Home / Uncategorised / “Cintaku Pada Rabb-Ku Tidak Menyisakan Ruang Untuk Membenci Syaitan”

“Cintaku Pada Rabb-Ku Tidak Menyisakan Ruang Untuk Membenci Syaitan”

91

kswmesir.org Hidup sehat adalah dambaan setiap insan. Hidup sehat tidak harus mahal, meski ada juga yang rela mengeluarkan biaya banyak untuk hidup sehat. Kesehatan adalah nikmat yang kadang lupa disyukuri. Nikmat yang tanpa terus kita minta, selalu Allah sajikan setiap saat.“Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?” 

 

Setiap orang punya cara masing-masing untuk menjaga kesehatan fisiknya. Olahraga, makan makanan bergizi, konsultasi kesehatan, bahkan tak jarangbrowsing atau membaca buku-buku tips kesehatan. Namun sekarang yang perlu ditanya, bagaimana kabar ruhani kita? Bagaimana kabar hati kita? Bagaimana keadaannya? Apakah dia sehat? Apakah wajahnya bersih? Apakah wajahnya bersinar? Apakah “nutrisi”-nya tercukupi? Apakah rutin dibersihkan??

Hanya kita dan Pemilik kita yang tahu pasti wajah asli hati kita. Hanya kita dan Pemilik kita yang tahu pasti seberapa cantik ia, seberapa halus ia, seberapa kuat ia, seberapa jernih ia. Hanya kita dan Pemilik kita yang tahu pasti bagaimana kesungguhan kita menjaganya.

Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal darah, yang apabila ia baik, maka baik pula seluruh diri dan amal perbuatan manusia tersebut, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh diri (amal dan perbuatan tersebut). Ingatlah, ia adalah hati”. (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Nu’man Ibn Basyr r.a.)

Nampak sederhana, bukan? Kita pasti sudah sering mendengar atau membaca tentang itu. Tapi apakah sudah kita coba telaah untuk diri?

Rabi’ah ‘Adawiyah pernah ditanya, “Wahai Rabi’ah, apakah engkau membenci syaitan?” Rabi’ah menjawab, “Cintaku pada Rabb-ku tidak menyisakan ruang untuk membenci syaitan.”

Semakin hati bersih, semakin tipislah jarak antara hamba dan Rabb-nya. Semakin tipis jarak antara hamba dengan Rabb-nya, bergeraklah anggota badan dalam gerak penjagaan-Nya. Lisan yang berucap baik. Mata yang melihat hal baik. Telinga yang mendengar hal baik. Tangan yang ringan berbuat baik. Kaki yang ringan melangkah menuju tempat yang baik.

Jika kita mencintai sesuatu, maka sekuat mungkin akan kita jaga apa yang kita cinta itu dari hal buruk. Lalu bagaimana jika Allah yang Mencintai kita? Kata Salim A. Fillah, “tugas kita hanya taat kan?”

Bicara tantang hati, bicara tentang diri, bicara tentang momen yang ada di hadapan kita, Ramadhan. Momen pengampunan, momen dijaga dari jerat tipu daya syaitan, momen dilimpahkan rahmat, dan momen perbaikan diri. Maka,

sudah segigih apa kita meraih itu?

Apakah masih ada detik yang terlewat dengan tidur tanpa dzikir?

Apakah masih ada detik yang terlewat dengan pembicaraan tidak baik?

Apakah masih ada detik yang terlewat dari ingatan pada-Nya?

Apakah masih ada sahur yang terlewat tanpa syukur dan doa?

Apakah masih ada buka puasa yang terlewat tanpa syukur dan doa?, dan

Apakah kita sudah gigih mencoba menghapus sedikit demi sedikit noda yang menempel di hati?

Dalam mustajabnya doa orang yang berpuasa, dalam bulan pengampunan.

Hanya kita yang bisa menjawab.

Hanya kita dan Pemilik kita yang tahu pasti betapa indah diri kita dalam taubat dan kejernihan.

Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita, utamanya jari kami yang menyampaikan “lukisan” untuk pembaca yang telah jauh lebih baik dari kami.

Tidak ada niat sedikitpun menasehati. Hanya bentuk rasa sayang kami pada saudara, untuk bergandeng tangan, berjalan bersama meraih dekap-Nya.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan salah.

 

Selamat menunaikan ibadah Ramadhan. (Raisah)

 

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Final CCL, Munculnya Juara Baru

Kairo, kswmesir(6/9) – Akhirnya gelaran Cempe Champions League(CCL) berakhir dengan anti klimaks. Barcelona yang mengirimkan …