Home / Uncategorised / Darul Lughoh: Antara Bolos dan Ongkos

Darul Lughoh: Antara Bolos dan Ongkos

Membolos ternyata masih digemari. Khususnya bagi kalangan murid Darul Lughoh Universitas Al-Azhar. Ada yang bolos murni, dan bolos semi-murni. Bolos murni berarti murid full tidak datang ke kelas dan tanpa keterangan jelas, sedangkan bolos semi-murni, murid datang ke kelas sejenak dengan tujuan isi absen saja. Padahal biaya DL pun cukup mahal, perlevelnya sebesar 540 LE untuk level Mubtadi’ sampai Mutaqaddim, sedangkan Mutamayyiz hanya perlu membayar setengahnya.

Faktor absen dan biaya yang menguras kantong, sebenarnya cukup menghalangi murid dari tindakan membolos. Karena biaya yang tidak sedikit seharusnya menjadi pemacu agar lebih serius dalam belajar. Juga adanya absen, sebagai penentu murid dapat mengikuti ujian akhir mustawa dan naik ke level selanjutnya, atau tetap tinggal di mustawa yang sama dan membayar kembali biaya pada mustawa tersebut. Tetapi yang terjadi justru tidak sesuai lazimnya, pembolosan masih saja terjadi.

Alasan utama yaitu Malas, entah malas karena hal positif atau negatif, intinya malas datang ke kelas untuk mengikuti proses pembelajaran. Mungkin mereka telah memiliki berbagai kegiatan lain, seperti organisasi, mengikuti talaqqi-talaqqi, atau kajian-kajian. Karena seperti yang kita ketahui, tahun ini sistem perkuliahan Universitas Al-Azhar kembali berubah, yang awalnya bisa kuliah sembari mengikuti Darul Lughoh menjadi wajib menyelesaikan semua Mustawa yang ada, lalu baru bisa kuliah. Hal itu menjadi tekanan bagi sebagian Camaba Al-Azhar. Dan otomatis, mereka belum mempunyai kegiatan formal selain mengikuti DL. Sehingga mereka harus pandai mengisi jadwal dan mengaturnya.

Mengesampingkan Darul Lughoh yang seharusnya menjadi prioritas utama, itulah yang perlu dipertanyakan. Apakah proses pembelajaran di Darul Lughoh membosankan? Atau mereka yang membolos sudah merasa pintar dan tak perlu lagi mengulang pelajaran yang sudah mereka ketahui? Sehingga mereka tidak merasa menyesal untuk absen, dan lebih memilih mengisi waktu DL untuk kegiatan lain yang menurut mereka lebih penting.

Menurut Azuma, salah satu murid Darul Lughoh yang duduk di Mustawa Mutawassith Awal, karena durasi pembelajaran Darul Lughoh hanya setengah hari, maka alangkah lebih baik jika mengisinya dengan kegiatan lain, seperti talaqqi, organisasi, tetapi itu bukanlah alasan untuk bolos. Azuma sendiri merupakan tipe pelajar yang tidak dapat lepas dari organisasi, dimanapun ia berada, namun untuk saat ini, cukuplah kita sebagai pengamat, bukan pemeran utama, sehingga tidak mengganggu belajar, tetapi juga jangan apatis dan ogah-ogahan.

Tentang sistem pembelajaran di Darul Lughoh yang memang berbeda dari pembelajaran yang diterima murid sebelum kedatangan mereka ke Mesir, yaitu penggunaan Bahasa Arab dalam menyampaikan dan menjelaskan materi, yang tentunya menuntut kecermatan mereka dalam memahami dan mendengarkan. Memang begitulah seharusnya, itu sebagai pembiasaan dan sarana berlatih sebelum benar-benar menjadi Mahasiswa Al-Azhar nantinya. Walaupun jika diamati agak monoton dan menurut sebagian murid, terkesan membosankan, karena setiap hari diisi oleh guru yang sama. Tetapi berbeda dengan pendapat Azuma, “Darul Lughoh membosankan? Saya kira tidak. Bagus, ada suasana baru, meskipun kami yang berbasis salaf, dari segi teori jauh lebih mendalam daripada DL, tapi di sini penekanannya praktek, dan juga penyampaian materi yang berbeda dari guru-guru kami sebelumnya, jadi lebih berwarna”, tuturnya.

Esensi diadakannya Darul Lughoh adalah untuk meningkatkan kualitas kecakapan Bahasa Arab Camaba Al-Azhar. Hingga mereka benar-benar siap menjadi Mahasiswa Al-Azhar yang berkualitas. Tujuan pelajar dari berbagai belahan dunia datang berbondong-bondong ke Negeri Kinanah ini adalah untuk belajar, menimba ilmu. Apapun sistem dan peraturan yang berlaku, selama niat lurus, pastilah kemudahan selalu menyertai. Sebetulnya itulah pokok ‘paradigma’ yang perlu dibenahi sebagai bekal menjalani berbagai bidang kehidupan.

Sebenarnya, banyak kemungkinan mengapa pembolosan bisa terjadi yang bukan karena faktor uang atau absen. Mereka mungkin telah memahami hakikat menuntut ilmu, serta rukun-rukun yang seharusnya ada dan berproses di dalamnya. Salah satu rukun menuntut ilmu yaitu adanya biaya. Biaya dalam konteks ini yaitu Darul Lughoh. Bayar tetap, masuk tak penting. Yang terpenting adalah menuntut ilmu, apapun dan dimanapun itu. Biaya biarlah untuk Darul Lughoh yang telah memberi ilmu, dan menjadi infaq. Tetapi kita tetap menuntut ilmu, walau tidak di Darul Lughoh sepenuhnya. Mungkin mereka lebih memilih menuntut ilmu langsung kepada para Masyayikh di masjid-masjid atau madyafah-madyafah. Tetapi banyak pula yang memang tidak niat, hanya menghamburkan uang orang tua, malas, dan lebih memilih urusan keduniaan lainnya dan lupa tujuan awal. Semua kembali pada diri kita. Dan kita tidak tahu niat yang ada pada diri seseorang. Semua hanya bisa dianalisa dan diduga-duga. Wallahu a’lamu bi al showaab.

Silma Dianaty Elfath

Comments

comments

Lihat Juga

Sebuah Peringatan

Mantra Asmara bisa dinikmati dengan berbagai macam cara. Di antaranya, ada yang menikmati lisensi puitika …