Home / Uncategorised / DKKM Baru; Harapan Baru

DKKM Baru; Harapan Baru

Kemarin (13/10) PPMI Mesir menyelenggarakan acara yang menjadi titik harapan keamanan Masisir di masa mendatang, yaitu pelantikan Dewan Keamanan dan Ketertiban Masisir (DKKM). Acara yang menjadi tonggak estafet dalam menjaga keamanan dan kenyamanan Masisir ini berlangsung di Konsuler KBRI Kairo. Acara tersebut dihadiri kurang lebih 20 orang dari Masisir, baik rekan-rekan DKKM yang akan dilantik, maupun ketua-ketua kekeluargaan, serta PPMI dan juga WIHDAH. Dari pihak KBRI pun, beberapa tamu undangan maupun perwakilan fungsi tertentu hadir dalam acara tersebut, seperti; bapak Windratmo selaku fungsi Pensosbud KBRI Mesir, bapak Agus Hendriyanto BIN LU KBRI, bapak Puji Basuki selaku Protkon konsuler KBRI, dan juga bapak Sony, serta bapak Harun.

Pada sambutannya, bapak Puji Basuki atau yang lebih akrab dipanggil pak Uki menyampaikan beberapa hal mengenai tindakan-tindakan yang harus diperhatikan oleh rekan-rekan DKKM secara khusus dan Masisir secara umum, seperti; pentingnya mengenal nomor-nomor penting di Mesir, baik yang bersifat keamanan seperti kantor polisi, atau pun darurat seperti nomor ambulance. Beliau juga mengapresiasi DKKM yang juga turut berperan langsung untuk turun membantu KBRI dalam upaya  menjaga keamanan Masisir di bumi Mesir.

Kepengurusan DKKM periode 2014/2015  yang dikordinatori oleh  saudara Baihaqi dilantik oleh bapak Windratmo yang sebelumnya telah memberikan “wejangan” tentang pentingnya sadar keamanan. Dan DKKM tentunya memulai dari sadar keamanan secara pribadi dengan senantiasa waspada dengan kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadi aksi kejahatan.

Setelah proses pelantikan DKKM periode 2014/2015, bapak Agus Hendriyanto beserta bapak-bapak KBRI yang lain seperti bapak Sony atau pun bapak Harun memberikan arahan-arahan pada rekan-rekan Masisir yang hadir.

Bapak Agus  mengawali dengan menasehati rekan-rekan Masisir untuk peka terhadap kondisi sekitar. Karena modus terjadinya aksi kejahatan berada di waktu-waktu korban meninggalkan rumah. Secara otomatis, pelaku bukanlah orang jauh dari korban, karena mengetahui jam-jam dimana korban tidak berada di rumah. Beliau menambahkan tentang kewaspadaan rekan-rekan Masisir terhadap maraknya pergerakan radikalisasi yang telah memakan korban. Selain itu,  beliau juga menyampaikan bahwa bentuk perhormatan kita terhadap institusi Azhar adalah  dengan cara menghormati para  ulamanya. Sangat naïf tentunya, kuliah di Azhar akan tetapi tidak berguru kepada ulama Azhar.

Setelah bapak Agus selesai memberikan arahan, bapak Sony menambahkan beberapa hal terkait pentingnya DKKM untuk tampil secara berani, cerdas dan juga cerdik,. Beliau juga menuturkan bahwa DKKM merupakan orang-orang pilihan yang dapat mengambil sikap ketika terjadi aksi kejahatan dan kemudian memberikan himbauan kepada rekan-rekan Masisir seluruhnya agar tetap waspada dimanapun berada.

Arahan terakhir disampaIkan oleh bapak Harun mengenai upaya perefleksian diri terkait aksi kejahatan yang  menimpa rekan-rekan Masisir. Artinya, ketika terjadi aksi kejahatan, rekan-rekan Masisir sekalian diharapkan tidak mencari kambing hitam, apalagi menimpakan segala kesalahan kepada pihak KBRI. Seyogyanya, mari mencoba melihat kedalam diri kita, karena bisa jadi kesalahan itu justru datang dari pihak rekan-rekan Masisir yang belum tanggap dengan kondisi yang ada, seperti; keluar di waktu-waktu yang rawan, atau bepergian ke kawasan yang cukup riskan. Beliau juga menambahkan

Penyampaian beberapa  arahan dari bapak-bapak KBRI kemudian disusul beberapa tanggapan dan masukan dari rekan-rekan Masisir, seperti; Baihaqi yang menanyakan peranan pengacara Mesir jika korban membutuhkan pengacara dalam mengajukan laporannya. Bapak Uki menjawab bahwa pengacara Mesir yang berjumlah lima orang tidak hanya mengurus permasalahan yang dihadapi warga Indonesia saja, akan tetapi juga masyarakat Mesir. Sehingga pihak KBRI terkadang sulit menentukan waktu yang tepat dengan para pengacara. Salah satu solusi yang diberikan bapak Uki adalah, ketika rekan-rekan Masisir menjadi korban tindak pidana kejahatan, maka langkah awal yang dilakukan adalah membuat laporan ke KBRI. Harapannya, laporan-laporan korban dapat dipersiapkan bersama pengacara sebelum masuk kantor polisi.

Ismail Adnan memberikan masukan berupa upaya konkret KBRI dalam menanggulangi rekan-rekan Masisir yang lebih cenderung belajar dari ulama-ulama yang tidak Azhari, salah satunya dengan mengutus mahasiswa dari PPMI untuk memantau kegiatan dan majlis-majlis ilmu disana. Bapak Agus menjawab bahwa cara yang ditempuh  alangkah baiknya tidak secara frontal. (fardan)

User Rating: Be the first one !

Lihat Juga

Final CCL, Munculnya Juara Baru

Kairo, kswmesir(6/9) – Akhirnya gelaran Cempe Champions League(CCL) berakhir dengan anti klimaks. Barcelona yang mengirimkan …