Home / Uncategorised / Lagi, Penodongan Kembali Terjadi

Lagi, Penodongan Kembali Terjadi

Revolusi Mesir 25 Januari 2011 lalu, justru berdampak buruk pada kondisi keamanan di Mesir. Tiap hari, tindakan kriminalitas di Negeri ini semakin meningkat, pemberitaan-pemberitaan mengenai isu keamanan juga semakin memenuhi kolom koran-koran terkemuka Mesir. Kondisi yang demikian parah ini menyebabkan munculnya anggapan publik bahwa negeri ini tidak lagi aman.

Semakin tidak adanya jaminan keamanan ini juga dirasakan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir). Kerap kali tindakan kriminalitas akrab menyapa mereka, seperti kasus pencopetan, penodongan, perampokan, dsb. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung pun tidak lagi bisa melindungi mereka dari tindak kejahatan, apalagi jalanan yang sudah akrab dengan tindakan kriminal.

Beberapa waktu lalu, tepatnya Juli tahun ini, Masisir telah mendengar kabar salah satu kawan mereka terbunuh saat hendak dirampok. Kemarin (25/10) muncul lagi kabar ada salah satu masisir yang hendak ditodong oleh sekawanan perampok ketika berada dalam mobil angkutan umum (tramco) dalam perjalanannya hendak pergi ke Gami’ dari depan Sekretariat KSW (Kelompok Studi Walisongo).

Ditanya mengenai kronologi kejadian yang terjadi kisaran jam 10 malam, mahasiswa asal Pekalongan Jawa Tengah ini pun menceritakannya secara panjang lebar. “Sebenarnya kecurigaan telah muncul sesaat sebelum saya naik mobil itu, sebab pintu mobil dikunci dari dalam. Waktu itu saya terburu-buru mau pulang, jadi saya memaksakan diri untuk masuk tramco,” tegasnya mengawali cerita.

“Didalam tramco, kecurigaan itu berlanjut. Saya pandangi satu persatu orang-orang yang ada di dalam mobil itu. Salah satu dari mereka bertanya, “Enta nazil fien, ya Basya?” (kamu mau turun dimana bro?). Lalu aku jawab, “Insyaallah ana nazil gami’ !” (insyaallah turun di gami’). Setelahnya, ia menyuruhku untuk pindah tempat duduk di sebelah kirinya. Barangkali agar aku tidak berada di samping pintu, dengan sopan aku menolaknya. Namun, masih juga ia menyuruhku untuk pindah tempat duduk di belakang. Lagi-lagi saya tetap menolaknya,” lanjutnya menceritakan.

“Setelah saya menolak permintaanya, ia lantas mengejutkanku dengan tindakannya yang hendak merampas tasku. Dengan suara lantang perampok itu mengatakan, “Lepaskan, tasmu! dan berikan HPmu!”. Seketika saya berteriak,” ‘Ala gambak ya astho ! Ana nazil hina”. (berhenti! aku turun disini) Seakan tak peduli omonganku, tramco masih saja tetap melaju. Tanpa pikir panjang saya berusaha membuka pintu dan alhamdulillah berhasil. Untungnya laju tramco itu nggak terlalu cepat, jadi bisa langsung turun, dengan sedikit melompat,” pungkasnya mengakhiri ceritanya.

Tidak ada barang berharga yang berhasil dirampok oleh sekawanan perampok yang terdiri dari tiga orang tersebut. Lebih jauh, dirinya juga membeberkan ciri-ciri pelaku. “Ciri-ciri para pelaku yang menyerang saya. Sopir, umur sekitar 26-28 tahun, kulit sawo matang dan matanya besar. Sementara dua Penodongan yang menyamar menjadi penumpang kira-kira berumur sekitar 20-23 tahun, tinggi 170 cm, badan agak kurus, rambut agak keriting, dan bermuka preman”, tandasnya.

Kejadian diatas diharapkan menjadi pembelajaran bagi segenap Masisir agar selalu waspada di tiap waktunya, apalagi beberapa saat lagi musim dingin telah tiba. Berkaca dari kejadian-kejadian sebelumnya, musim dingin merupakan “musim panen” para pelaku tindak kejahatan. Sebagaimana kata Bang Napi, “Ingat, kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah ! Waspadalah !”. [MUNNiR]

Tentang admin

Lihat Juga

Final CCL, Munculnya Juara Baru

Kairo, kswmesir(6/9) – Akhirnya gelaran Cempe Champions League(CCL) berakhir dengan anti klimaks. Barcelona yang mengirimkan …