Home / E-RPA / Berita RPA / KSW; BUDAYA TRANSPARANSI, KOMPETENSI, DAN KOMPETISI

KSW; BUDAYA TRANSPARANSI, KOMPETENSI, DAN KOMPETISI

Ing ngarso sung tuladha,

Ing madya mangun karsa,

Tut wuri handayani

                – Ki Hajar Dewantara –

Yang paling mudah untuk menggambarkan KSW adalah organisasi (ke)keluarga(an). Atau lebih jelasnya, yang bersifat (lebih dekat) seperti keluarga. Keluarga yang mayoritas berkultur Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta. Yang memiliki watak dan ciri khas tradisi yang njawani, baik dalam sifat, perilaku, dan olah pikir tiap anggota (ke)keluarga(an). Dan tidak lama lagi, KSW sebagai organisasi akan mengalami perubahan secara struktural, dan terkadang perubahan kultural. Tapi yang semoga masih dan tidak akan banyak perubahan adalah sifat keluarganya.

Perubahan terkadang (memang) harus melewati fase dilematis. Terlebih KSW sebagai organisasi, yang mana, Rapat Permusyawaratan Anggota sudah ditentukan harus diadakan tiap satu tahun sekali. Perubahan struktural harus dilaksanakan, dan sudah selayaknya juga dianggap sebagai usaha untuk pembelajaran, baik sebagai organisasi maupun sebagai (ke)keluarga(an). Begitu juga dengan tema RPA yang selalu sengaja dirubah tiap tahunnya, demi menjaga tradisi pembelajaran KSW. Dan tahun ini, RPA KSW mengangkat tema “KSW; Budaya Transparansi, Kompetensi, dan Kompetisi.”

Sederhananya, transparansi adalah keterbukaan. Dan keterbukaan yang paling sederhana adalah tahu dan mau menyadari bahwa kita adalah bagian dari komunitas yang berisi makhluk hidup dan berinteraksi yang bernama Kelompok Studi Walisongo. Baik sebagai organisasi maupun sebagai keluarga. Hingga sewajarnya, tidak ada lagi yang menghalangi tiap individu hidup (baca; anggota KSW) untuk menerapkan keterbukaan dalam berperilaku. Terlebih dalam berorganisasi secara structural; bahwa kemajuan dari KSW adalah milik semua anggotanya – yang hidup; belajar dan berperilaku-.

Kompeten dan kompetitif. Semoga dua kata ini cukup mewakili sebagian dari sifat dan perilaku dalam berinteraksi di KSW. Atau bahkan mewakili KSW itu sendiri sebagai sebuah kesatuan dari pelbagai macam bentuk dan golongan yang disatukan oleh nama KSW. Mungkin lebih mudahnya lagi mengartikan kompeten sebagai sifat cakap dan tanggap terhadap kondisi social di sekitar. Yang mana, sewajarnya sifat cakap ini adalah hal yang sudah melekat dalam diri sebagai manusia. Namun kembali lagi, tinggal mau untuk terbuka terhadap diri sendiri atau tidak; mengakui.

Kemudian, hal yang paling mudah diartikan dari kompetisi adalah persaingan. Dan semoga selalu diartikan sebagai persaingan antara yang baik dan lebih baik. Namun, dalam organisasi (ke)keluarga(an), kompetisi akan lebih wajar saat diartikan sebagai tantangan. Dan sifat kompetitif adalah kemampuan untuk menghadapi tantangan, pun seberat-beratnya. Hingga tidak lagi mudah untuk mencari alasan membentuk kubu untuk menjatuhkan, karena lawan dalam tantangan adalah kawan yang mengajak untuk bertindak sedikit lebih baik lagi. Toh, lawan debat adalah teman diskusi, lawan sepakbola adalah teman untuk berolahraga, dan lawan bermain catur adalah teman berpikir.

KSW yang memiliki budaya transparan, cakap, dan siap menghadapi tantangan bukanlah teori apalagi propaganda. Hanya mencoba mengingat kembali apa-apa yang sudah dijalani dan belajar meningkat untuk lebih baik. Semoga tidak akan jadi dilematis (lagi). Karena tak lama lagi, KSW, sebagai organisasi (ke)keluarga(an) akan segera mengalami perubahan, dan semoga lebih maju. Terlebih, Rapat Permusyawaratan Anggota yang sudah ditentukan diadakan tiap tahunnya biasanya akan menghadirkan perubahan (lagi). Dan semoga lebih baik (lagi).

Landy T. Abdurrahman,

SC RPA 2014

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Mahdi Come Back !

Kairo, kswmesir.org – (4/3) Pesta demokrasi KSW sudah di depan mata, terlihat dari semakin sibuknya …