Home / KSW NEWS / ALL ABOUT PRESTASI / Inkarnasi Roh Kutu Buku di Jiwa Masisir; Membeli Buku sama dengan Membaca Buku?*

Inkarnasi Roh Kutu Buku di Jiwa Masisir; Membeli Buku sama dengan Membaca Buku?*

Gairah. Benar-benar butuh usaha keras untuk menumbuhkan gairah, pada diri sendiri, terlebih pada diri orang lain. Seringnya gairah yang tidak diperlukan lebih mendominasi tingkah laku manusia, mengontrol langkah-langkahnya dan menjarah daya kreativitas yang melumpuhkan sendi-sendi pergerakan menuju kemajuan dan kehormatan, untuk dirinya sendiri di masa mendatang.

Sedangkan gairah yang dibutuhkan, seperti gairah belajar, membaca, menulis, berpikir, beribadah, berbuat baik, seringkali terbelenggu dalam keraguan yang berkepanjangan, mempertimbangkan nikmat sesaat yang dapat diperoleh atau tidak, berhalusinasi yang tidak-tidak tentang kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi tanpa tertarik sedikitpun untuk tak ragu mencoba. Sebuah prolog, yang tak jelas kemana arah. Saya tambahkan satu pertanyaan; adakah pemikiran tersebut menggambarkan kondisi masisir dewasa ini? Kebanyakan tentu saja tidak ingin terburu berburuk sangka. Saya juga begitu, atau agaknya ada yang salah, entah paradigma umum yang akan meluruskannya, bisa juga kita yang merubah paradigma tersebut.

Belum lama ini, angin pesta pameran buku internasional di Kairo baru saja berlalu, pameran yang dinamakan Cairo International Book Fair 47th dan diadakan dari 27 Januari hingga 10 Februari 2015 ini sungguh fenomenal bagi sebagian kalangan yang baru saja melihat dan mengunjungi salah satu dari pameran buku terbesar di dunia tersebut. Khususnya para masisir yang masih baru dan belum lama berada di Mesir. Terdiri dari belasan gedung yang memuat ratusan bahkan ribuan maktabah dari berbagai penjuru dunia, terutama kawasan timur tengah mulai Arab Saudi, Siria, dan tentunya Mesir sendiri, serta banyak negara Timur Tengah lainnya, ada pula dari Amerika, Italia, Jerman dan negara-negara lainnya. Saling bersaing sehat menunjukkan koleksi buku mereka, berbagai bidang keilmuan, khususnya ranah keagamaan, tentu saja. Minat para pelajar di negeri seribu menara ini juga tak kalah dahsyatnya, betapa antusiasnya bertatap muka dengan event yang diadakan tiap tahun sekali ini. Bahkan dijadikan kesempatan untuk melengkapi koleksi mereka dalam daftar referensi di lemari buku mereka, setelah sebelumnya menabung atau menyisakan sebagian uang jajan untuk digunakan pada kesempatan tersebut. Tidak buruk, bukan? Dibanding membelanjakannya untuk hal-hal lain yang belum jelas manfaatnya. Sedikit boros di pameran buku merupakan pertimbangan yang baik bagi seorang pelajar.

Bila sesekali masuk ke area pameran buku, maka di sekeliling hanyalah gairah, yang begitu merekah. Tampak dari senyum yang ditebar dimana-mana, kebersamaan keluarga dan persabahatan, meski banyak juga yang tampak lelah dan berkeringat kelelahan membawa buku-buku belanjaan mereka, namun tetap saja air mukanya mengalirkan kepuasan. Mengagumkan. Buku. Ia identik dengan kegiatan membaca, menambahkan pengetahuan dan meluaskan wawasan. Buku sebanyak-banyaknya dibeli pada kesempatan ini. Bisa dibayangkan betapa banyaknya pengetahuan yang akan ditampung dari kesemua buku tersebut. Betapa pintar jadinya bila terus-menerus menghabiskan waktu luang dengan membaca buku. Masisir, kalangan kita sendiri, tidak sedikit yang memiliki kesukaran dalam menahan dirinya membaca sebuah buku sampai satu jam saja. Bahkan mereka tetap bersemangat membeli buku, sebanyak-banyaknya dengan sangat bergairah. Seolah tertanam betul di otaknya, membeli buku sama dengan membaca buku. Atau paling tidak, berlatih mencintai buku, membacanya sedikit demi sedikit. Tidak buruk juga. Meski akhirnya, buku-buku itu tertumpuk saja di salah satu sudut kamar flat. Atau paling tidak tertata rapi di rak buku. Tak tersentuh hingga berdebu.

Seperti kerasukan, sebelum-sebelumnya tidak sekalipun pernah membuka buku, jangankan membaca melirik saja sudah resah, terhanyut dalam buaian modernisasi yang serba instan dan tak harus banyak gerak serta berpikir. Namun begitu mengenal pameran buku di negeri ini, bisa mengubah paradigma seseorang, menata mindset-nya. Seperti sebuah keajaiban, tak tanggung-tanggung buku berjilid-jilidpun terbeli, kemudian disusun rapi di rak buku dan tersenyum puas tiap kali memandangnya. Hampir tak ada masisir yang tidak tertarik untuk berbelanja di pameran buku tersebut, di masa-masa pameran buku masih berlangsung tiap kali berkunjung ke flat-flat masisir bisa dipastikan selalu dapat ditemukan setumpukan buku baru. Yang jadi pertanyaan, apa yang sesungguhnya merasuki jiwa para masisir ini sehingga mereka tergila-gila untuk melengkapi koleksi referensi buku mereka, sebegitu hebatkah budaya membaca kita? Meski ini adalah sesuatu yang terpuji, tetap saja terasa ada yang mengganjal. Ada doktrin yang ditanamkan pada mereka, tentunya. Senior berperan banyak pastinya, apa yang diajarkan pada mereka secara tidak langsung berhasrat pula mereka ajarkan pada junior-junior mereka. Bahwa membeli buku sebanyak-banyaknya, suatu saat nanti pasti ada manfaatnya. Memiliki banyak referensi, terutama kajian-kajian keagamaan klasik yang menjadi kiblat ulama kontemporer, adalah sebuah keharusan. Atau, sebuah kebanggaan?

Kemudian apakah salah memiliki kebanggaan untuk itu? Atau paling tidak sebuah kelegaan dengan memiliki koleksi lengkap referensi kajian-kajian keagamaan yang nantinya sebagai lulusan timur tengah akan banyak ditanya mengenainya. Menurut pandangan salah seorang senior masisir, hal seperti itu bukanlah sebuah masalah. Dan masalahnya tidak terletak pada kemungkinan munculnya pemikiran yang mengkritisi seperti itu. Akan tetapi, banyak sekali ketersediaan kitab-kitab (istilah untuk buku-buku keagamaan yang berbahasa arab) di negeri ini yang melimpah ruah sebab pergerakan penulisan di dunia arab salah satunya diawali di Mesir, tidak tersedia di Indonesia. Sehingga merupakan kesempatan emas untuk mengisi lubang tersebut, serta harga yang terbilang lebih murah menjadi salah satu alasan yang tepat pula untuk menjadi “gila” buku di sini. Lagi pula, konsep kitab-kitab klasik kebanyakan tidak serta-merta untuk dibaca semalam suntuk hingga selesai, melainkan lebih cenderung dijadikan referensi dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, khususnya di ranah keagamaan. Maka apabila menilik pernyataan ini, kepemilikan akan banyak buku menjadi sebuah kebutuhan adalah suatu kewajaran, bahkan kematangan dan kedewasaan seseorang yang memikirkan masa depannya. Namun, tidaklah menyinggung banyaknya pengeluaran untuk menganalisa kedok apa yang menjadi gairah ber-buku tersebut, melainkan pelurusan niat jangan sampai membeli dari pameran buku benar-benar untuk sekedar dipamerkan. Sekali lagi, boros sedikit di pameran buku merupakan pertimbangan yang baik bagi seorang pelajar.

Bagaimana bersikap terhadap penyesuaian diri di lingkungan baru, merupakan poin penting dalam pengenalan diri, pencarian jati diri. Gambaran masisir “muda” selalu jadi sorotan, pola pikir dan tindak tanduknya akan dikontrol oleh media dan mengendalikan pandangan warga Indonesia di Mesir terhadapnya. Maka bersikap bijak adalah kawan, menerima gairah-gairah baru yang tak jarang memaksa mengubah dirinya, melesakkan kebiasaan lamanya, selama diarahkan kepada hal-hal yang positif bukanlah masalah. Dari sini, pengertian membeli buku tidaklah selalu membacanya. Melihat sifat masisir “muda” yang selalu dahaga akan hal baru, tidak aneh jika mereka menjadi antusias terhadap buku-buku untuk memilikinya. Harap-harap cemas, suatu saat akan berguna. Tentunya, semoga saja.

(Fadhilah Rizqi)

*Tulisan ini diterbitkan pada rubrik Opini Buletin PRESTãSI Edisi 93, 2013 dengan beberapa perbaikan keterangan waktu.

Comments

comments

Lihat Juga

Syabab Mesir Ungguli Timnas Masisir di Laga Al-Youm Indonesia-Mesir

Kairo, kswmesir.org – Dalam rangka memperingati hubungan diplomasi yang sudah berjalan 70 tahun, KBRI kairo …