Home / OPINI / Identitas (Indentifikasi)
Rony GM. mendeskripsikan materi kajian.

Identitas (Indentifikasi)

Identitas, dalam perbincangan diskursif di era kesekarangan ini, selalu hadir dalam batas-batas imajiner dan tak memberikan kepastian dan ketetapan. Apalagi dalam proses identifikasinya, tak ada satu konsesus tunggal yang mampu mengatasi kemajemukan pemaknaan indetitas secara epistemologis, ontologis maupun etis secara intens. Entah itu, ketika kita mengidentifikasi identitas yang material, maupun imaterial. Ada kekaburan yang hadir tak jarang juga paradoks.

Dalam wujud yang material dan naratif, penulis hadirkan permisalan yang simbolik tapi memendarkan maksud yang terbahasakan: “kemarin sore, saya melihat perempuan putih, memiliki lesung pipi (sehingga bertambah manis), berbaju orange dan berkerudung pink. Temanku, dia duduk disebelahku pas, mendadak nyletuk sembari memberikan isyarat yang tertuju pada si perempuan: cewek iku kok ayu ya.” Permisalan ini sederhana, namun mampu menghadirkan konsekuensi logis yang epistemik dan teleologik.

Dari kalimat di atas, setidaknya, kita mendapat permisalan model me-identifikasi sebuah identitas dengan cara paling literal dan materiil. Literal dan material, proses indentifikasi yang berpijak pada ‘yang nampak’ dan ‘yang sudah terbahasakan’. Atau dalam bahasa lain, ‘mengidentifikasi dari yang mampu tertangkap oleh indera kemudian memendar lalu tertangkap menjadi sebentuk penilaian’ dan ‘di balik identitas material itu ada esensi yang tersembunyi’. Jadi, dari dua standar penilaian itu, keduanya bermula dari hal yang material. Entah, keberlanjutan dari yang material itu menuju sebentuk penilaian yang esensial atau di/terhentikan pada yang sudah ada itu (material). Hal ini, sangat bergantung pada kesadaran yang berkomulasi kepada kehendak internal subjek. Bukan diluar subjek.

Sehingga, tutur dari temanku itu bukan sekedar igauan atau ucapan ngelantur tapi mampu hadir menjadi sebentuk kesadaran psikis yang sering, mungkin menjadi kebiasaan, dia lakukan untuk menghadirkan penilaian atas sesuatu, atau identitas tertentu. Meski demikian, penilaian tak selalu ajeg dan utuh. Selalu ada patahan-patahan, mungkin juga terbelah pada waktu dan kondisi yang lain. Maksudnya, tak ada jaminan dari berbagai segi-divisi, nilai maupun pemikiran selalu menghadirkan proses identifikasi dengan satu model penilaian yang tunggal yang mampu mengatasi konteks dan realitas apapun. Tapi ternyata, psikis kesadaran secara material memiliki pertautan dengan definisi dan batas. Meski kedua hal ini masih bersifat imajiner tapi, dalam tahap-tahap tertentu, mampu terserap sebagai konteks kesadaran.

Tersebut kata cantik di atas, melalui celetukan “cewek iku kok ayu ya” (perempuan itu cantik), menghadirkan pemaknaan identitas: cantik karena berbaju yang mempunyai kecocokan antara warna, tubuh dan perangai laku yang nampak sehingga hadir dalam konteks keadaan yang terdesak menciptakan atau, mungkin, sekedar mengucapkan “dia cantik”. Tak mungkin, penilaian cantik (kejadian) itu hadir tanpa ada maksud dan arti esensial. Minimalnya, esensialisasi maksud dari penuturan itu adalah pujian tulus. Pujian itu, yang termaterialkan, melalui ucapan yang berpijak pada hasrat (desire). Dalam pemaknaan yang bersamaan, secara berbalik mengahadirkan maksud non-esensial. Yaitu, kejadian, dalam bahasa Alain Badiou, non-esensial hadir kala ketak-ajeg-an dan ketak-utuh-an itu mewujud dalam retakan-retakan epistemologik. Batas yang memberikan pembeda antara satu sama lain itu, mewujud menjadi sebentuk disparitas yang memiliki otonomisasi. Entah itu, sensasi tubuh, hasrat, ketulusan dan ‘kecantikan yang terpendar dari esensialisasi manusia secara mandiri’, bahkan, dalam bahasa yang sedikit agamis, akhlak.

Akhirnya, kita telah mendapatkan sebentuk identitas cantik yang, barangkali, bisa juga temaknai secara serupa tapi memendari dalam kesadaran yang berbeda. Sebuah identitas yang teridentifikasi secara maklum dan terakui, semerta ‘hidup bersama’ dengan bejibun identitas yang belum mampu terbahasakan atau masih terbahasakan secara simbolik.

Jika identitas dan identifikasi yang secara individual-psikologis tadi kita komunalisasikan secara sosio-kultural, gejala identifikasi semodel ini, secara tak sadar secara massif, ternyata menampakkan sebegitu material dan materialistiknya kesadaran paradikmatik sebuah komunitas. Dalam konteks kejadian itu, tentu saja, Masisir. Bukti paling terdekat melihat dari spontanitas yang terucap itu. Hampir kita temui dengan mudah, obrolan kultural maupun pada rapat-rapat. Mungkin tak semuanya, atau tak secara detail-satu per-satu manusia, tapi gejala materalistik ini teridentifikasi dalam gejala mayoritas yang, secara diskursif dan sudah menjadi gejala aksiomatik. Dalam artian, secara kesadaran wacana yang hadir ke permukaan, kala melihat latar-belakang kita sebagai mahasiswa keagamaan, bukan yang bersifat intelektual dan keagamaan. Tapi sudah/lebih terdominasi oleh bejibun wacana-diskursus bisnis dan semodel budaya hidup konsumtif-hedonis. Pada perspektif ini, akhirnya, secara pelan-pelan dan menjadi kemestian telah mereduksi secara gradual nilai identitas kemahasiswaan yang bergelut dalam ranah dan wilayah keagamaan, Islam.

Dari pijakan penilaian seperti itu, berarti, ada yang perlu dibenahi secara mendesak dan ‘sekarang juga’. Semerta, titik mula untuk mengembalikan mahasiswa kepada indentitas “yang kita anggap sesuai”. Bahkan, kita juga masih bisa memperdebatkan peng-identifikasi-an sebentuk identitas ini, tapi, tentu saja, ada kebersepakatan standar atau timbangan: identitas mahasiswa itu harusnya terdominasi dengan aktivitas belajar, berorganisasi dan “pergulatan dengan ilmu yang tak kunjung dan mengenal kata jenuh”. Pada konstruksi paradikma semodel ini, tentu saja, kita bisa menambahkan “cantik” bukan sekedar melalui simbol baju, kerudung dan lesung pipi, lebih sekedar itu. Yaitu, kecerdasan, kecakapan, dan produksitivitas si perempuan. Produktif dalam hal apapun: kepenulisan, bacaan, prestasi, kepadatan aktivitas yang bermanfaat dan masih bisa ditambahkan hal-hal produktif lain yang mampu terbahasakan. Bahkan, dalam bahasa yang ilusif dan terbalik, produktivitas dalam mencipta sifat keluguan yang natural.

Di titik ini, ada semacam peralihan fungsi dan identitas kemahasiswaan. Mula-mula, fungsi dan identitas kemahsiswaan bermuara pada slogan agen of change, bergelut dan eksis dalam aktivitas secara esensial untuk kebutuhan perkembangan spesifikasi ilmu. Namun, dalam kesekarangan ini, ada penggunaan fungsi dan signifikasi identitas kemahasiswaan secara tak lazim dan durjana: ‘status’ mahasiswa hanya dipakai ‘nilai tawar’ dan menggunakan untuk kebutuhan hasrat memperkaya diri. Aktivitas mengkapitalisasi status dan predikat ke-mahasiswa-an.

Pada konteks ini, ada keselarasan, pada sisi paradoksalitasnya, dengan apa yang pernah ditulis Ricoeur pada Jurnal History an Truth pada tahun 1965. Paul Ricoeur menulis “politics only exist in great moment in crisis”. Pernyataan ini, hadir ke permukaan sebagai basis pandangan paradoksalitas. Menurut Ricoeur, politik hadir karena mengampu asal-muasal ganda: rasionalitas dan kedurjanaan(a specifically political rationality and a specifically political evil). Oleh karena itu, politik selalu mempunyai “identitas secara otonomi yang relatif”. Relasi dengan identitas kemahasiswaan, secara parameter rasional tentu saja mampu hadir dalam perangai mahasiswa yang teguh dan kukuh pada nilai dan paradigma kemahasiswaan yang mula-mula dan produktif. Semerta, mereka yang menghadirkan status kemahasiswaan dengan parameter ilmu dan epistemologis. Sedangkan, kedurjaan terpendar dalam fungsi dan identitas sebaliknya: mereka yang hanya ‘menggunakan’ kemahasiswaannya untuk menghadirkan profit secara pribadi dan individual. Bahkan, bisa dilakukan secara berkelompok. Realisasi dan relasi konstruksi rancang-bangun pemikiran semodel ini, tentu saja, tak mungkin mampu hadir tanpa ada kesadaran dari individu per-individu si mahasiswa. Serta, ada kesadaran secara nilai yang mewujud sebagai rancang bangun pemikiran untuk teraktualisasi secara nyata di realitas Masisir.

Sebentuk model identifikasi seperti layaknya Ricoeur ini, menuntut kita, untuk menghadirkan sistem ganda secara nilai esensial dan non-esensial secara bersamaan. Saling mempertautkan satu-sama-lain dan hadir dalam strata yang setara serta seimbang. Mahasiswa, pada kontekstualisasi secara identitas, tertuntut untuk bertanggung jawab secara kebersatuan antara pemikiran, perilaku dan pengalaman hadir dalam nilai yang konsisten. Pendaran konsistensi nilai itu, tentu saja, mewujud dan menyatu atau termanifestasi pada karakter dan bahasa yang dimunculkan manusia/mahasiswa itu kala berelasi dengan the others. Meski demikian, Mahasiswa/subjek/manusia secara natural ter/diberi kebebasan memilih identitas apa yang didaku. Dakuan nilai itu tentu saja hadir secara subjektif, otonom dan personal.

Akhirnya, ketika kita melakukan kilas balik untuk menyibak dimensi kesadaran, eksistensialiasi Indentitas dan identifikasi, sudah menjadi kemestian kita melakukan proses identifikasi-identifikasi atas indentitas itu. Kata Foucault, “sejarah bukan jalan raya yang lurus dan luas, tapi altar kesadaran dan kesabaran tiada henti.” Dalam artian, mula-mula adalah pikiran. Pikiran melakukan gerak identifikasi atas identitas tertentu. Kemudian, hadir secara kesadaran dan perengkuhan eksistensialisasi, atau dapukan idealitas pikiran. Idealitas pikiran itu mencipta pengertian-pengertian dan klasifikasi-klasifikasi.

Pada konstruksi rancang-bangun pengertian seperti ini, tentu saja, ada semacam kerendahan hati untuk mengakui identitas pihak lain, karena memang dakuan identitas maupun identifikasinya memungkinkan keberagaman dan pluralitas. Meski, tak selalu kekal dan etik yang intens, tapi identitas dan identifikasi ini mampu memberikan pemahaman bahwa setiap (sebuah, keajadian atau apapun) identitas memendarkan nilai maksud dan absurditasnya masing-masing. Ada otonomisasi secara relatif dan realisasi yang kontinyu dan teridentifikasi. Sekian!

Ditulis oleh:
Ronny G. Brahmanto
Anggota biasa KSW

Lihat Juga

Perbedaan dalam Beragama: Sebuah Cara Memaknai dan Menyikapi

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seringkali sebuah perbedaan menimbulkan percekcokan, permusuhan, bahkan pertumpahan darah. Padahal Allah …