Home / E-RPA / Berita RPA / KILAS RPA 2014 : WAWANCARA DENGAN FATCHUL MACHASIN, LC.

KILAS RPA 2014 : WAWANCARA DENGAN FATCHUL MACHASIN, LC.

“Nah, tanpa program pun ketua KSW sudah punya program, yaitu menghidupi program-program yang sudah ada. Dan itu tantangan.”

                – Fatchul Machasin, Ketua KSW periode 2011-2012

Kali ini tim reporter RPA mencoba untuk menggali informasi dari seorang senior, yaitu Fathul Machasin, Lc., terkait dengan transformasi kepemimpinan di tahun 2014 ini. Machasin adalah ketua KSW periode 2011-2012, yang tentu tahu dan paham bagaimana hiruk pikuk RPA dari tahun ke tahun. Berikut wawancara kami dengan beliau.

–          Menurut pandangan Anda, bagaimana kinerja DP KSW pada periode 2013-2014 ini?

Saya ke sini April. Dari awal masa kerja sampai April, secara umum saya tidak melihatnya tapi mengikuti dari facebook. Ya, lumayan baik. Misalnya dalam Jawa Cup. Meskipun itu even bola, tapi itu even yang lingkupnya forum Jawa. Dan sepertinya kepengurusannya bagus. Saya pikir itu sedikit mewakili gambaran kepengurusan KSW secara umum. Satu hal lagi, misalnya agenda Walisongo SC (Study Club) itu satu bentuk kegiatan yang baru. Kalau idenya lama, tapi baru tahun ini bisa terlaksana dan alhamdulillah sampai akhir kepengurusan masih ada, dan insyaalloh masih ada sampai tahun depan. Program yang dari tahun-tahun sebelumnya sudah ada, tahun ini masih ada. Terlepas maju mundurnya, itu wajar. Tapi (pengurus KSW) masih dapat mempertahankan agenda lama, bahkan memberi satu langkah konkrit, seperti WSC. Titik baiknya di situ. Itu yang saya lihat.

–          Menurut Anda sebagai warga KSW, kriteria khusus apa yang harus dimiliki oleh seorang Ketua KSW?

Pada dasarnya kriteria di mana-mana standarnya, shidiq, amanah, tabligh, fathonah. Tapi dalam KSW ada beberapa kriteria yang saya pikir itu adalah syarat yang harus dipenuhi. Misalnya, warga KSW itu lebih suka diayomi, dilayani. Berangkat dari situ bisa kita lihat bahwa kegiatan KSW lebih inisiatif berasal dari ketua KSW. Jadi ketua KSW setidaknya harus mau bekerja keras untuk mengayomi warganya.

Kedua, yes man. Responsif. Artinya dia ringan tangan, enteng disuruh ngapa-ngapain. Karena seandainya ketua tidak responsif, kesannya berbeda. Teman-teman itu lebih suka diayomi. Ketua KSW lebih dipandang orangnya gampangan, mau diajak berbuat sesuatu yang lebih baik dan selalu mudah (memberikan /red) respon.

Kalau kriteria, memiliki pikiran yang inovatif, itu bukan primer. Itu sekunder. Karena urusan ide, siapapun yang ada di KSW dia tidak sendirian. Kalau ada kebutuhan dia bisa cari ide, siapapun bisa memberi ide. Yang penting ketua mau bekerja keras dan responsif. Itulah yang menjadi titik fokus untuk kemajuan KSW.

–          Apa saja tantangan untuk menjadi seorang ketua KSW?

–          Tantangannya, selain hal tadi. Misalnya, ketua KSW di sini menjadi inisiator. Yen ketuane ora resik-resik dhisik, teman-teman tidak semangat. Karena, saat ketua tidak bergerak, dan anggotanya menjadi inisiator, maka itu bakal menjadi glendengan. Lho ketua mosok ngono, enak-enak? Sementara anggotanya justru resikan. Setiap ada ide, ketua KSW harus mengawali. Menjadi tumpuan. Jadi kalau dia tidak jadi inisiator, planing apapun biasanya tidak terlaksana. Sowan ke sesepuh Masisir misalnya. Tantangan lainnya, ketua KSW selain punya program khusus, KSW sendiri memiliki beberapa komunitas yang saya pikir sudah mapan. Ketua tugasnya menghidupi komunitas-komunitas tersebut. Misalnya komunitas PRESTâSI, SMW, WSC, Walisongo FC, voli, musik. Nah, tanpa program pun ketua KSW sudah punya program, yaitu menghidupi program-program yang sudah ada. Dan itu tantangan.

Kedua, ketua KSW mau tidak mau harus berhubungan baik dengan pelaku-pelaku komunitas tsb. Karena bagamanapun dia akan bekerjasama. Kalau tidak membuat hubungan baik, tentu akan dapat nilai yang tidak baik, itu mengancam pemerintahan KSW.

–          Tantangan lain lagi, bagaimana program KSW mampu menembus atau berpengaruh pada setiap warga KSW. Warga KSW lebih dari 400, tapi yang menikmati secara langsung paling 25-30 %. 50% itu sudah baik. Sisanya, ada tidak adanya KSW sama saja. Saya pikir itu tantangan yang lebih berat dibanding tantangan lainnya. Yaitu dia mampu mengatakan, bahwa saya KSW, (kegiatannya) mampu menembus setiap warga KSW.

–          Memang tiap tahun prosentasi orang yang aktif di KSW, tidak lebih banyak daripada yang tidak aktif. Yang aktif tidak ada 50%. Itu tantangan yang berat.

–          Selanjutnya, KSW kekeluargaan Jateng dan DIY. Walaupun di Jateng memiliki gubernur baru, tapi sampai saat ini belum ada komunikasi yang terjalin baik. Orang-orangnya baik, tapi belum ada komunikasi saja  antara KSW/Griya dan pemprov Jateng atau DIY. Tiap tahun di usahakan tapi belum ada hasil.

–          Menurut Anda, siapa sosok yang pantas memegang jabatan ketua KSW periode mendatang?

–          Ulin, wakil saat ini. lalu Lutfi. Juga terlepas dia di Griya, misalnya Djazam, Fardan, kira-kira itu. dan yang lain. Mereka sudah sering melihat KSW dan kegiatan-kegiatannya. Mereka punya visi yang bagus. Saya melihat dengan apa yang sudah mereka lakukan di sini selama 3 tahun. Mereka punya visi bagus yang kaitannya dengan kehidupan sosial.

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Mahdi Come Back !

Kairo, kswmesir.org – (4/3) Pesta demokrasi KSW sudah di depan mata, terlihat dari semakin sibuknya …