Home / ؞ Opini / kolom / KANCIL

KANCIL

Alkisah, suatu ketika, seorang petani jengkel karena timunnya disatroni oleh kancil. Ini untuk kesekian kali ia harus jengkel. Beberapa hari yang lalu, sekitar 2×2 meter petak berisi penuh oleh timun, dihabiskan oleh hewan nakal itu. Pak petani itu memikirkan cara agar ia tidak kecolongan lagi. Di beberapa pojokan sawahnya, terpancang orang-orangan sawah yang sama sekali tidak memberi efek kejut bagi si kancil. Sungguh, hewan itu memang benar-benar cerdik. Tapi pak petani tidak mau kalah cerdik. Dengan rasa jengkel yang menumpuk di jidatnya, ia bawa pulang beberapa orang-orangan sawah yang tiap kali disenggol angin menimbulkan bunyi yang lucu itu. Pak petani punya rencana lain yang lebih jitu.

Sesampainya di rumah, orang-orangan sawah itu dihias oleh pak petani agar kelihatan lebih sangar. Bukan hanya itu, dalam benaknya pak petani berkata: “Jika hanya dihias agar kelihatan sangar, si kancil tidak akan takut. Kecerdikan si kancil sudah masyhur di kalangan para petani desa di bawah bukit Golgota itu.” Maka, pak petani melumuri orang-orangan sawah itu dengan lem yang terbuat dari getah pohon mangga; yang kelengketannya mengalahkan lem-lem buatan pabrik. Kali ini, pak petani yakin tidak akan kecolongan lagi.

Di hari Senin yang dingin itu, pak petani bersembunyi di semak-semak di sebelah kanan sawahnya, di bawah gubuk yang terbuat dari kayu randu. Angin berdesir membawa hawa dingin. Setengah jam sudah ia menunggu datangnya si kancil. Setelah agak kelelahan, ia bangkit dan menarik punggungnya ke kanan dan ke kiri. Terdengar suara gemeretak mirip suara jembatan bambu yang setiap hari ia lewati. Saat itulah si kancil mengendap-endap dari arah barat daya, kepalanya timbul tenggelam di antara semak-semak. Pak petani melihat kancil itu dan dengan cepat membungkukkan badannya. Si kancil kelihatan sombong, ia menarik lehernya tinggi-tinggi, mengawasi dengan cermat bahwa pak petani sedang tidak berjaga.

Dilihatnya orang-orangan sawah yang tampak berbeda, hampir mirip dengan pak petani. Si kancil menghampiri orang-orangan itu dan berkata: “Hei orang-orangan sawah, mana pak petani? Pasti dia lelah, bukan? Hahaha.” Mulutnya menguarkan bau kesombongan. Sebelum ia melancarkan aksinya, ia berlagak berpamitan dengan orang-orangan sawah dengan menepuk perutnya. Tapi nahas, lem yang dilumuri oleh pak petani itu merekatkan tangan si kancil. Si kancil kelabakan. Ia mencoba melepaskan perekat yang menjerat tangan kirinya dengan mendorongkan tangan kanannya ke salah satu bagian dari orang-orangan. Sampai lengkap sudah kedua tangan dan kedua kakinya menempel rekat pada orang-orangan sawah. Pak petani, di sudut sana, keranjingan bukan main. Sore ini, ia dan anak istrinya akan makan daging kancil.

**

Barangkali cerita semacam itu telah usai di buku-buku dongeng dan majalah Bobo dan banyak membikin jantung anak kecil berdebar-debar. Tetapi cerita lain yang lebih mengejutkan jantung orang dewasa bisa kita temukan di alam nyata. Ialah cerita si Salim Kancil. Ia bukan si kancil yang cerdik itu, ia bukan si kancil yang suka mencuri timun pak petani. Ia justru adalah petani biasa yang punya suara sepuluh persen lebih lantang dari sesiapa lainnya. Ia hanya bernasib buruk. Beberapa orang tak dikenal telah mengeroyoknya sampai mati gara-gara sepuluh persen itu. Ia telah menentang kekuasaan dalam skala yang lebih sempit, yakni pedesaan. Hanya saja, dampaknya tak jauh beda dengan apa yang tejadi di masa orba. Protes sama dengan nyawa.

Menyedihkan memang. Bukan hanya alkisah yang akhirnya kita dengar, tapi sebuah adegan pembunuhan yang mencopot jantung orang berumur lebih dari tujuh kepala. Si kancil bukan orang cerdik. Ia hanya orang berbeda; yang berani menentang kesewenang-wenangan pihak berkuasa. Bagi generasi orba, cerita semacam itu barangkali lebih akrab di telinga mereka dan tidak membuat mata mereka terbelalak. Namun generasi kami adalah generasi perdamaian; sebuah generasi yang memimpikan setiap permasalahan dihadapi dengan jalur yang benar. Kami benar-benar terkejut akan peristiwa yang bukan alkisah itu.

Yang mengkhawatirkan dari generasi orba adalah pelajaran cara mendidik orang untuk menngendalikan keamanan dengan membunuh, dengan menyebar teror. Kancil mengingatkan kita akan Marsinah, buruh pabrik yang bernasib tak jauh beda dengan kancil. Si Marsinah, seperti juga kancil, hanya memiliki suara sepuluh persen lebih lantang. Dan nyatanya, oleh sebab itu ia dibunuh. Saya jadi teringat komentar Goenawan Mohamad atas kasus Marsinah: “Bagaimana di hadapan Marsinah kita bisa bertindak dan bersikap tanpa melupakan betapa mudahnya seorang korban yang konkret menjadi bagian dari sebuah proyek, dan betapa mudahnya sebuah desain menyulap dia menjadi satu konsep yang abstrak.” Kita bisa mengganti nama Marsinah dengan nama Kancil, atau siapa saja yang kita kehendaki.

Lalu apa? Di hadapan Kancil yang tegeletak tanpa nyawa itu lalu apa yang bisa kita perbuat? Ya, lalu apa, jika sebuah keadilan terlanjur kadaluarsa dalam benak. Bukan hanya sejak dalam pikiran kita berlaku adil, tapi semestinya lebih dari itu: yakni sejak kita ada di pikiran Tuhan. Ya, sejak kata adil mendapatkan maknanya di pikiran Kancil dan jutaan Kancil lainnya. Agaknya kita perlu sadar, bahwa seseorang bisa jadi berhenti menjadi petani tapi ia tak boleh berhenti menjadi Kancil. [*]

M.S. Arifin

Gambar via: mojok.co

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …