Home / masisir / Ini Alasan Mengapa Sampai Ada Fenomena “Masisir Bertelur”

Ini Alasan Mengapa Sampai Ada Fenomena “Masisir Bertelur”

Kairo, kswmesir.org (19/7) – Kemarin, Jum’at, 17 Juli, yang bertepatan dengan tanggal 1 Syawal, masyarakat Masisir menggelar shalat id bersama di masjid As-Salam, Bawwabah. Rutinitas yang dilaksanakan setahun sekali ini memang menarik minat sebagian besar rakyat Masisir untuk ikut serta meramaikannya.

Namun beberapa saat berselang, muncul riak-riak gelombang yang cukup menyita perhatian. Adalah topik pembahasan mengenai menu makanan yang tersedia di perjamuan pasca shalat id, yang dirasa “terlalu proletar”, dimana menu tersebut hanya terbatas pada nasi, telur dan sambal. Sehingga ada beberapa pihak yang merasa tergelitik dan mempertanyakan, mengapa hal tersebut bisa terjadi, sedangkan di tahun-tahun sebelumnya tidak seperti itu?

Jawabannya sangat sederhana. Karena KBRI tidak memiliki anggaran untuk acara tersebut. Sesuai rapat yang digelar di konsuler pada tanggal 9 Juli lalu, KBRI hanya menyediakan budget sebesar 1000 dolar untuk acara bertajuk Eidul Fitr Festival and Games, yang dihelat pada tanggal 19 Juli di Hay Sadis. Kalau di tahun-tahun sebelumnya selalu meng-handle pelaksanaan acara secara total, maka pada tahun ini KBRI “cuci tangan”, dengan menyerahkan eksekusi ke pihak PPMI, berbekal dana 1000 dolar tersebut.

Menurut penuturan salah satu sumber yang ikut menghadiri rapat di tanggal 9 Juli tersebut, pihak KBRI sebenarnya hanya berniat menggelar silaturrahim bersama di tanggal 19 Juli, tanpa ada agenda shalat idul fitri bersama di hari pertama lebaran. Namun karena tradisi Masisir dan kearifan lokal yang telah berjalan selama sekian tahun, maka PPMI berinisiatif mengadakan shalat id berjamaah di masjid As-Salam.

Inisiatif ini kemudian mendapatkan back up dari beberapa muhsinin, yang bersedia membantu di bagian konsumsi, dengan memberikan bahan-bahan mentah kepada PPMI, dan kemudian dibagikan ke seluruh kekeluargaan untuk dimasak. Nah, pemberian dari para muhsinin itu lah yang akhirnya menjadi hidangan pasca shalat id.

Salah seorang sumber dari PPMI menegaskan, bahwa apa yang didapat, itu lah yang dimasak. “Mau mewah uang dari mana? Tidak mungkin kita memotongkan uang seribu dolar itu. Uang itu untuk acara tanggal 19 saja sudah mepet. Kalau untuk event kelas Masisir, seribu dolar itu tidak dapat apa-apa,” tandas sumber tersebut.

Sebelumnya, pasca rapat tanggal 9 Juli, dimana menghadirkan perwakilan dari KBRI, PPMI, Wihdah, DPD, serta dari masing-masing kekeluaargaan, sudah terbersit kesangsian akan dana tersebut. “Untuk acara sebesar hari raya kok alokasinya cuma seribu dolar, mau dapat apa?” kata Ismail Adnan, ketua kekeluargaan Fosgama.

Hal senada juga diungkapkan ketua KSW, Ahmad Ulinnuha. “Seribu dolar itu kalau dijadikan pound kan sekitar tujuh ribu enam ratusan. KSW saja kalau mengadakan acara besar, habisnya bisa dua ribu sampai tiga ribu pound. Kalau skala Masisir dengan dana segitu (seribu dolar -red) ya kurang. Apalagi acaranya dua hari (tanggal 17 dan 19 Juni -red).”

Kesangsian para peserta rapat tersebut akhirnya harus menjadi kenyataan dengan kehadiran “menu ekstra minimalis”, sehingga menimbulkan pro dan kontra di kalangana Masisir sendiri.

Namun dengan duduk persoalan yang cukup simpel dan jelas, pro dan kontra tersebut diharapkan dapat menjumpai titik temu, sehingga dapat menjadikan momen hari raya idul fitri sebagai momen yang menghadirkan maslahat, bukan momen yang melahirkan masalah. (kim)

Tentang admin

Lihat Juga

Mahasiswa Pascasarjana Asal Jawa Tengah Raih Gelar Magister Usul Fikih

Mahasiswa pascasarjana jurusan Usul Fikih, Ahmad Munafidzul Ahkam  meraih predikat Jayyid Jiddan pada sidang tesis …