ruas jalan tanpa tolah-toleh. Ia heran, apakah si pengemudi ini sama sekali tak menggunakan otaknya, kok sampai tak melihat ada deretan mobil yang sangat mungkin melibasnya, bahkan melayangkan nyawanya?

Curhatan penulis sebetulnya tidak asing dengan curhatan kita semua. Di jalanan kita tentu pernah menjumpai seorang ibu mengendarai motor dan menyalakan lampu sen kiri, padahal ia hendak belok ke kanan. Bedanya curhatan Fauzi dengan curhatan kita hanya satu: ia mencatat dan mengumpulkan semua curhatan hingga menjadi buku. Sama-sama curhat, tapi faedahnya berbeda.

Dari total tulisan yang dikumpulkan sejak 2009-2016 dan naik cetak pada 2017, satu satu bagian yang paling saya suka yaitu ketika ia menilai perilaku orang berpuasa, di jalanan. Menurut Fauzi, dan menurut kita juga, siapapun yang berpuasa tentu harus menahan diri dari niat buruk saat berlalulintas. Artinya, tidak asal menyalip hingga membahayakan pengendara lain; tidak asal membunyikan klakson hingga mengundang amarah pengendara di depannya; ataupun menerobos lampu merah hingga membahayakan mereka yang berhak melintas saat itu.

Namun, yang kerap terjadi malah sejenis ketiga fenomena di atas. Ternyata sekalipun seseorang sudah belajar akhlak, kepedulian, dan saling menghargai sesama, seolah itu semua sia-sia dipelajari. Di masjid mungkin banyak yang religius, tapi di jalanan takubahnya iblis. Perilaku masyarakat yang demikian memang memalukan, dan sayangnya, saat kita bersama-sama melakukan kesalahan, yang dirasa malah bukan dosa, tapi kewajaran.

Saya sepakat dengan sang penulis perihal akar masalah dari degilnya perilaku masyarakat di jalanan. Menurutnya, akar masalah tersebut ialah diamalkan atau tidaknya hasil belajar di sekolah. Boleh jadi seluruh pengendara mengetahui aturan berlalu lintas, tapi yang mengamalkan ketertiban itu nyatanya hanya sebagian. Jadi, gap antara pengetahuan yang dimiliki seseorang dengan pengamalan pengetahuan tersebut sangatlah lebar.

Tidak diamalkannya sebuah nilai ataupun ajaran agama bukanlah hal sepele, Bung. Buntutnya bisa panjang dan akan sulit diubah. Dalam kasus yang lebih parah—ketika kita bicara fenomena Muslim masa kini, radikalisme juga bisa mudah menghinggapi mereka yang tidak mengamalkan prinsip Islam yang berupa rahmat bagi semesta. Apakah ini terjadi? Ya!

Masalah-masalah yang bertebaran di jalan raya tidak lain merupakan satu sudut untuk menilai bagaimana karakter masyarakat. Apakah dalam keadaan macet, misalnya, akan bersabar; mencari solusi; atau sekadar mengumpat? Melalui buku ini, M. Fauzi mengajak kita semua untuk bersama-sama merenungi dan mengusahakan kenyamanan di jalan raya. Harus bersama-sama sebab kesalahan bersama merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah.

Jika Anda sudah memegang buku ini, akan Anda temui berbagai macam tulisan yang formatnya macam-macam. Ada yang hanya satu paragraf, ada juga yang berbentuk kata-kata mutiara. Terkesan campur aduk seperti tulisan pada status Facebook, yang tidak ada standar jumlah karakter. Bagi sebagian orang, bentuk seperti ini mungkin menganggu dan akan sulit untuk digolongkan dalam kategori opini tertentu.

Walau demikian, setidaknya M. Fauzi tetap berhasil menyentil pembaca melalui sambatan-sambatannya yang reflektif. Kalaupun harus digolongkan, mungkin digolongkan sebagaimana judul bukunya saja: celoteh.

Bagi para mahasiswa, buku semacam ini tetaplah penting untuk dibaca dan selanjutnya diamalkan isinya. Daripada sering membaca selebaran info bagasi Kairo-Indonesia, sudah tentu 100% lebih berfaedah membaca buku ini.

 

Tentang Furqon Haryosamatmo

Pria berkumis. Tak punya pacar, tapi selalu cari penggemar.