Home / OPINI / Facebook

Facebook

Bagaimana jejaring ini hendak menyumbat keraguan?

Entah di zaman yang bagaimana kita hidup. Semua serba mendadak dan membutuhkan pemahaman yang mendadak pula. Semua tak bisa pelan, satu sama lain saling menyalip, menyikut, menundung dan akhirnya menjatuhkan.

Ada kesegeraan yang kita tuai di tiap kita membuka jejaring sosial. Di sana, manusia menjadi alat spontanitas maya. Pada gilirannya, kita, manusia sering menjadi setengah hidup. Nafas kita tersengal di antara kata-kata yang setiap detik menuding-nuding hidung kita, mencari dan menjagal kaki kita. Hidup kita diatur oleh gambar yang setiap saat ingin diperhatikan, dimengerti, dan dipahami. Dan juga, setiap yang dulu kita namai diri kita telah membelah diri jadi seseorang yang bahkan bisa jadi tidak kita kenali lagi. Kita telah menghilangkan diri kita dengan sengaja.

Tak mengherankan jika banyak sekali kelalaian yang kita dapatkan di sana. Dalam proses yang sedemikian rupa, entah, kelalaian yang akhirnya disengaja seringkali menunjukkan taring-taringnya di sela-sela gambar, kata-kata, curhatan, dan ratapan. Semua memburu untuk segera dimengerti. Kini, manusia dalam biangkai kesegeraan. Setiap momen seolah ingin buru-buru ditunjukkan—untuk, katanya, menguatkan eksistensi dalam kehidupan ke-maya-an—eksistensi yang sesungguhnya ‘diadakan’ dan menerima pengobjekan, bukan mandiri.

Padahal di sana ada yang membuntu dari sublim emansipasi manusia. Manusia rekah dari batu-batu niscaya yang tak dapat didefinisikan dengan mudah. Tapi di jejaring sosial, semuanya berubah. Manusia menjadi sangat mudah diterjemahkan dan menerjemahkan. Di sana, ada dunia legalitas yang menamai dirinya dengan maya; yang menyumbang kepedihan sesaat, kebahagiaan sesaat, dan kenikmatan sesaat. Yang serba sesaat mencari syahwat keabadian, memburu makna yang justru membuntutinya.

Facebook, adalah puncak hastrat manusia yang tak bisa dibendung. Ia adalah tempat di mana aku-internal melihat aku-eksternal. Jika pada mulanya tak ada peristilahan aku-internal maupun aku-eksternal, maka di facebook, hal itu berlaku dengan niscaya. Aku-internal sebenarnya tak pernah berjarak dengan aku-eksternal, mereka satu. Namun, di sana, kita membentangkan jarak antara keduanya. Semacam ada sekat yang dibentangkan di antara satu hakikat yang terbelah.

Tampak ada yang diam-diam mencuri diri kita dari kita sendiri. Dimensi privatif menuai berbagai rintangan, jalan membentang jauh menuju popularitas yang seringkali membuat kita tak nyaman. Di sana, tempat orang membuang dirinya. Membuang keyakinannya yang penuh keraguan. Dalam hal ini, manusia pada titik yang riskan, sekaligus mengesankan. Ia mulai memeluk yang jauh dan menyepak yang dekat, mengakrabi orang lain dan mencampakkan kerabat.

Dalam facebook, kerap kita temui berbagai kesungguhan yang tak benar-benar sungguh. Facebook menamai dirinya ‘pedagang kata-kata’. Tentunya, akan ada yang laku dan yang tidak. Yang laku menandai dirinya dengan ribuan jempol, yang tidak, memungkinkan dirinya untuk membeli dirinya sendiri, juga dengan jempol. Pada taraf yang membingungkan, facebook merapuhkan kayakinan yang elementer pada diri kita—berupa hasrat untuk meragukan segalanya dan meyakini keraguan itu.

Setiap detik, ada aku-eksternal yang lahir, lainnya berkembang biak. Tapi tak pernah ada yang mati, seringkali hanya tidur, terpejam. Ada saat di mana kita membayangkan akan ada yang mati di jejaring itu, tapi bukankah mati adalah soal lain yang tak berhubungan dengan maya? Entahlah. Yang jelas, aku-eksternal akan terus lahir, dan yang lain berkembang biak.

Pada suatu waktu, facebook bisa berlaku sebagai gudang memori. Setiap kenangan mendapatkan tempatnya di situ. Tapi tak semuanya berhasil dielaborasi. Selalu ada semacam kepanitiaan penyelenggara keraguan yang seringkali mematikan fungsi ingatan. Dan jadilah semua serba nisbi. Kita menemui diri kita sendiri melalui jejaring yang memberikan jarak, bukan melalui muhasabah, dan atau intropeksi.

Barangkali inilah yang digelisahkan oleh Afrizal Malna dalam puisinya: Abad yang Berlari. Ada kegelisahan yang mencuat di setiap ketukan katanya:

…..

Dunia berlari

Seribu manusia dipacu tak habis mengejar.

Kita memang sering tak menyadari bahwa kita telah ngos-ngosan mengejar dunia, nyata, apalagi maya. Ada keraguan yang kita yakini, lagi. Dan kita mengekalkan diri dalam keraguan yang ditawarkan di jejaring sosial, facebook. Tak ada yang sanggup kita lakukan kecuali meredifinisi makna keraguan. Bahwa ia adalah keyakinan yang kita tunda. Sebab dengan begitu, kita bisa sedikit merasa lega dan tak lagi was-was menghadapi bahkan diri kita sendiri yang sama sekali tak mampu dibiaskan oleh cermin jejaring sosial.

Di dalam facebook semua serba kemungkinan. Kata-kata mendapatkan tempatnya, tapi diliputi dusta yang manawan. Gambar-gambar menampakkan dirinya dengan malu-malu, sekaligus bringas dan ganas. Setiap yang berjalan di facebook, menamatkan riwayatnya sendiri-sendiri. Kita berjalan di situ, mencoba mengatasi keraguan dan menyumbatnya. [*]

Lihat Juga

Perbedaan dalam Beragama: Sebuah Cara Memaknai dan Menyikapi

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seringkali sebuah perbedaan menimbulkan percekcokan, permusuhan, bahkan pertumpahan darah. Padahal Allah …