Home / KSW NEWS / SEPUTAR KSW / HUT KSW: Monumen atau Momentum?

HUT KSW: Monumen atau Momentum?

Sebuah monumen dibangun untuk memperingati satu hal yang dianggap besar, luar biasa dan bersejarah. Kita sering melihat monumen, apapun itu, mandek dengan isyarat yang selalu tak sampai; dengan pesan yang seolah bisu; dan acapkali berakhir sebagai objek wisata. Monumen adalah dilema, sebentuk pembekuan terhadap sejarah, surah atribut terhadap masa lalu. Kenapa dilema? Satu peristiwa yang diimpikan sebagai penggerak dan spirit, berakhir sebagai satu perayaan rutinan, bahkan lebih rutin dari arisan ibu-ibu. Dengan bahasa yang lebih dramatis, Goenawan Mohamad: “Tokoh sejarah rata-rata mati dua kali. Pertama kali ia dimakamkan. Kedua kali ketika ia dibangun sebagai monumen.” Monumen seringkali mematikan; ia “berniat mengekalkan, tapi akhirnya membekukan”.

Monumen tak harus berupa patung, bangunan, tugu, atau apapun benda mati itu, tapi ia juga bisa berarti perayaan, sorak-sorai, kembang api, hiruk-pikuk, dan karnaval. Apapun bentuk momentum itu, ia punya satu tabiat: mencoba membekukan masa lalu dalam satu inskripsi. Di sinilah letak dilemanya. Pembekuan terhadap masa lalu dalam satu sapuan tugu, misalnya, atau dalam satu hajatan perayaan, misalnya, hanya bertahan sebagai benda mati, atau hanya bertahan sebagai acara yang sekejap kelar dan tanpa perenungan. Dalam perayaan, apapun itu, selalu hal itu yang kita saksikan. Satu inspirasi dianggap telah final, tinggal pemujaan.

Kita menghadapi HUT KSW yang rutin diadakan tiap tahun. Seolah baru kemarin perayaan itu diadakan, saat ini perayaan yang sama digelar lagi. Kita dijejali keajegan dan kerutinan yang nyaris sama; dengan hiburan dan riuh-rendah yang berbeda. Hampir tiap tahun, HUT berakhir, selalu, persis ketika acara juga berakhir, dan nilai-nilai penggerak yang seharusnya dihayati hanyalah status tempelan yang hanyut dan terdampar, tidak diopeni. HUT KSW menyisakan satu PR besar yang perlu digarap, agar ia tidak berakhir sebagai agenda rutinan yang tanpa faedah. Lalu pertanyaannya, bagaimana kita menyelesaikan atau paling tidak menggarap PR tersebut?

Setidaknya ada dua jawaban yang—paling tidak, memberikan stimulus tambahan buat agenda rutinan itu. Pertama, momentum. Secara lumrah, kita sering mengartikan momentum sebagai “kesempatan”. Tak ada yang salah. Momentum memang kesempatan untuk melakukan hal lebih atas satu peristiwa atau kejadian. Tapi coba kita kembalikan momentum kepada makna paling primordial: yakni kuantitas gerak. Kuantitas gerak di sini, sebenarnya menyisir disiplin ilmu fisika dari hukum gerakan (law of motion). Demi hajat kita, makna primordial ini bisa kita pinjam untuk memberikan kuantitas gerak, kesadaran, dan perhatian atas dasar keinginan dan tujuan komunal dari satu peristiwa, tujuan yang lebih bersifat tindakan bukan perayaan.

Kaitannya dengan HUT KSW, kuantitas gerak yang ditimbulkan dari adanya momentum harlah, bisa dimanfaatkan untuk menjadi motto pergerakan atas visi dan misi KSW sebagai satu kekeluargaan. Umur 29 bisa dibilang batu loncatan menuju kematangan. Perayaan HUT bisa menjadi ajang berbenah diri: melihat ke dalam, intropeksi, muhasabah. Dengan menjadikan HUT sebagai momentum (artinya tidak hanya monumen),  kita bisa memulai langkah dari hal yang prinsipil, contohnya, bagaimana menjadikan KSW sebagai keluarga yang benar-benar sanggup mengayomi masyarakatnya, sebagai rumah yang menjadi tempat singgah penghuninya. Di sinilah letak kuantitas gerak dari HUT yang kita maknai sebagai momentum.

Dengan kesadaran penuh, HUT KSW yang ke-29 mengambil tema yang cukup subtil: “Rumah Kita Keluarga Kita”. Meski terususun dari kata yang sederhana, tema ini sebenarnya kompleks. Di belakang tema ini, ada tumpukan masalah yang menunggu untuk dibenahi. Maklum adanya, KSW adalah kekeluargaan dengan jumlah anggota terbanyak di Masisir. KSW diuntungkan oleh kuantitas yang besar, dan kualitas yang cukup membanggakan. Meskipun demikian, sudah cukupkah KSW menjalankan fungsinya sebagai keluarga? Dari kuantitas yang banyak itu, ternyata yang ikut berperan aktif menghidupkan KSW bisa ditunjuk dengan jari. Kita hampir akrab dengan para penghidup KSW karena seolah memang orangnya itu-itu saja. Kita tentu prihatin dengan keadaan yang demikian.

Kita boleh mengesampingkan identitas kita sebagai penduduk Jawa Tengah, tapi kita tidak bisa (atau tidak mau) meninggalkan kenyamanan keluarga dan rumah. Jika kita tidak bisa menganggap KSW sebagai identitas kita (karena kita terlanjur menganggapnya akronim usang), anggaplah ia sebagai rumah kita.

Memanfaatkan momentum, tema itu bisa membangun satu kesadaran yang utuh tanpa perlu menjatuhkan orang lain. Kita singkirkan satu adagium yang berbahaya mengenai kesukuan dan rasisme yang lebih sering memandang orang lain sebagai ancaman eksitensial. Identitas memang sebuah “akronim usang” seperti kata Alain Badiou. Kita kesampingkan (artinya tidak harus ditanggalkan) identitas kita sebagai orang Jawa Tengah dan menengok ke dalam komunitas mikro kita, yakni keluarga. Dengan tafsir yang lebih simpel,tema itu ingin berkata: “Kita boleh mengesampingkan identitas kita sebagai penduduk Jawa Tengah, tapi kita tidak bisa (atau tidak mau) meninggalkan kenyamanan keluarga dan rumah. Jika kita tidak bisa menganggap KSW sebagai identitas kita (karena kita terlanjur menganggapnya akronim usang), anggaplah ia sebagai rumah kita.” Dan siapapun itu, selalu memimpikan keluarga yang nyaman dan rumah yang aman.

Kedua, spirit perubahan. Sebagai lanjutan dari momentum di atas, perubahan ke arah yang lebih progresif mutlak diperlukan. Jika KSW sudah dianggap menjadi yang “baik”, kita bisa menambahkan kata “lebih” di depannya. Artinya, di sana tidak ada klaim kepuasan. Selalu berbenah dengan melihat masa lalu sebagai inspirasi. Menengok ke sejarah, dulu KSW adalah gerakan kultural dari Masisir yang memandang penting adanya satu kelompok studi. Pada masa itu, di mana kekeluargaan belum lahir dan organisasi afiliatif tidak seramai sekarang, mendirikan kelompok studi adalah sesuatu yang mewah. Spirit yang dibangun di atas pondasi inilah yang agaknya selalu harus dikaji oleh KSW sebagai pewaris nama sakral itu.

Sebagai nama sejarah, KSW memanggul beban yang tidak ringan. Selalu, siapapun itu, nama sejarah yang gagah tidak akan menjadi spirit tanpa permenungan. Soekarno sebagai monumen adalah benda mati, ia adalah kata benda; Soekarno sebagai perayaan adalah kata sifat, ajektif. Sedangkan Soekarno sebagai inspirasi adalah kata kerja aktif, yang kualitas ajarannya tertanam di lubuk kita. KSW adalah nama yang gagah itu, nama sejarah yang sepak terjangnya membikin siapapun bergidik. Tanpa menghayati nilai-nilai kesejarahan KSW, kita hanya akan memperkokoh monumen dengan baja, tapi lupa atau alpa untuk memperkuat pondasinya. Tak ada tumbuhan tanpa akar. KSW tak akan ada tanpa sejarah yang membentuknya menjadi seperti sekarang ini, di umurnya yang relatif matang.

Tapi setiap kali pesta HUT digelar, perasaan dilema kadangkala malah absen, tertumbuk gegap gempita (padahal dilema adalah garis start untuk permenungan lebih lanjut). Banyak orang yang datang berlibur ke satu monumen, tapi tak banyak yang tahu siapa/apa yang mereka kunjungi. HUT memang terlanjur identik dengan pesta, satu tempat mampir yang setelah lalu segera ditinggalkan. Perayaan HUT semakin berpotensi menjadikan KSW sebagai hotel, tempat singgah sementara, jika ternyata ia hanya monumen tanpa momentum. Dari sini, kita patut prihatin. [*]

Oleh M.S. Arifin
(Tulisan ini dimuat di Prestasi edisi interaktif HUT ke-29)

Tentang admin

Lihat Juga

La Decima:10 Komentar Walisongo

Pagelaran Jawa Cup XIV memang telah berakhir. Namun, euforia La decima Walisongo FC masih terasa …