Home / KSW / SEJARAH KSW

SEJARAH KSW

1935013_166455297864_261099_n

Kelompok Studi Walisongo (KSW) bermula dari sebuah forum diskusi yang dikenal dengan Hadits al-Ahad. Saat itu, forum ini adalah arena diskusi keagamaan yang memfasilitasi bermacam kegiatan seperti; penulisan makalah, diskusi berbahasa Arab, penerjemahan koran dan lain-lain. Sebagai sebuah forum diskusi keagamaan, memang pada awalnya sangat diminati oleh banyak aktivis yang tidak hanya didominasi orang-orang yang berkultur Jawa. Bahkan para aktivis keagamaan dari negara tetangga seperti Malaysia juga ikut mengeksiskan Hadits al-Ahad.

Forum ini mula-mula beranggotakan 13 orang yang terdiri dari berbagai aktivis di Nusantara, meskipun mayoritas anggotanya adalah orang Jawa. Hal inilah yang sepertinya mengilhami munculnya ide untuk membentuk sebuah organisasi bernama Kelompok Studi Walisongo. Di antara para aktivis yang sempat memprakarsai terbentuknya Kelompok Studi Walisongo adalah; Munawir Abdurrahim, A. Tohirin (Jawa Tengah), Abdul Manan Usman, Syarifuddin Abdullah (Sulawesi Selatan), Bahruni Inas, Nuruddin Marbo (Kalimantan Selatan), Noor Kholis Mukti, Amal Fathullah (Jawa Timur), Zuhid Mukhson, Jakfar Rosyidi, Sobri Agung (Sumatera Selatan), Maktum Jauhari, Jakfar Busyiri (Madura), Anas Maulana, MA. Joban, Sujadi (Jawa Barat).

Tahun 1987 adalah peralihan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang tidak mengakui asas tunggal pancasila menjadi Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI). Atas dasar peralihan inilah yang barangkali ikut mempengaruhi terbentuknya Kelompok Studi Walisongo. Saat itu orang-orang Jawa belum memiliki perwakilan atau utusan yang meng­atas­na­ma­kan sebagai organisasi kedaerahan Jawa di HPMI.

Nampaknya, hal ini menumbuhkan kekhawatiran dalam tubuh KSW akan bersifat kesukuan dan kemudian disibukkan dengan urusan-urusan sosial kemasyarakatan Jawa, yang akibatnya bisa menggeser permasalahan akademis. Dilema yang terjadi adalah kebutuhan berkiprah di HPMI dan ketakutan terjerumus dalam kesukuan yang primordial. Maka pada pertemuan perdana di kedia­m­an Bapak Manan Utsman, pada tanggal 31 Januari 1987/1 Jumadi Tsaniyah 1407 H. diputuskan 3 konsensus umum sebagai jalan keluar dari dilema di atas dan selanjutnya Hadits al-Ahad ini berubah menjadi Kelompok Studi Walisongo, dan dalam bahasa Arab diterjemahkan menjadi Usrah Auliya at-Tis’ah. Yang sekarang menjadi Usrah Thulabah wali songo Al-Jawiyah, dengan perubahan nama tersebut KSW masih tetap beranggotakan masyarakat dari berbagai daerah di Nusantara.

Tiga konsensus umum yang hari itu diputuskan adalah;

  1. Agar organisasi ini menonjolkan akademis, bukan semangat sosial semata.
  2. Diharapkan tidak terlalu bersifat “kesukuan” sehingga kelompok ini tidak hanya orang Jawa.
  3. Diharapkan selalu tanggap terhadap perkembangan sosial politik di tanah air.

Namun konsensus ini mulai pudar, ketika dinamika Kairo “memaksakan” terbentuknya organisasi-organisasi kedaerahan-kedaerahan lain, sehingga para aktivis KSW pun juga aktif di kekeluargannya masing-masing. Disamping itu sebagian “senior” KSW sebagai saksi sejarah juga mulai pulang ke tanah air, dan “terpaksa” KSW semakin mengecil, didominasi masyarakat Madura, Jawa Timur, Jogjakarta dan Jawa Tengah, dan pada tahun 1993 terbentuk FOSGAMA (Forum Silaturahmi Keluarga Madura). Kemudian pada tahun 1998 sebagian anggota dari Jawa Timur berinisiatif untuk memisahkan diri, karena tidak ada kesepakatan argumentasi, terutama alasan ukhuwah dan persatuan masyarakat Jawa, maka meskipun terbentuk Organisasi Masyarakat Jawa Timur (GAMAJATIM), saat itu sekitar 35% aktivis KSW dari masyarakat Jawa Timur tetap memilih maslahat untuk tidak memisahkan diri hingga sekarang.

KSW dipimpin oleh kepengurusan sebagai berikut:

  1. H. A. Tohirin Noer (Kebumen, Jawa Tengah) 1987 – 1988
  2. H. Rifqi Saifullah (Purwokerto, Jawa Tengah) 1988 – 1989
  3. H. Anwar Bani Daud (Cirebon, Jawa Barat) 1989 – 1990
  4. H. Zubaidi Wahyono (Ngawi, Jawa Timur) 1990 – 1991
  5. H. Sidqon Maesur (Salatiga, Jawa Tengah) 1991 – 1992
  6. H. Mujahid Alex Yahya (Malang, Jawa Timur) 1992 – 1993
  7. H. Mukhlason Jalaluddin (Jombang, Jawa Timur) 1993 – 1994
  8. H. Ahmad Roziqin (Demak, Jawa Tengah) 1994 – 1995
  9. H. Sochimin Mufti Hakim (Purwokerto, Jawa Tengah) 1995 – 1996
  10. H. Rahmad Nasruddin (Sidoarjo, Jawa Timur) 1996 – 1997
  11. H. Ahmad Nashuha (Semarang, Jawa Tengah) 1997 – 1998
  12. H. M. Luthfi Thomafi (Rembang, Jawa Tengah) 1998 – 1999
  13. H. Harminto Parlan (Ngawi, Jawa Timur) 1999 – 2000
  14. H. Bangun S. Aji Wibowo (Temanggung, Jawa Tengah) 2000 – 2001
  15. H. Lutfi Chakim (Salatiga, Jawa Tengah) 2001 – 2002
  16. H. Abdillah As’ad (Banyuwangi, Jawa Timur) 2002 – 2003
  17. H. Muhammad Nur Salim (Pati, Jawa Tengah) 2003 – 2004
  18. Rois Mahfud (Pati, Jawa Tengah) 2004 – 2005
  19. H. Agus Hidayatulloh (Batang, Jawa Tengah) 2005 – 2006
  20. Alek Mahya Shofa (Kudus) 2006-2007
  21. Hartono Muinthohar (Cilacap) 2007 – 2008
  22. Saiful Ammar (Semarang) 2008 – 2009
  23. Suyatno Ja’far Shodik (Grobogan) 2009 – 2010
  24. Abdullah Munif (Jepara) 2010 – 2011
  25. Fatchul Machasin (Banjarnegara) 2011 – 2012
  26. Nur Yusuf (Sragen) 2012 – 2013
  27. Nanang Fahlevi (Bandungan) 2012 – 2013
  28. Rosyad Sudrajat (Boyolali) 2013 – 2014
  29. Ahmad Ulinnuha Suroto (Grobogan) 2014 – 2015

KSW, ANTARA KEKELUARGAAN DAN KELOMPOK STUDI

Bila merujuk pada AD/ART Badan Permusyawaratan Anggota (BPA) yang mengatur tentang Organisasi di Mesir, KSW merupakan salah satu Organisasi Kekeluargaan, disebutkan dalam BAB III pasal 3 ayat 1 dan 2 membahas tentang arti dan bentuk kekeluargaan, berbunyi sebagai berikut:

  1. Organisasi Kekeluargaan adalah Organsasi yang menunjukan satu kelompok atau komunitas tertentu berdasarkan kedaerahan, kesukuan dan atau kultur yang ada di Indonesia.
  2. Bentuk kekeluargaan adalah Organisasi yang berbasis kedaerahan, kesukuan dan atau kultur.

Meskipun KSW sekarang sudah merupakan kekeluargaan, namun bukan berarti hanya berorientasi pada kesukuan dalam kegiatannya atau hanya mengurusi kegiatan-kegiatan sosial yang sifatnya kekeluargaan. Karena para anggotanya adalah mahasiswa yang sedang mendalami ilmu-ilmu agama, maka seyogyanya tidak melupakan nilai-nilai kemahasiswaan dan segala kegiatan yang bisa menunjang keberhasilan akademis. Kedae­rah­an atau kekeluargaan hanyalah sebuah wadah, kalau­pun tidak ada akan ada wadah yang lain yang menampung mahasiswa un­tuk mem­per­juangkan visi-visi kemahasiswaan.

Hal ini sudah disadari benar oleh KSW, jika kita melihat kembali pelaksanaan program yang mestinya dilakukan maka dalam Wilayat al-Ansyithotiyat ( GBHO ) KSW akan ditemukan tiga pelaksanaan program yaitu;

  • Program Pengembangan Sosial,
  • Program Pengembangan Sumber Daya Manusia, dan
  • Program Aplikasi Keislaman.

Artinya, meskipun organisasi ini bentuknya adalah kekeluargaan, tetapi sesungguhnya adalah organisasi pengembangan SDM, sosial dan dakwah. Maka, pada tiga program itulah semestinya, kendali Kelompok Studi Walisongo (KSW) diarahkan. Kecenderungan untuk berkumpul dengan teman yang berkultur sama adalah kecenderungan alami, yang tidak mungkin untuk “dimusnahkan” tetapi cukup diarahkan agar tidak terjerumus dalam sikap-sikap primordial.

Saat ini Kelompok Studi Walisongo (KSW) memiliki tujuh departemen untuk menunjang pelaksanaan program di atas, dan satu badan otonom. Ketujuh departemen yang dimaksud adalah:

  • Departemen Pendidikan,
  • Departemen Kaderisasi,
  • Departemen Humas Sosial dan Kesejahteraan Anggota (Humasokesta),
  • Departemen Pengembangan Bakat dan Seni (Pekadasi),
  • Departemen Olah Raga,
  • Departemen Keputrian dan
  • Departemen Hubungan Daerah

Sedang satu–satunya badan otonom yang dimiliki adalah Bulletin yang dinamakan Bulletin PRESTãSI.

PERAN KSW DALAM DINAMIKA MASISIR

Tanpa bermaksud mengunggulkan diri, dikatakan bahwa peran KSW dalam dinamika mahasiswa di Mesir sangatlah besar, para aktivisnyapun juga cukup dipertimbangankan oleh beberapa aktivis di Mesir, baik dalam kalangan mahasiswa maupun kalangan staf KBRI Kairo. Alasannya cukup sederhana, yaitu karena para aktivis KSW mudah diajak kerja dan bermitra. Mungkin semua ini disebabkan oleh pengaruh budaya Jawa yang terkenal lentur dan nerimo, di samping itu warga KSW sudah terkenal mempunyai sifat terbuka, plural dan bisa masuk ke dalam semua kalangan baik itu Organisasi yang bersifat inklusif maupun eksklusif. Hal itu terbukti dengan banyaknya warga KSW yang bisa aktif di berbagai macam organisasi bersifat, umum baik itu PPMI, afiliatif, kelompok kajian, buletin, bahkan juga yang bersifat kepartaian. Kebijakan ”moderat” juga tercermin dalam setiap keputusan KSW sebagai suatu lembaga, yang selalu mengedepankan musyawarah dan menghindari konflik. Ini terbukti dari seringnya KSW harus mengeluarkan keputusan untuk menghindari konflik berkepanjangan.

Meski warga KSW banya yang aktif di berbagai macam organisasi di Mesir, namun backround KSW (sifat ke-Jawa-anya) tetap mereka bawa, dengan memegang prinsip lentur dan nerimo itu tadi. Keaktifan sebagian besar warga KSW tersebut tidak hanya terjadi pada periode tertentu, akan tetapi selalu terjadi hampir setiap periode. Hal itu merupakan ciri khas yang harus dipertahankan oleh KSW, budaya unggah-ungguh yang merupakan cermin kewibawaan KSW di mata masisir.

Selamat beraktifitas!