Home / FEATURE / Putri Ginting, Sebuah Kisah Pengajar Anak TPA
Ilustrasi mengajar anak TPA | Diambil dari Republika.co.id

Putri Ginting, Sebuah Kisah Pengajar Anak TPA

 

Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, Ginting sudah mengajar di sebuah TPA (Taman Pendidikan Alquran). Walau kini ia sudah kuliah, menariknya, ia masih saja menyempatkan diri mengajar anak-anak setiap sorenya. Sungguh wanita teladan.

 

Pukul empat sore Ginting baru selesai kuliah. Keluar dari kelas, ia tak mampir di warteg ataupun kafe sekitaran, tapi langsung menuju parkiran sepeda motor. Dia bergegas pulang dan makan di rumah, tak ingin anak-anak TPA terlalu lama menunggunya.

Pertama kali diminta mengajar, saat itu Ginting masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kelas tujuh, tepatnya. Mendapat permintaan dari kakak kandungnya, ia mengiyakan saja. Lagipula, di umur yang belia tentu ia tak sempat berpikir apakah dirinya layak atau tidak.

“Manut saja, akunya.”

Dalam kepalanya ia hanya berpikir bahwa TPA akan memberi banyak manfaat untuk anak-anak. Daripada setiap sorenya mereka hanya bermain, lebih baik ada kesempatan khusus untuk mengaji. Apalagi, di TPA juga bisa bermain dan bergembira bersama-sama.

Ginting sendiri mengaku tak punya modal banyak untuk mengajar. Sebelum diminta mengajar anak-anak TPA pada sore hari, ia juga tak pernah mendapat pelatihan khusus. Mulai dari cara memahami karakter anak, membaca suasana hatinya, bahkan kurikulum mengajar, semua itu nihil dari Ginting muda. Mental mengajar pun belum siap. Dia hanya berbekal pengetahuannya akan Iqro dan bagaimana membacanya. Itu saja. 

“Waduh, dulu gugup banget pas pertama mengajar. Namanya saja masih tiga belas tahun.”

Seiring bergulirnya waktu, wanita kelahiran Boyolali ini tak hanya mengajar membaca Iqra. Bersama pengajar lain, anak-anak dikenalkan dengan kisah para nabi dan rasul. Selain itu, mereka juga diajari bernyanyi dan “tepuk anak TPA.”

“Tapi hal terpenting bagi mereka sebetulnya bukan soal kepintaran, sih. Namun, lebih pada kesenangan mereka untuk pergi ke masjid. Mengaji sekaligus bermain. Inilah yang akan membentuk ikatan antara mereka dan ajaran agama. Kalau sudah begitu, serampungnya dari TPA mereka akan selalu terdorong untuk mengamalkan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para pengajar.”

Di era mudahnya akses teknologi seperti sekarang, mahasiswi kelahiran 1998 ini merasa keberadaan TPA semakin penting. Dia khawatir dengan banyaknya anak yang sudah memiliki gawai, tapi penggunaannya tanpa pengawasan orang tua. Kenyataan ini menurutnya tak boleh dibiarkan. Kepribadian si buah hati bisa terganggu. Apalagi survei The Asian Parents Insight (2014) mengatakan 72 persen penggunaan gawai oleh anak berada pada sektor game, bukan edukasi.

Mahasiswi jurusan Usuludin ini juga menilai bahwa zaman sekarang tak mungkin melarang anak menggunakan gawai sama sekali. Lagipula, tingkat keberhasilan dengan cara itu juga kecil, bahkan bisa menimbulkan masalah lain pada anak.

“Berpengaruh pada psikis anak. Mereka akan merasa tertekan dan tak mau melakukan apapun. Karena mereka tetap saja terus mencari cara untuk mendapatkan gawai. Masalahnya tinggal bagaimana cara mereka mengawasinya dan mengarahkan penggunaan gawai agar edukatif dan tak didominasi oleh game.”

“Kalau kenyataannya begini, paling tidak TPA bisa memotong durasi penggunaan gawai oleh anak-anak. Ibarat kata, masa depan anak, ‘kan, tak jauh-jauh dari pengalaman masa kecil. Kalau masa kecilnya habis dengan nge-game saja itu tidak baik. Nanti besarnya kurang bersosial. Makanya, ibu-ibu di sini aku sarankan biar buah hati mereka diajak ke TPA sini. Main-nya dapat, ilmunya juga dapat.”

Ginting juga mengatakan kalau masa kecil adalah saat terbaik untuk dididik. Kalau sudah masuk jenjang sekolah menengah pertama, besar kemungkinan anak-anak tak lagi di TPA. Mereka akan memasuki dunia yang sama sekali baru, untuk mencari jati diri dan eksistensi. Kalau tak mempunyai pondasi moral kuat, bisa jadi malah terpengaruh hal negatif di lingkungannya. Di titik inilah pengalaman belajar di TPA sangat membantu melindungi kepribadian mereka.

“Kalau membaca-baca psikologi anak, ‘kan, pengalaman pas kecil akan terpatri kuat di jiwa. Karena itulah aku dan pengajar lain terdorong untuk serius mendidik anak-anak. Jadi mereka harus kita beri contoh berbuat baik kepada sesama, jujur, dan saling menyayangi. Prinsip-prinsip inilah yang akan mengawal pertumbuhan anak di setiap jenjang sekolahnya.”

“Apalagi, tantangan anak muda zaman sekarang lebih besar daripada dekade sebelumnya. Kini kerusakan moral sudah merajalela. Terakhir ini di Instagram viral, tuh, seorang anak berjoget erotis di panggung layaknya penyanyi dangdut. Yang seperti ini harus dididik. Masa, masih anak-anak sudah begitu.”

Untung saja, lanjutnya, cara belajar anak-anak TPA di kampungnya masih sama. Mereka masih bisa memahami apa yang diajarkan. Bedanya hanya terletak pada perilaku mereka sejak mewabahnya gawai di kalangan anak. Terkadang mereka tak sopan bila berbicara.

“Kadang juga cinta-cintaan gitu.”

Dibandingkan dengan awal-awal Ginting mengajar, TPA Nurul Huda kini bisa dibilang berkembang pesat. Muridnya yang dulu tahun 2010 hanya sepuluh, sekarang sudah sekitar 40 anak. Kalau bulan Ramadhan malah sampai 60 anak. Soal prestasi juga cukup gemilang. Etalase masjid kini tak hanya berisi Alquran dan buku Iqra, tapi ada juga piala-piala raihan anak-anak.

Memasuki tahun 2018, genap sudah Ginting delapan tahun mengajar. Untuk seorang pelajar sepertinya, selama itu merupakan tempo yang lama. Kini, walau sudah punya kesibukan kampus tak berarti ia berhenti mengajar. Apapun kesibukannya, sebisa mungkin ia bergegas ke TPA dan bergabung dengan pengajar lain.

“Aku belum tahu sampai kapan mengajar di sana. Inginnya selamanya. Ndak bisa lepas dari mereka. Sudah terlanjur sayang. Dulu saja aku hendak kuliah di Semarang tapi tak tega meninggalkan mereka.

Lia Apriliani

Mantan pengurus bagian keamanan di pondok Ta’mirul Islam Surakarta. Sampai sekarang, ketika kuliah di Al-Azhar, teman-temannya masih trauma disidang olehnya. Ohya. Dia juga pelari cepat jarak 30 meter. Baru ketahuan ketika ia menghindari lemparan telur saat berulang tahun.

 

Tentang admin