Home / ؞ Opini / Eksistensi Bank Islam Antara Konsep Dan Praktek

Eksistensi Bank Islam Antara Konsep Dan Praktek

Setiap Muslim yang beriman pastinya berusaha sepenuhnya untuk menjalankan perintah Allah Swt. dan meninggalkan larangannya. Diantaranya adalah menggunakan perkara yang halal dan meninggalkan yang haram dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari. Rasulullah Saw. menegaskan bahwa halal dan haram itu transparan dan diantara keduanya terdapat syubhat. Dalam menyikapi syubhat ini Rasulullah Saw. mengatakan: “tinggalkan perkara yang engkau ragu dan kerjakan perkara yang engkau yakin”.

Dalam konteks halal dan haram, maka hadis di atas berarti agar kita meninggalkan perkara yang diragukan keharamnya dan menjalankan perkara yang pasti halalnya. Untuk menentukan halal dan haramnya syubhat, perlu adanya ijtihad yang dilandasi dengan niat baik serta wawasan yang luas. Diantara syubhat itu adalah bank. Bank termasuk penemuan baru abad modern ini yang tidak ditemukan dalam referansi fikih klasik. Oleh sebab itu para ulama sekarang melakukan ijihad tentang bank. Sebagian ulama mengatakan halal dan haram bagi sebagian yang lain. Bank Islam didirikan adalah sebagai wujud implementasi ijtihad yang didasari persepsi adanya riba dalam mekanisme perbankan.

BANK KONVENSIONAL

Tujuan didirikan bank pada dasarnya adalah guna meningkatkan ekonomi, menyediakan lapangan kerja, serta mengurangi pengangguran. Dan untuk mewujudkan tujuan tadi, maka bank banyak melakukan aktifitas yang bersifat komplementer antara yang satu dengan yang lain. Bank juga berperan sebagai mediator antara investor dan nasabah atau depositor. Investor adalah mereka para businesman, pemilik perusahaan, petani dan pedagang yang ingin meningkatkan aktifitas ekonominya akan tetapi mereka tidak memiliki modal yang cukup. Kemudian meminta modal atau pinjaman dari bank dan pinjaman itu dikenal dengan “pinjaman produksi”. Sedangkan nasabah adalah mayoritas masyarakat yang tidak sanggup menginvestasikan keuangannya, baik disebabkan kurang berpengalaman atau sibuk dengan aktifitas lain.

Investor yang meminta pinjaman produksi dari bank dikenakan bunga pinjaman sebagai wujud pembayaran pada bank yang telah berperan sebagai mediator. Dan depositor atau nasabah mendapatkan bunga dari bank sebagai wujud dari keuntungan. Bank juga mengambil administrasi dari kedua pihak. Dan penetapan harga bunga bagi depositor dan peminjam ditetapkan oleh bank.

BANK ISLAM

Bank Islam mempunyai tujuan yang sama dengan bank konvensional dan keduanya di bawah pengawasan bank sentral. Bank islam juga menerima deposito, akan tetapi tidak menentukan harga bunga deposito lebih dulu, karena menurut persepsi sebagian ulama penetapan harga bunga itu termasuk riba dan terdapat unsur aniaya terhadap depositor. Dikatakan aniaya, karena penetapan harga bunga itu akan mengurangi hak depositor untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dari bunga yang ditetapkan sebelumnya di saat pihak bank mendapatkan keuntungan besar.

Bank Islam tidak memberikan pinjaman akan tetapi menggunakan keuangannya dalam bentuk musyarakah (kemitraan.red) dan mudlarabah. Musyarakah berarti pihak bank kerja sama dengan investor dalam suatu proyek. Dan mudlarabah berarti praktek jual beli barang. Bank Islam di Mesir hanya bisa melakukan jual beli barang selain emas dan barang berharga. Hal itu dilakukan berdasarkan keputusan bank sentral Mesir. Penetapan harga bunga dalam bank Islam menggunakan sistem murabahah (bagi hasil), dalam arti bahwa ada dan tidak adanya bunga ditetapkan menurut untung dan rugi.

EKSISTENSI BANK ISLAM

Bank Islam didirikan berangkat dari persepsi bahwa dunia perbankan dipenuhi dengan riba. Dan riba dilarang keras dalam agama Islam. Akan tetapi, benarkah bank konvensional itu riba? Bila memang benar, apakah bank Islam sudah mempresentasikan ajaran Islam hingga ia terhindar dari riba? Untuk menjawabnya penulis kemukakan dua poin yaitu:

1. Fatwa Dr. Sayed Thanthawi

Dr. Sayed Thanthowi, Grand Syeikh Azhar dan mantan mufti Mesir, menolak adanya penamaan bank Islam. Karena administrasi dan mekanisme semua jenis perbankan tidak keluar dari Islam. Beliau mengatakan, “mekanisme dan administrasi semua jenis perbankan sesuai dengan Islam yang adil dan benar”. Penipuan pada muslim atau non muslim hukumnya haram dan riba hukumnya haram, baik riba terhadap muslim ataupun non muslim. Demikian juga monopoli dalam Islam, hukumnya haram. Aktifitas perdagangan tidak hanya terbatas pada satu atau dua jenis, akan tetapi aktifitas dalam Islam lebih dari dua puluh jenis. Diantaranya adalah: jual beli, sewa, gadai, musyarakah, mudlarabah, perwakilan, muzara’ah dan lain-lain.

Dalam fatwanya beliau juga menegaskan bahwa bunga atau keuntungan yang didapat dari bank itu halal. Beliau mengatakan, “seorang yang menyimpan uang di bank dengan niat memberikan amanat kepada bank untuk menjaga uangnya, maka ia harus membayar biaya penjagaan kepada bank”. Seseorang yang menyimpan pada bank dengan tujuan menjadikannya sebagai wakil untuk mendayagunakan uang tersebut dalam perdagangan misalnya, maka bunga atau keuntungan yang diambilnya dari bank hukumnya halal. Kemudian pembatasan terhadap harga bunga dilaksanakan lebih dulu antara pihak bank dan peminjam. Apabila keduanya sama-sama rela, maka tidak bertentangan dengan Islam. Dan di saat bank Islam mengalami kerugian, maka ia harus mengajukan perkaranya pada lembaga peradilan hingga lembaga peradilan memberikan keputusan yang merelakan keduanya.

Dengan adanya fatwa itu berarti persepsi adanya riba dalam dunia perbankan tidak sepenuhnya benar. Dr. Sayed Thanthawi tidak akan memberikan fatwa tanpa adanya studi yang mendalam.

2. Praktek Bank Islam

Realita menyatakan bahwa bank Islam tidak jauh berbeda dengan bank konvensional, yang ada hanya perbedaan istilah. Oleh karena itu perlu adanya konsep yang dinyatakan dan praktek yang dilaksanakan. Mereka menyatakan musyarakah dalam konsepnya dan tidak memberikan pinjaman. Bukankah musyarakah itu termasuk jenis pinjaman dan pendanaan? Musyarakah merupakan wujud dari keikutsertaan secara langsung oleh bank dalam melaksanakan proyek. Dan aktifitas semacam itu telah lama dikenal oleh bank. Mereka menyatakan untuk tidak memberi pinjaman dan berperan sebagai mitra dalam suatu proyek, akan tetapi mereka meminta pelaksana proyek untuk mengembalikan biaya dengan kredit serta menetapkan tetapnya kredit dalam akad.

Bank Islam menyatakan tidak memberikan bunga akan tetapi memberikan ‘aid (istilah bunga bank dalam Islam) dan harga ‘aid ditentukan berdasarkan keuntungan dan kerugian. Tetapi sejak tahun 70-an rata-rata harga ‘aid selalu sebanding dengan harga bunga bank konvesional. Padahal salah satu bank Islam di Mesir pernah mengalami kerugian dalam mudlarabah hingga bank sental melarangnya untuk melaksanakan mudlarabah atau jual beli mata uang dan barang-barang berharga.

Di tengah adanya perbedaan persepsi dalam bank, banyak bank Mesir mendirikan cabang bank Islam. dari sini timbul pertanyaan bukankah keuangan cabang tidak terpisah dari bank induk yang mereka sebut sebagai bank riba? Dengan begitu bank cabang dengan identitas Islam itu juga riba.

Oleh: Amin Handoyo

*PRESTASI No. 11 Vol. II Th. V Maret 1997

Tulisan ini pernah diterbikan dalam buletin prestasi dan telah mengalami beberapa perubahan redaksi karena unsur penyelarasan EYD sekarang, tanpa mengubah maksud isi tulisan.

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …