Home / KSW NEWS / ◦ Almamater / Kritik dan Saran (2) “IKAMARU; KSW Bukannya Maju Malah Menurun”

Kritik dan Saran (2) “IKAMARU; KSW Bukannya Maju Malah Menurun”

Oleh: Ja’far Shodiq el Rahman (Ketua IKAMARU RAM)

Bangunan besar itu bernama KSW. Terdiri dari banyak partikel. Tidak hanya berupa timbunan bebatuan dan semen yang membuat bangunan itu jadi besar. Akan tetapi di dalamnya, terdapat kehidupan dari komunitas heterogen yang menyatu dalam satu visi dan misi, mahasiswa Indonesia yang berdomisili di negara Mesir—sering beberapa khalayak menyebut dengan Masisir— dalam satu maksud baik dan bermanfaat: belajar ilmu agama Islam.

Kelompok Studi Walisongo yang saya kenal, sejak dua tahun terakhir, adalah representasi dari komunitas ‘njawani’ yang eksis di Kairo-Mesir. Ada kebersamaan dan harmoni dalam satu komunitas itu, yang barangkali bisa terilustrasikan dalam dua kata menarik serta mewakili kondisi ini: sangat indah. Lebih-lebih, kita melihat percampuran budaya di dalamnya menjadi satu kesatuan yang erat, utuh dan satu visi-misi. Untuk memberi perspektif yang plural dan ‘tak biasa’, maka tulisan ini penulis hadirkan dari sudut pandang berbeda dari kebanyakan perspektif yang nampak ke permukaan, agar roda organisasi KSW tak berjalan datar dan begitu-begitu saja.

Hampir dua bulan yang lalu, mungkin juga lebih atau kurang, pengurus KSW sudah terbentuk dan sudah dilantik, tapi semangat menggebu para pengurus baru serasa kok segitu saja. segitu saja, dalam maksud, belum terlalu nampak gairah keorganisasian secara komprehensif dan progresif dari organisasi yang bernama KSW. Setidaknya dalam perspektif kami yang melihat secara jauh. Oleh karena itu, setidaknya ada beberapa point yang ingin kami catat yang tak lain agar KSW berdinamika kembali serta mampu mengarungi dinamika kemahasiwaan secara yang tersebutkan barusan: komprehensif dan progresif.

Pertama, sambung rasa antar almamater. Ada usulan setiap kali akhir estafet kepemimpinan, kemudian bermetamorfosa jadi kehendak, tapi sampai hari ini sekedar menjadi adagium yang tak ada implementasinya, bahwa KSW agar tidak jauh dari almamater. Hal ini berdasarkan dari opini publik bahwa program ini penting dan, sudah seharusnya, ‘digarap serius’ untuk dilaksanakan. Meskipun kita sadari bersama hal itu tidaklah mudah. Berat, karena selama ini ada paradigma, ‘sambung-rasa’ harus dilaksanakan secara terencana, besar-besaran dan elegan. Dan sudah menjadi aktivitas umum sambung rasa terlalu sering melalu seminar misalkan. Padahal, masih banyak alternatif kegiatan, semisal, futsal antar almamater atau rihlah bareng almamater di bawah naungan KSW atau aktivitas lain, meski pun, sekedar kumpul-kumpul. Toh yang penting dan yang ‘fardlu ain’, esensi sense of belonging muncul sejak dini. Sehingga dampak positif yang berkelanjutan adalah, minimal, di akhir periode kepemimpinan para punggawa KSW tidak kesulitan untuk mencari kader dari masing-masing almamater. Tentu saja, aktivitas semacam ini, KSW berwenang dan mampu menjadi mediator sambung rasa; lagian masing-masing almamater sudah ada motor kepemimpinan di masing-masing.

Kedua, entah sekedar perasaan individu penulis atau memang keganjilan ini menjadi ‘rasa ironis’ di kebanyakan anggota. Di dua bulan terakhir ini, penulis melihat belum ada koordinasi secara sistemik antar pengurus KSW. Terutaman divisi sosial. Departemen sosial, jika boleh membandingkan dengan tahun sebelumnya, kok hingga saat ini tidak ada kordinasi tentang lapor pendidikan dan pendataan yang kiranya perlu untuk statistika kualitatif dan kuantitatif sebagai rujukan induk organisasi di bawahnya.

Ketiga, pada awal-awal pasca dilantik bahkan sebelum dilantik ada angin segar yang kita bersama rasa. Barzanji-an keliling yang pada moment-seperti sekarang ini sudah terlanjur booming, tidak segan-segan publikasi lisan dan via internet juga gencar, tapi kenapa sekarang nampak keliatan kurang gairah? Minimal dalam standar kurang hadir kontinyuitas aktivitas barzanji-an itu. Padahal, dalam perspektif umum keorganisasian, sudah seharusnya, pasca legitimasi jabatan para pemangku jabatan lebih gencar dan semangat membara dalam melanjutkan aktivitas kegiatan yang bermanfaat di masa lampau semerta memikirkan aktivitas yang lebih ‘wow’ untuk keberlangsungan KSW secara massif dan terstruktur.

Pada akhirnya, KSW selain sebagai organisasi induk para mahasiswa yang mayoritas berasal dari Jawa-tengah, KSW juga sebagai representasi pusat kebudayaan jawa Masisir yang perlu mempertahankan gotong royong ‘njawani’. Di sisi lain, KSW, sudah selayaknya, tetap mengedepankan konsep baku sebuah organisasi. Serta tak boleh lupa, cikal-bakal organisasi perlu adanya timbal balik, semacam simbiosis mutualisme yang tak terputus secara psikologis, kultur dan konsepsi secara komunal untuk komunitas. Oleh karena itu, penulis menuliskan tulisan sederhana ini, tak ada maksud dan kehendak lain, selain agar KSW tetap berdinamika sebagai kekeluargaan yang dinamis, progresif dan komprehensif.

    Tentang admin

    Lihat Juga

    Mulai Manuver Politik di Markas Besar, Ja’far Tanpa Koalisi?

    Kairo, kswmesir.org- (4/8) Kandidat calon ketua KSW, Ja’far Shodiq Rahman, mulai bergerak cepat menjelang H-4 bursa …