Home / Masisir / Dibalik Ketidakhadiran Grand Syekh di Wisuda (2)

Dibalik Ketidakhadiran Grand Syekh di Wisuda (2)

Ketidakhadiran Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmad Thayyib, di acara wisuda beberapa waktu lalu, sekali lagi masih menyisakan polemik. Stigma-stigma miring seringkali masih menggelinding bak bola panas yang melanglang di tengah arena opini publik. Sekali para wisudawan-wisudawati harus kecewa akan hal yang terulang setiap tahun ini. Dari tahun ke tahun, selalu saja Grand Syekh mendadak membatalkan kehadiran begitu acara tinggal beberapa hari saja menjelang hari H.

Dalam hal ini, tim redaksi kswmesir.org mencoba mengorek informasi lebih jauh asal muasal dan penyebab ketidakhadiran beliau di acara wisuda tahunan. Benar, memang secara teknis, beliau mungkin memiliki kesibukan atau kepentingan mendadak yang lebih urgent, sehingga memilih memberikan mandat kepada rektor Al-Azhar untuk hadir menyaksikan penahbisan mahasiswa yang telah menyelesaikan jenjang studi S1/S2-nya tersebut. Namun, kalau ditelisik lebih lanjut, adakah kiranya hal-hal tersirat yang membuat beliau mengurungkan kehadiran?

Ada selentingan publik yang mengatakan bahwa acara wisuda, adalah murni ide para mahasiswa sendiri, bukan sebuah tradisi yang termasuk rangkaian seremonial pendidikan formal S1/S2 Al-Azhar. Maka dari itu, Grand Syekh tidak berkenan untuk campur tangan dalam hal itu. Namun sekali lagi selentingan tersebut ditangkis dengan statement lain yang mengatakan, bahwa jika Grand Syekh memang tidak berkenan untuk itu, tentu beliau tidak akan mengutus rektor Al-Azhar untuk mewakili.

Sebuah anomali yang hingga detik ini belum ada yang tahu pasti warna konkritnya memang. Namun kalau kita kembali kepada norma kesusilaan, kita akan menemukan pertanyaan yang open answer di sana. Hal ini juga yang menggiring sebagian opini publik ke ranah etika. Adalah undangan yang disampaikan kepada Grand Syekh. Otoritas setara PPMI, apalagi kekeluargaan, tentu bukan pihak yang tepat untuk mengundang beliau hadir. Tentu KBRI-lah satu-satunya instansi yang layak akan hal itu, mengingat beliau kalau berkunjung ke negara-negara lainpun atas undangan kepala negara tersebut, bukan oleh menteri atau instansi lain.

Dalam hal ini, yang memiliki otoritas penuh tentu adalah Duta Besar (Dubes), untuk menyerahkan secara langsung undangan tersebut, selaku pimpinan dari negara yang mengundang. Kalau seperti itu, bisa jadi akan lain ceritanya, karena Grand Syekh mungkin akan berpandangan bahwa itu adalah acara negara, mengingat yang mengundang adalah pimpinan resmi perwakilan negara tersebut.

Nah, di acara wisuda kemarin, memang benar undangan atas nama KBRI dan ditandatangani oleh Dubes, namun masalahnya yang menyampaikan adalah perwakilan dari PPMI. Itupun tidak secara langsung disampaikan kepada Grand Syekh, melainkan dititipkan ke sekretaris beliau. Kalau dilihat secara etika, hal tersebut tentu mencerminkan ketidakseriusan dan terkesan tidak menghargai. Sebagai contoh, beberapa lalu Dubes Filipina ingin menyampaikan beberapa persoalan mengenai mahasiswa dari negara tersebut kepada Grand Syekh secara langsung. Setelah melewati prosedural dan menemukan waktu yang tepat, Dubes Filipina akhirnya bisa menemui Grand Syekh selama sepuluh menit untuk menyampaikan persoalannya. Hal tersebut tentu dapat dijadikan rujukan, dan dapat ditarik benang merah bahwa Dubes adalah jembatan emas yang bisa menghubungkan mahasiswa dengan Grand Syekh.

Namun sekali lagi stigma-stigma tersebut adalah sebagian dari opini yang membaur di tengah-tengah belantara publik. Yang jelas sebagai mahasiswa Al-Azhar, tentunya kita akan merasa sangat bangga jika dapat bertatap muka secara langsung dengan Grand Syekh, yang tak lain juga merupakan orang tua kita. Kita sangat mengharapkan kehadiran beliau di acara wisuda tahun-tahun mendatang. Mudah-mudahan beliau tidak berhalangan lagi. (kim)

Ralat: Sebelumnya dalam tulisan Dibalik Ketidakhadiran Grand Syekh di Wisuda (1) disebutkan “Sebagai permintaan maaf atas ketidakhadirannya, beliau mengutus rektor baru Al-Azhar, Dr. Abdul Hayy Azb” yang benar rektor baru saat itu (masa transisi) ialah Dr. Abdussyafi (DR. Abdul Hayy Azb rektor baru sekarang, baru dilantik tanggal 2 oktober 2014, sedangkan wisuda tanggal 29 september 2014)

Lihat Juga

Mahasiswa Al Azhar Asal Banyumas Raih Gelar Magister Dengan Predikat Mumtaz

Mahasiswa Asal Banyumas, Antoni Oktavian, resmi menyandang gelar Magister Universitas Al Azhar dengan predikat mumtaz, …