Home / ؞ Opini / Khatulistiwa, antara Konser Musik dan Kita

Khatulistiwa, antara Konser Musik dan Kita

Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir) detik ini tengah menunggu ‘hajatan’ besar. Hajatan yang berupa konser musik spektakuler, Khatulistiwa season yang ke-6. Saya mengatakan hajatan bukan tanpa alasan. Hajat adalah kebutuhan, sehingga hajatan yaitu peristiwa atau momen yang dibuat sebagai bentuk dari kebutuhan itu. Kebutuhan manusia teramat luas cakupannya; kebutuhan materil, dan tentu imateril. Dari dua tipologi kebutuhan itu dapat dikembangkan dalam berbagai rupa kebutuhan. Baiklah, di sini Saya ingin mengatakan bahwa musik adalah suara, sekaligus nada, sekaligus nuansa yang menyatu merepresentasikan rasa. Manusia dengan kompleksitasnya adalah makhluk yang merasakan rasa dalam makna umum, rasa emosional.

Berbicara musik, mohon jangan terlena dulu, bagi saya, musik adalah representasi kejujuran. Mengapa demikian? Kalau kita urai apa yang disebut musik, seperti telah diulas diatas, musik adalah yang pertama suara, kemudian kata, kemudian nada, lalu nuansa. Suara tanda makhluk hidup. Kata tidak sejujur yang dikira, kata bukan mutlak sebuah kebenaran, tapi kata tetap sarana mengungkap kebenaran. Ia butuh nada yang menggambarkan kompleksitas rasa. Tapi ini belum sempurna. Hingga yang terakhir membutuhkan nuansa, untuk merelasikan semuanya, membuka cakrawala dan merupa kejujuran makna. Dan bagi saya, musik mampu meniru aransemen sunahnya Tuhan.

Konser yang bertajuk Khatulistiwa ini -saya tidak tahu apa latar belakang penamaan dengan kata Khatulistiwa- akan tetapi bahwa yang menjadi nilai di dalam Khatulistiwa ini adalah garis lurus yang paralel dengan rotasi kehidupan ini, yang memisahkan antara kutub egosentrisme dengan kutub kebersamaan. Khatulistiwa adalah pemisah unsur plus dengan minus. Khatulistiwa tidak boleh hanya dijadikan ajang hiburan semata, atau ajang pertunjukan seni belaka. Karena hiburan adalah hanya bagaikan satu ujung garis yang ditarik dari ujung garis pangkalnya, yaitu kepenatan untuk me-refresh kesadaran, atau untuk keperluan seni? Walaupun memang ia estetik, tapi kita harus maknai lebih dalam. Bahwa konser khatulistiwa ini sebagai kebersaman dan paseduluran, yang sama-sama terikat rasa.

Manusia, sejatinya memiliki tahapan-tahapan identitas dirinya. Pertama, identitas materil, yang di dalam al-Qur’an dikatakan sebagai basyar; konstruk materil –berangkat dari kekomplitan materil tubuh manusia dari seluruh jenis makhluk di semesta ini. Makanya di dalam al-Qur’an dikatakan ahsanu taqwîm. Kemudian yang kedua, identitas kualitatif, ia diciptakan memiliki komponen akal dan beriringan dengan nafsu. Di dalam al-Qur’an dikatakan insan. Akal sebagai sumbu ‘kemewahan’ ciptaan, ia bagaikan sumbu api, sehingga menjadi sumber. Sedang nafsu yang mengobarkan api tersebut. Yang ketiga, adalah identitas kebersamaan, ia tidak hanya satu, tapi bersamaan dengan yang lain. Al-Qur’an menamakannya nâs. Identitas yang ketiga ini adalah tahapan akhir menuju kesempurnaan, di mana manusia sejatinya mesti menjadi makhluk yang selalu bersama dalam berbagai makna. Kiranya tak heran, junjungan alam, sang Nabi Saw. menyabdakan, ‘sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya’.

Khatulistiwa ini, disadari atau tidak, setidaknya menurut Saya, adalah sebuah pencapaian yang luar biasa di dalam pencarian jati diri manusia. Ah, tapi siapa dari kita yang sadar tentang itu? Umumnya orang

tidak harus mikir berat-berat seperti ini. Ya bagi saya tak masalah, justru yang menjadi masalah adalah ketika orang tidak diharus-haruskan mikir sedalam itu.

Tapi, ada hal yang penting di sini, segala sesuatu di kehidupan ini, jika ia akar, mestinya dirambatkan, kemudian ditumbuhkan, lalu membesar berkembang, punya batang yang kokoh, bercabang meranting berbunga dan berbuah, dan menjadi keberkahan bagi yang lain. Seperti konsep innalillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn, bahwa tujuan yang hakiki adalah ke-Allah. Sehingga yang dianalogikan tadi, apa tidak disebut juga perjalanan ke-Allah? (Ilman)

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …