Home / Masisir / LIPSUS MASISIR / Cabut Kebijakan Kewajiban CAMABA Membayar Biaya Tinggal Di Asrama Indonesia Mesir

Cabut Kebijakan Kewajiban CAMABA Membayar Biaya Tinggal Di Asrama Indonesia Mesir

 

Dubes RI untuk Mesir, Nurfaizi Suwandi menuturkan pembangunan asrama ini bermula dari keprihatinan KBRI atas kondisi mahasiswa Indonesia, khususnya yang belajar di Universitas Al Azhar, Kairo. Jumlah mahasiswa Indonesia di kampus Islam tertua di dunia ini berjumlah 4 ribu orang. Terbanyak kedua setelah Malaysia. Sayangnya, menurut Nurfaizi, mayoritas mahasiswa Indonesia yang datang ke Kairo dengan ‘terjun bebas’, tanpa beasiswa dan dari keluarga menengah ke bawah. Mereka umumnya lulusan pesantren.

Kehadian mereka di Kairo tersebar. Karena tingginya biaya sewa rumah, mereka mencari kontrakan murah dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan. Berbeda dengan mahasiswa asal Malaysia dan Brunei Darussalam yang memperoleh tempat tinggal lebih baik karena mendapat beasiswa ataupun pinjaman dari pemerintahnya masing-masingg.

“Sebelumnya bahkan ada mahasiswa kita yang tinggal di atas kuburan muslim. Awalnya mereka hanya menjaga, tapi lama-lama tinggal di atasnya. Ada juga yang tinggal dekat tumpukan sampah. Memprihatinkan saat itu. Sekarang tidak ada,,” cerita Nurfaizi. (detiknews.com/Rabu 24 September 2014.)

Keprihatinan, kepedulian KBRI Mesir kepada mahasiswa Indonesia di Mesir adalah landasan utama dibangunnya Asrama Indonesia Mesir. Kita juga bisa melihat pernyataan senada tersebar di mana-mana. Bahkan di tahun 2008, sebagai hasil dari Lokakarya “Dukungan Terhadap Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia di Mesir” yang diselenggarakan pada 12-13 April 2008. Berikut kutipan laporan hasil lokakarya tersebut:

FASILITAS FISIK DAN NON FISIK

  1. KBRI memfasilitasi menyediaan beasiswa prestasi bagi mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi, sesuai dengan nilai akademiknya di kampus, kecepatannya menyelesikan studi, dan tingkat kontribusinya dalam pembinaan yunior.
  2. KBRI Kairo, PPMI, dan PMIK mendorong pemanfaatan perpustakaan Al-Azhar, dan menambah kuantitas literatur-literatur dan referensi akademik di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia di Mesir (PMIK).
  3. DPR RI, Depag RI, Depdiknas, dan Pemda-Pemda di seluruh Indonesia membuka peluang pengadaan dana tunjangan studi Masisir dari APBN dan APBD dengan pertanggungjawaban yang jelas dan transparan (sesuai dengan besarnya kuantitas mahasiswa di Mesir)
  4. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mengupayakan kontribusi nyata khususnya terhadap Al-Azhar berupa pembangunan asrama mahasiswa yang dapat menampung lebih banyak mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Universitas Al-Azhar (dengan menerapkan sistem seleksi penghuni berdasarkan prestasi). Asrama tersebut sepenuhnya akan berada dalam pengelolaan dan pengawasan Al-Azhar. Dengan adanya asrama yang memadai ini, diharapkan dapat membantu kesuksesan studi Masisir.

Namun setelah Asrama Indonesia Mesir siap huni, pihak KBRI Mesir menghianati landasan awal itu. Alih-alih menggratiskan biaya hidup di asrama atau memberikan beasiswa, mereka mewajibkan kepada setiap calon mahasiswa baru 2017 untuk tinggal di Asrama Indonesia Mesir dengan biaya 50 USD perbulan. Biaya itu harus dibayarkan satu tahun sekaligus sebelum pemberangkatan dengan total 600 USD.

Perlu diketahui, 50 USD atau sekitar 897 EGP bisa untuk hidup di luar Asrama Indonesia Mesir minimal selama dua bulan. Bahkan di sini banyak asrama atau rumah yang tersedia tanpa membebani penghuninya biaya sewa seperti Jamiyah Syariah, Wamy, Sahah Indonesia, dan lainnya. Selain itu, pembebanan biaya yang tak wajar itu kami nilai tidak berlandaskan rasa peduli ataupun membantu, mengingat CAMABA  juga diwajibkan mengikuti kelas bahasa dengan biaya sekitar 500 EGP per-level.

Sekali lagi. Kebijakan itu, mewajibkan CAMABA membayar biaya tinggal yang tinggi di Asrama Indonesia Mesir, jauh sekali dari kata membantu ataupun peduli.

Mengenai pembangunan asrama ini sebagai hibah Indonesia kepada al-Azhar, sekaligus merupakan upaya pemerintah Indonesia mengapresiasi jasa al-Azhar dalam melahirkan tokoh-tokoh Indonesia, kita bisa menilai cacat tidaknya alasan yang dijadikan latar belakang pembangunan asrama ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan berikut:

  • Apa maksud kata hibah di sana? Apakah kata hibah berarti pemberian secara penuh yang menjadikan al-Azhar berwewenang dan bertanggung jawab penuh atas asrama itu? Bukankah itu sama halnya dengan melemparkan tanggungjawab, lepas tangan, padahal yang menginisiasi asrama itu Indonesia? Apakah al-Azhar membutuhkan hibah itu, mengingat pemberian, apalagi bernilai milyaran, harus mempertimbangkan maslahat dan mafsadah?
  • Apa yang dimaksud upaya pemerintah mengapresiasi jasa al-Azhar? Apakah tepat pembangunan asrama ini dinilai sebagai bentuk apresiasi? Apakah tidak ada cara lain yang lebih tepat untuk mengapresiasi jasa al-Azhar pada pemerintah Indonesia?
  • Apakah kita, Masisir, dan CAMABA benar-benar membutuhkan asrama? Kalau iya, asrama seperti apa yang kita, Masisir, dan CAMABA butuhkan?Apakah kita, Masisir, dan CAMABA benar-benar membutuhkan asrama yang berbiaya 50 USD perbulannya?

Kami juga melihat hasrat murni belajar CAMABA dieksploitasi. Mereka—pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kebijakan ini—memanfaatkan psikologis orangtua dan CAMABA yang ingin sekali (anaknya) belajar di al-Azhar dengan membebankan biaya 600 USD. Kami tahu betul bahwa orangtua bakal melakukan apa saja untuk menyekolahkan anaknya. Dan mereka, pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kebijakan ini, memanfaatkan rasa tanggung jawab orangtua pada anaknya itu, mengeksploitasi kasih sayang orangtua pada anaknya.

Tidak ada bedanya mereka dengan broker-broker yang semena-mena memberangkatkan CAMABA ke Mesir melalui prosedur yang salah. Mereka mengutuk para broker yang memanfaatkan hasrat CAMABA untuk kuliah di Mesir padahal CAMABA itu tidak lolos seleksi, tapi mereka sendiri melakukan hal yang sama; mengekploitasi hasrat murni belajar CAMABA  dan belas kasih wali CAMABA dengan membebankan 600 USD bahkan menjadikannya prasyarat terbang ke Mesir.

Ini bukan soal sanggup tidaknya wali CAMABA membayar 600 USD. Seperti diterangkan di atas, orangtua CAMABA bakal melakukan apa saja demi menyekolahkan anaknya. Bahkan orangtua CAMABA juga tak keberatan memberangkatkan anaknya yang tidak lolos seleksi, melalui jalur non-prosedural karena diiming-iming broker-broker nakal.

Bukan soal itu. Ini soal komitmen pada kebaikan, hasrat membantu, kepedulian, kebenaran. Soal rasa kemanusiaan, tanggung jawab dan belas kasih orang tua yang dieksploitasi. Soal kebijakan pemerintah yang tidak mempertimbangkan kemaslahatan. Soal pelurusan kebijakan pemerintah yang cacat.   

Untuk itu kami menuntut Presiden Jokowi, KBRI Mesir, Kementrian Agama, IAAI Indonesia untuk mencabut kebijakan kewajiban CAMABA membayar biaya tinggal di Asrama Indonesia Mesir dan mengembalikannya pada niatan awal.

Kami mengharapkan dukungan saudara sekalian. Silakan isi petisi ini dan sebarkan.

Referensi:

http://news.detik.com/berita/2699170/indonesia-negara-pertama-yang-punya-asrama-di-dalam-universitas-al-azhar-kairo

https://www.facebook.com/ppmimesir/posts/10154900456144401

https://bangaran.wordpress.com/tag/lokakarya-kbri-mesir/

https://www.facebook.com/fadjarpradika/posts/10208798381586098

http://www.ppmimesir.com/2017/06/polemik-sistem-wajib-asrama-maba-tahun.html?m=1

http://www.informatikamesir.com/2017/06/asrama-50-dollar.html?m=1

http://www.maba.waag-azhar.or.id/index.php/informasi/hasil-seleksi-nasional

Catatan :

  • Bagi siapapun individu yang mendukung pencabutan kebijakan tersebut, silahan isi petisi di sini.
  • Kunjungi juga fanspage kami di sini.

 

Comments

comments

Lihat Juga

Syabab Mesir Ungguli Timnas Masisir di Laga Al-Youm Indonesia-Mesir

Kairo, kswmesir.org – Dalam rangka memperingati hubungan diplomasi yang sudah berjalan 70 tahun, KBRI kairo …