Home / Resensi / buku / Cerita-cerita yang Ingin Berkesan
foto diunduh dari www.goodreads.com

Cerita-cerita yang Ingin Berkesan

Judul buku: Semua Orang Pandai Mencuri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Kumpulan Cerpen
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 136 hlm.
No ISBN: 978-602-03-1486-0

Cerita di kumpulan cerpen (kumcer) ini akan membawa pembaca ke zona metropolis yang mapan dengan perkara yang bisa ditemukan di film maupun sinetron televisi zaman sekarang. Tidak ada suguhan tentang konflik-konflik lokal yang justru tidak pernah ada habisnya untuk di angkat ke permukaan. Cerpen di buku ini ialah cerita yang di titik terakhirnya akan ditanyai tentang kesan dan aroma jika ia tak memberinya secara sukarela.

Ada dua belas cerpen dalam buku ini yang ditulis oleh dua belas penulis yang berbeda. Semuanya merupakan cerpen yang pernah dimuat dalam majalah Esquire seperti yang dikatakan Dwi Sutarjantono, editor Esquire, di dalam pengantar buku ini. Dalam pengantar kedua Richard Oh mengatakan bahwa cerpen dalam buku ini memotret sisi kehidupan manusia-manusia urban dengan geliat hasrat, belitan problema, dan pencarian jati diri. Apakah pernyataan ini tepat? Richard Oh menganjurkan kita sebagai pembaca yang baik untuk menyimak dan menarik kesimpulan masing-masing.

Meski cerpen dalam buku ini berasal dari majalah Esquire, tetapi nama-nama kontributor yang ada tidak jauh berbeda dengan pengisi di kumpulan cerpen Kompas semisal Seno Gumira Ajidarma, Eka Kurniawan, Djenar Maesa Ayu, dan Bre Redana. Seolah-olah kualitas sebuah antologi ditentukan dengan munculnya nama-nama itu. Namun delapan cerpenis lainlah yang justru menjadikan cerpen Esquire mempunyai karakter dan standar sendiri dalam penceritaannya. Di antara mereka ialah: Tommy F. Awuy, Dwi Sutarjantono, Restoe Prawironegoro Ibrahim, Cok Sawitri, Edo Wallad, Anton Kurniawan, Dina Oktaviana, Alex Nainggolan.

Selesai membaca cerpen pertama berjudul Dinda dan Ben saya terkejut dengan ending yang di luar prasangka. Tommy F Awuy membawa cerita yang sederhana, tema ringan, tetapi cara penceritaannya unik. Meski begitu, jika dicermati di tengah-tengah cerita akan ada semacam spoiler tentang ending yang akan terjadi. Dan karena bagian memuaskan dan paling kuat berada di akhir plot, cerpen ini mungkin sulit dinikmati ketika ingin dibaca ulang. Bukan berarti bagian cerita yang lain sia-sia, sebab dalam satu tubuh cerpen ini, alur cerita yang ada itu saling menguatkan. Berkat cepen pertama ini saya menjadi lebih penasaran dengan cerpen selanjutnya.

Cerpen Eka Kurnuiawan yang juga menjadi judul antologi Semua Orang Pandai Mencuri melanjutkan kualitas menawan dari cerpen awal. Eka membuat saya melupakan beberapa kekurangan dari cerpen pertama. Meskipun tema yang dibawakan berbeda dengan sebelumnya, bahkan dengan cerita-cerita setelahnya, tetapi rumitnya perkara pencurian yang dibalut kisah cinta yang ironi menimbulkan kesan tersendiri. Eka menuturkan dengan teknik penceritaan yang membuat pembaca tak bisa menebak-nebak. Ia mengharuskan saya membaca cerpennya dua kali lalu senyum puas dan lega muncul secara tiba-tiba.

Seperti cerpennya yang lain, paragraf awalnya sukses menjadi magnet untuk beranjak ke kalimat berikutnya dan membacanya dengan hikmat. Eka menarasikan pencurian di sebuah rumah yang semua sisi dan isinya diaduk-aduk, tetapi meninggalkan kejanggalan.

“Tapi tak ada sebuah benda pu yang hilang, kecuali ini: sebatang sapu ijuk. Itu disadari ibu Laila sehari kemudian.” Begitu Eka menulis kalimat penutup di paragraf terakhir. Ringan, tapi sekaligus membuat penasaran.

Sayangnya Wanita dari Blok Cepu karya Bre Redana membuat kepuasan saya menurun drastis. Sebab, usai disuguhi Eka dengan penceritaan unik, konflik yang dekat, dan pergulatan emosi yang kental, Bre Redana hanya menyuguhkan cerita sambil lalu dengan emosi yang tipis.

Di cerpen selanjutnya karya Djenar Maesa Ayu dan Seno Gumira Ajidarma, saya berharap dapat mencapai titik kepuasaan seperti saat membaca Semua Orang Pandai Mencuri. Namun harapan itu tak terkabul dengan sangat ketika cerita mereka berdua selesai terbaca. Bahkan saya bertanya, apakah ini benar-benar karya Djenar dan Seno? Hilang Ditelan Rumah karya Djenar Maesa Ayu justru mirip dengan cerita Bre Redana. Sekadar bercerita tentang kaum urban yang kesepian. Tidak ada kejutan atau kesan beraroma yang diberikan oleh Djenar. Sedangkan Seno dengan cerpennya berjudul Sepatu Kulit Ular Warna Merah hanya berputar-putar tentang seorang laki-laki dan wanita bersepatu kulit ular warna merah yang sering bertemu di sebuah pesta. Ia pun tak memberi keunikan di akhir cerita atau membuat cerita yang mengambang seperti kebiasaan yang biasa dilakukannya.

Kemudian Dwi Sutarjantono menghadirkan cerita tentang LGBT dengan judul Di Ujung Jalan Orchard. Tema ini ditulis dengan lumayan dan ringan bahkan seakan sangat tipis sehingga menjadikan tujuan apapun dari tulisannya kurang menekan sasaran. Saya hanya mengakhiri pembacaan dengan tertawa. Itu saja.

Di sisa enam cerpen yang lain, saya hanya memiliki kesan pada satu cerpen, Lelaki dengan Ransel. Apalagi dengan saya yang belum mengenal sang penulis cerita, Edo Wallad, menambah kesan terhadap cerpen ini. Metafora yang dipakai begitu dalam ketika menggambarkan semua kenangan dan pengalaman dalam bentuk kepingan-kepingan yang bertempat di ranselnya. Namun si lelaki lupa tentang kepingan itu sebab ia telah begitu lama tak menyentuhnya dan tak mengingatnya sehingga membuat heran teman perempuannya.

“Sudah lama aku lupa apa isi tasku.”

“Kehidupan yang bisa menularkan rasa hidup pada orang bisa terlupakan?”

Selain itu penggambaran karakter tokohnya juga kuat, baik itu si laki-laki yang tak mau terjebak kenyamanan atau pun perempuan yang lebih suka tinggal menetap dan menghambat kegigihan lelaki.

Lima cerpen lain mencoba dan berusaha membuat kejutan terutama di bagian akhir cerita, tetapi belum mencapai tingkat yang bisa dikatakan sukses. Bahkan cenderung tidak meninggalkan kesan bagi pembacanya. Misalnya dalam Sebutir Peluru untuk Sang Bapak karya Restoe Prawironegoro Ibrahim yang mengangkat cerita seorang PSK yang menghabiskan malamnya dengan klien yang membayarnya mahal. Malam itu ia tak hanya bekerja, tetapi punya tujuan lain. Hingga di malam itu terjadi klimaks cerita saat pembunuhan terjadi lalu akhirnya ditutup dengan kalimat tidak menguatkan muatan cerita sebelumnya dan justru menurunkan kualitas cerita.

Masih ada cerpen Lelaki Muda Itu Menagis dari Cok Sawitri dan Perempuan Pertama racikan Dina Oktaviana. Kedua cerpen itu terasa sangat absurd dan sulit untuk dimaknai dalam sekali baca. Meskipun akhirnya cerpen Sawitri dapat terpahami, tetapi tidak ada kesan yang terberi. Sedangkan cerpen Dina tentang kehidupan pasangan Len dan Nel, saya belum dapat menafsirkan nilai absurdnya.

Dua cerpen lain menggambarkan kisah cinta laki-laki dan perempuan yang ironi. Cinta Semanis Racun karya Anton Kurniawan dan Alex Nainggolan dengan cerpen berjudul “Hmm…”. Namun kisah cinta yang mereka bangun tidak dituliskan dengan cara yang tepat, meski saya suka dengan metafora yang digunakan Anton. Keduanya mengangangkat tentang manis pahitnya cinta dan sebuah perselingkuhan. Anton mengakhiri ceritanya dengan pahit. Ia juga dengan aneh berusaha menyelipkan sebuah kritik dalam satu adegan lewat sang tokoh yang mengeluh sia-sia. “ Apa daya, hukum adalah titah penguasa. Padahal, bagaimana mungkin aku tega membunuh sesorang yang pernah kucintai?” Sedangkan Alex menjadikan pergulatan batin seorang wanita untuk menilai perselingkuhan sebagai sesuatu yang “hmm…”. Nyatanya benar, saya mengakhiri pembacaan antologi ini dengan kata “hmm…”

Membaca Semua Orang Pandai Mencuri secara keseluruhan, seperti mengumpulkan kepingan cerita realis tentang hubungan perempuan dan lelaki yang penuh ironi. Meski masing-masing dibalut dengan temanya beragam, tetapi ada satu benang merah yang bisa dikentarakan, yaitu tentang manusia urban dengan segala kompleksitas yang dialami dan dihadapinya. Kehidupan yang jalannya tak selalu mulus, kadang terjal, pahit dan menyakitkan. Namun sayang, beberapa penulis terjebak pada pergumulan emosi yang terlalu kaya. Padahal sebenarnya sederhana dan dapat disampaikan dengan sederhana pula, tanpa perlu banyak berpuisi. 

Dengan karakter yang berbeda, masing-masing penulis mencoba untuk memberikan kepuasan dan kesan terhadap pembacanya, tetapi tak lupa disesuaikan dengan batasan yang disyaratkan. Hasilnya tiap dari cerpen ini berhasil membuat penanda identitas cerpen Esquire. Bukan cerpen beraroma Kompas, meski ada beberapa nama yang tenar sebagai cerpenis kompas, seperti Seno, Djenar, Eka Kurniawan. Sebab cerpen dari penulis lainnya seakan memastikan diri menjadi tanda pengenal Esquire yang valid dalam buku setebal 136 halaman.

Dalam soal editorial kumcer ini sangat baik. Tak ada kesalahan yang mencolok mata. Apalagi desain sampul yang terlihat elegan dan judul yang mengundang penasaran akan menambah minat seseorang untuk membaca dengan hikmat.

Dari antologi ini pula kita dapat menyadari bahwa tidak selamanya penulis ternama akan selalu menghasilkan karya yang baik. Sebab mereka tak melulu berhasil dan memuaskan dalam menulis cerita, sehingga kita tak perlu mendewakannya.

Sebaliknya pembaca akan mendapati penulis yang kurang tenar, terasa asing namun cerpennya menawan. Mereka memberi kesan di tiap bagian cerita dan seakan sengaja mencuri perhatian mata serta pikiran. Lalu karenaya pembaca akan mengiyakan judul karya Eka Kurniawan, bahwa Semua Orang Pandai Mencuri. Dengan caranya masing-masing untuk tujuan yang sukar dipahami dengan akal sehat atau apapun juga.

Ubaiyu Hibban

Kepala suku Rumah Budaya Akar, sebuah komunitas pegiat budaya di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir. Berkarir pula di Walisongo FC.