Home / Jawa Cup / Berikut Beberapa Blunder Panitia Jawa Cup XIII
Pamflet Jawa Cup 13

Berikut Beberapa Blunder Panitia Jawa Cup XIII

Pagelaran akbar Jawa Cup ketiga belas telah resmi berakhir begitu wasit meniup peluit panjang tanda selesainya partai final pada 1 April kemarin. Siliwangi FC keluar sebagai kampiun untuk pertama kalinya setelah mencetak satu gol ke gawang Walisongo FC di babak perpanjangan waktu, sehingga mengubah skor menjadi 3-2 untuk keunggulan mereka.

Dengan begitu, berakhirlah sudah rentetan agenda olahraga tahunan yang digagas oleh Forum Jawa, untuk musim ini. Berbagai drama yang tersaji, adu fisik, taktik, serta mental, tentu mengiringi hiruk pikuk enam belas pertandingan yang berlangsung selama sebulan lebih.

Tak ketinggalan, partisipasi penonton, dengan kuantitas yang semakin melonjak dari tahun ke tahun, baik yang hadir sebagai suporter, maupun yang hanya ingin sekedar menyaksikan dan menikmati jalannya pertandingan, juga menjadi mozaik tak terpisahkan dari perhelatan ini.

Secara garis besar, Jawa Cup tahun ini berjalan dengan lancar. Namun begitu, ada beberapa aspek yang perlu menjadi catatan untuk panitia, sehingga nantinya dapat diperbaiki oleh panitia-panitia di musim yang akan datang. Berikut beberapa blunder panitia Jawa Cup XIII:

  1. Kemunduran Jadwal

Out of the date! Mengapa Jawa Cup kali ini baru dimulai pada tanggal 27 Februari? Tentu hal tersebut menjadi pertanyaan mendasar bagi banyak pihak, mengingat biasanya, event ini sudah digulirkan pada pertengahan bahkan awal Februari, atau jauh-jauh hari sebelum pagelaran Sumatra Cup. Ironisnya, tanggal 27 Februari tersebutpun baru bisa dipastikan beberapa saat sebelum hari H. Padahal di musim-musim sebelumnya, panitia sudah “bergerilya” paling tidak sejak awal tahun untuk mencari lokasi dan waktu yang tepat, sehingga pada awal Februari, jadwal semua pertandingan sudah siap rilis.

Selain menimbulkan banyak pertanyaan, hal ini juga berimbas pada kaleidoskop sebagian besar kekeluargaan peserta Jawa Cup. Pada bulan Maret, kekeluargaan tentu telah memiliki agenda tersendiri, sehingga dengan molornya jadwal Jawa Cup, agenda-agenda tersebut bisa jadi berjalan kurang maksimal, atau justru dibatalkan.

Disamping itu, fokus dan stamina para pemain dari klub peserta juga berkemungkinan mengalami fluktuasi, terutama pada jeda waktu kurang lebih dua minggu kompetisi dihentikan karena berbenturan dengan Sumatra Cup.

  1. Ofisial pinggir lapangan kurang cekat

Di beberapa pertandingan, para pemain mengeluhkan kinerja ofisial pinggir lapangan atau yang kerap disebut sebagai anak bola. Bola yang meninggalkan lapangan kerap kali menggelinding cukup jauh, sehingga dalam situasi ini, sangat diperlukan kehadiran anak bola dengan kecekatan tinggi. Dengan begitu, pertandingan tidak kehilangan banyak waktu, pun para pemain tidak kehilangan ritme permainan.

Namun faktanya, ada beberapa pertandingan yang anak bola-nya dianggap kurang cekat, sehingga terkesan mengulur-ulur waktu. Hal ini tentu mencederai sportivitas yang diusung oleh Jawa Cup itu sendiri.

  1. Menyoal anugerah “fair play team”

Anugerah fair play team Jawa Cup periode tiga belas jatuh kepada Airlangga SC. Keputusan panitia ini jelas dipertanyakan bahkan cenderung disesalkan oleh beberapa kalangan. Pasalnya, penganugerahan tersebut tidak mengacu pada kualifikasi yang jelas: atas dasar apa Airlangga SC menjadi tim paling fair play sepanjang turnamen?

Padahal ada satu hal yang cukup kontroversial di mata penikmat Jawa Cup, yaitu ketika Airlangga SC bertanding menghadapi Walisongo FC. Pada pertandingan tersebut, terjadi insiden yang sangat mengganggu, dimana dua pemain Airlangga SC melanggar salah satu striker Walisongo FC dengan sangat keras, sehingga pemain yang dilanggar tersebut mengalami cedera serius dan akibatnya tidak dapat melanjutkan pertandingan. Lebih fatal lagi, sang pemain juga tak bisa turut ambil bagian pada laga final alias partai pamungkas.

Setelah pertandingan selesai, bahkan tersiar desas-desus bahwa pelanggaran tersebut dilakukan dengan sengaja. Kalau sampai kabar itu benar adanya, maka Airlangga SC bukan hanya tidak pantas mendapatkan anugerah fair play team, tetapi juga telah menginjak-injak jargon Jawa Cup musim ini, “Rajut Persahabatan, Eratkan Tali Persaudaraan”. Atau panitia memang sengaja menutupi insiden tersebut?

  1. Peran Komdis sangat minim

Kehadiran komite disiplin (Komdis) menjadi sangat vital, apalagi menyangkut problematika semacam insiden tersebut di atas. Kenyataannya, panitia pasif dalam menggerakkan Komdis sehingga peran Komdis cenderung sama sekali tak terlihat. Imbasnya, tidak ada tindak lanjut dari permasalahan-permasalahan yang muncul sepanjang bergulirnya turnamen. Apabila hal ini terus berlanjut, maka itu dapat menjadi preseden buruk untuk tim-tim peserta di masa-masa mendatang.

Demikianlah sekelumit nilai minus panitia Jawa Cup musim ketiga belas ini. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi panitia di musim-musim mendatang, sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja demi kepentingan bersama. (Kim)

Comments

comments

Lihat Juga

Raup Tiga Poin, Walisongo Puncaki Kalsmen Sementara

Kairo, kswmesir.org – Walisongo FC kembali raih tiga poin penuh di laga ketiganya setelah menundukkan …