Home / ؞ Opini / kolom

kolom

Apofatik: Kebisuan yang Berbicara

/1/ Muhammad Al-Fayyadl menyebut bahwa ada dua jalur untuk “membicarakan” Tuhan. Pertama, melalui jalur dirkursus, artinya menggunakan pendekatan naratif yang diskursif untuk menguraikan, mendedahkan, membantah, dan mendekati Tuhan dengan bahasa. Jalur ini yang selama ini mungkin dilakukan oleh para cendikiawan, baik itu muslim maupun non-muslim. Kedua, melalui jalur non-diskursus, atau …

Lanjut baca

Perihal Simbol dan Metafora dan Persinggungan Keduanya

Yang menarik dari dari ketidak-tertarikan kita pada bahasa Indonesia kita adalah kesalahpahaman yang disengaja. Kita sering mendengar orang mengatakan apa yang sebenarnya A yang bukan B sebagai B yang lain dari A. Salah satunya perkara ini: Apakah simbol sama dengan metafora? Apakah simbol harus menjalani maknanya yang paling asali sebelum …

Lanjut baca

SERIUS

Ada dua jenis manusia di dunia ini. Pertama, manusia yang serius. Kedua, manusia yang main-main. Dari kedua jenis itu—nantinya, akan muncul cabang lain yang akan menjadi titik tolak tulisan ini. Baiklah. Kita bahas dulu kedua jenis di atas. Begini: saya berulangkali bertemu dengan jenis manusia pertama. Mulai dari aktivis, bisnismen, …

Lanjut baca

Facebook

Bagaimana jejaring ini hendak menyumbat keraguan? Entah di zaman yang bagaimana kita hidup. Semua serba mendadak dan membutuhkan pemahaman yang mendadak pula. Semua tak bisa pelan, satu sama lain saling menyalip, menyikut, menundung dan akhirnya menjatuhkan. Ada kesegeraan yang kita tuai di tiap kita membuka jejaring sosial. Di sana, manusia …

Lanjut baca

Manusia dan Syahwat Identitas

Tan Malaka, dan mungkin juga banyak dari filsuf lainnya, mengatakan bahwa “tak ada definisi maka tak ada ilmu”. Dari teropong yang jauh dan dipasang di paling ujung Everest pun kita musti sudah tahu pentingnya definisi untuk membatasi jangkauan ilmu-ilmu. Bahkan kita memang terlanjur mengangguk pada perkataan banyak filsuf bahwa definisilah …

Lanjut baca

‘Memaafkan’ dalam Spektrum Dialektika

Entah secara tiba-tiba, di tengah menderunya pikiran yang koyak-moyak memikirkan yang seharusnya tidak musti dipusingkan, saya teringat tentang ‘memaafkan’—yang bagi saya, belakangan ini, serasa sangat sakral dan bersifat nir-realitas (meskipun dianggap realistis). Pada satu kesempatan, entah di kali apa, kata ‘memaafkan’ didefinisikan sedemikan tidak wajar oleh seseorang yang entah (saya …

Lanjut baca

Celana Dalam Revolusi

Aku mencari perbedaan Antara Revolusi dan Perang Ketika selongsong peluru Melewati tubuhku Ghayath Almadhoun dalam Selebration (Alhaflah, Perayaan). Penyair Syiria itu barangkali bukan bertanya, tapi menohok. Atau mencoba mencekoki kita dengan beribu kesangsian tentang sejarah revolusi dan perang. Tak ada sejarah revolusi yang tanpa perang! Begitukah? Kita telah disibukkan oleh …

Lanjut baca

Anak Zaman yang Menyimak

-buat GM dan PAT Entah Nelson Mandela entah Gus Dur, kami tak tahu mana yang musti kami lihat sebagai nilai kepedulian yang mutlak kami akui dan kami anut. Dalam pusaran sejarah kekelaman Orba, kami bukan pelaku, kami juga bukan korban. Kami, anak zaman ini, hanya mampu menyimak, membaca, dan mengikuti …

Lanjut baca

KANCIL

Alkisah, suatu ketika, seorang petani jengkel karena timunnya disatroni oleh kancil. Ini untuk kesekian kali ia harus jengkel. Beberapa hari yang lalu, sekitar 2×2 meter petak berisi penuh oleh timun, dihabiskan oleh hewan nakal itu. Pak petani itu memikirkan cara agar ia tidak kecolongan lagi. Di beberapa pojokan sawahnya, terpancang …

Lanjut baca

Malam

Sejak Ibu saya menghimbau untuk tak tidur malam dan baru boleh tidur setelah matahari muncul, entah kenapa saya tiba-tiba mendapat karunia dalam bentuk keberanian melawan kantuk. Ketika itu saya masih usia sekitar antara 11 sampai 13-an, dan saya sungkan meminta alasannya untuk itu—hal yang sejauh ini memang saya hindari begitu …

Lanjut baca