Home / ؞ Opini / masisir / Sampai kapan PPMI tak Belajar Menata Pembagian Beras?
Sumber : Status WhatsApp sdr Ibnu Sina

Sampai kapan PPMI tak Belajar Menata Pembagian Beras?

Sejauh ini PPMI sudah membagikan musaadah dari Baba Ragab lebih dari 20 kali. Mulai dari beras, ayam potong, hingga hati domba. Hanya saja yang terakhir tadi mungkin baru dua kali. Jarang. Paling sering, ya, beras, lalu ayam. Yang bikin gemes, semakin ke sini pembagiannya jadi semrawut.

Pertigaan jalan di kompleks perumahan Wahran dipadati tujuh ratusan mahasiswa. Mobil-mobil yang biasanya lewat tanpa perlu permisi, kali ini harus merayap membelah kerumunan pengantre beras. Entah apa saja yang muncul di benak para pengemudi, yang jelas perjalanan mereka terganggu. Peristiwa ini tidaklah baru. Terakhir, Senin tempo hari.

“Kalau begini, mah, kayak di Indonesia. Nggak beda,” celetuk Abdul Aziz, mahasiswa baru asal Sulawesi.

Mengingat proses pembagian beras tiga hari lalu, tampaknya Abdul Aziz benar. Pengantre seolah-olah tak peduli dengan jalan umum tempat penduduk lokal berlalu-lalang. Gara-gara sekantong beras 5 kiloan dan sepotong ayam utuh, mereka hanya berpikir bagaimana bisa segera masuk dan mengambil jatah. Demi itu, mereka berdesak-desakan dan tak jarang saling dorong. Penjaga gerbang pun emosi, dan sempat membentak seorang pengantre. Salah satunya bernama Ibrohim alias Boim.

Usai mendapat beras dan ayam, dia berkelakar. “Bah. Aku tadi diomeli yang jaga gerbang. Aku dikira menerobos palang masuk padahal aku juga didorong-dorong dari (pengantre) belakang.”

Petang itu, situasi di depan gedung Wisma Nusantara memang tidak kondusif. Gerbang yang hanya dibuka satu bilah, dengan lebar sekitar satu setengah meter, diserbu seratusan pengantre yang memadat persis di depan gerbang. Kewalahan mengatasi, penjaga sampai harus membentak agar pengantre mau mendengarkan. Sayangnya, tidak semudah itu, Ferguso! Penjaga pun mencari cara lain: mereka memalangkan bangku kayu, yang biasa digunakan pengunjung kantor mahasiswa itu. Namun, nahas. Bangku merah itu kakinya patah, tak kuat menahan gempuran pengantre yang cukup banal. Penjaga lalu mengambil bangku lain yang masih utuh untuk dipalangkan. Lagi-lagi, patah.

Sedemikian ruwetnya menangani banalitas pengantre, para penjaga gerbang dan pembagi beras seperti tak mampu  menyadari bahwa keramaian pada bakda magrib itu mengeblok jalanan tempat mobil lewat. Mereka telanjur kehabisan daya untuk menenangkan para pengantre, tak sempat berpikir apakah cara tersebut bermudarat bagi pihak lain atau tidak. Peristiwa semacam ini tentu menjadi preseden buruk bagi organisasi sekelas PPMI.

Sebagai penyelenggara organisasi, setiap kegiatan lazim dipikirkan konsepnya. Apabila kegiatan itu rutinan, maka harus dievaluasi secara berkala agar masalah yang sudah-sudah tak lagi terulang. Jika banalitas pengantre dianggap biang ketidaktertiban, PPMI tentu harus sudah mengantisipasinya dengan sistem. PPMI juga tak boleh menjadikan banalitas mereka sebagai faktor determinan ketidaktertiban, sementara sistemnya memang dipertanyakan. Sayangnya, setelah berpuluh-puluh kali membagikan musaadah, sistem pembagian malah mengalami kemunduran.

Dulu, penerima musaadah harus terdaftar, dan langkah ini terbilang cukup membantu. Ada usaha lebih untuk meminimalisasi tumpahan pengantre, karena yang tak terdaftar tak bisa mengambil jatah kecuali pada pukul tertentu dan itu pun jika ada sisa. Poin plus dari adanya pendaftaran adalah pengambilan beras bisa diwakilkan. Jadi, tak semua orang harus berbondong-bondong ke sana. Satu orang pun bisa mengambil 100 kantong beras jika dia memang mewakili mereka. Dengan adanya aturan pendaftaran, pengantre pada akhirnya mudah dikondisikan. Tertib. Namun, sistem begini berakhir Juli 2018 lalu.

Mulai Agustus, pesan siar dari DP PPMI tak menyuratkan wajib mendaftar, dan mengatakan “yang memerlukan silakan datang”. Sempat pada November pesan siar mensyaratkan terdaftarnya pengambil musaadah, tapi pada Desember dan Januari tidak begitu lagi, tak ada pendaftaran. Hal ini menandakan bahwa penyelenggara pembagian musaadah tidak memahami betul fungsi pendaftaran. Padahal dengan adanya pendaftaran, jumlah pengantre bisa dikira-kira dan bisa disimulasikan. Mulai dari model barisan, jumlah pengantre per barisnya, sampai titik antrean.

Dengan adanya simulasi, semua pihak akan merasa nyaman. Tim pembagi dapat membagi-bagi beras tanpa emosi, dan pengantre tak perlu terburu-buru. “Karena sudah rutinan, paling tidak PPMI memberikan konsep yang—baik dari pihak PPMI maupun Masisir—bisa sama-sama enak,” kata Cah Gagah (nama panggilan) sembari membantu mbak Lesi menjajakan aneka kopi dan teh di trotoar jalan. Dengan adanya simulasi pula, antrean yang memenuhi seluruh pertigaan jalan dapat dihindari, sehingga mobil tetap dapat melaju dengan lega.

Berpikir semacam di atas sebenarnya tidaklah sulit dan tak perlu memiliki jam terbang berorganisasi yang tinggi. Mahasiswa baru nyatanya sudah bisa berpendapat “Harusnya (pembagian musaadah) jangan di perumahan,” seperti kata Cor (nama panggilan) asal Jakarta. Masa, PPMI sejak awal-awal adanya musaadah belum juga sadar bahwa pembagian di Wisma Nusantara bakal mengganggu pelalu lintas lokal.

Dari sekian puluh kali pembagian musaadah, paling tidak PPMI bisa mengerti konsekuensi dari dibagikannya 2.800 kantong beras di kompleks perumahan pada hari tertentu dan dalam durasi 5 jam saja. Apalagi, tidak ada sistem pendaftaran seperti sebelum-sebelumnya. Maka dari itu, sesegera mungkin dewan pengurus persatuan mahasiswa ini berbenah. Pertama-tama, tentu saja sistem pendaftaran dijalankan. Ini sangat membantu menekan jumlah pengantre. Kedua, titik pengedropan bisa dibagi dua: di Wisma Nusantara dan sekretariat KSW, misalnya.

Jika dua langkah di atas dijalankan, luapan massa bisa dihindari. Di lain sisi, usaha untuk membuat musaadah lebih berfaedah juga harus dipikirkan. Misal bagaimana cara agar para keluarga mendapat kelonggaran dalam mengambil musaadah; agar mahasiswa yang sebetulnya lebih membutuhkan, diprioritaskan; hingga cara agar penerima musaadah bisa merata ke seluruh Masisir.

Satu lagi, yang paling penting adalah bagaimana cara agar semua proses pembagian tidak mengeblok jalan, sebab, itu namanya menzalimi penduduk lokal. Namun, jika PPMI hanya berasas “yang penting semua kantong beras lekas terbagikan”, publik jangan berharap banyak akan semua hal yang baru saja disebutkan.

Menilik proses pembagian beras Senin kemarin, kita bertanya-tanya: jika PPMI berani mengenalkan seni budaya lewat Atmosphere of Indonesia, apakah mengenalkan cara primitif pembagian beras juga termasuk?

Tentang Furqon Haryosamatmo

Pria berkumis. Tak punya pacar, tapi selalu cari penggemar.

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …