Home / Opini / kolom / Malam

Malam

Sejak Ibu saya menghimbau untuk tak tidur malam dan baru boleh tidur setelah matahari muncul, entah kenapa saya tiba-tiba mendapat karunia dalam bentuk keberanian melawan kantuk. Ketika itu saya masih usia sekitar antara 11 sampai 13-an, dan saya sungkan meminta alasannya untuk itu—hal yang sejauh ini memang saya hindari begitu Ibu saya sudah dawuh.

Baru belakangan saya mengadakan ijtihad apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh Ibu saya dengan himbauan itu. Ingat, Himbauan dari akar kata Himbau, artinya meminta dengan sungguh-sungguh. Meski tahu itu bukan merupakan suatu kewajiban yang jika tak dipenuhi sebenarnya tak diganjar dosa. Namun akan beda masalahnya jika yang menghimbau adalah Ibu, setidaknya saya meyakini bahwa kata apapun yang keluar dari dalam diri Ibu mengandung semacam kalimat Tuhan yang diucapkan melalui Ibu. Lagian, bukankah Ibu, seperti kata W.S Rendra, adalah kiblat nurani dari kehidupan kita?

Analisa berikut bukan dalam rangka meragukan dawuh Ibu saya, yang di luar mainstream ini, namun apa salahnya mensyukuri karunia dengan cara mencari penjelasan dari sesuatu yang tak konvensional dalam pola kehidupan banyak orang? Saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin sekali menelaah anjuran Ibu itu, minimal dengan menelaah ini saya bisa sejenak terhindar dari kegiatan tak berguna, memotong resonansi mata rantai dari sesuatu yang berujung muspra—ngerasani teman, misalnya. Atau setidaknya dengan proses telaah ini saya bisa sekaligus belajar mengolah wacana menjadi sebuah senandung dialektika.

Baiklah, kita mulai.

Pertama, yang langsung terlintas dalam pikiran saya adalah takjub kenapa Malam kok bisa sampai dipakai Tuhan untuk menyatakan Sumpah. Apa luar biasanya Malam? Saya sempat agak jengkel karena tak kunjung menemukan alasannya. Dan untuk itu, sebelum benar-benar masuk ke esensi tema, saya mesti lebih dulu mengekstrak definisi sumpah dari sudut pandang KBBI:

-Pernyataan secara resmi dengan bersaksi terhadap sesuatu yang dianggap suci.

-Pernyataan yang disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya.

-Janji atau ikrar yang teguh.

Ya, yang langsung terlintas jika merujuk pada definisi tersebut tentu Malam menempati posisi dari salah satu yang tak terjangkau oleh kesederhanaan tafsir. Maksudnya, Malam adalah sesuatu yang sakral sehingga Tuhan secara resmi memakainya sebagai pernyataan sumpah. Artinya ada sesuatu yang agung yang tak dapat dicapai selain di dalam malam. Maka untuk bisa menyaksikan keagungan itu, saya perlu menghadapi malam dalam keadaan sepenuhnya sadar. Terlebih jika menyertakan hal-hal yang senantiasa dipelihara Malam; Bintang dan Bulan. Keduanya juga dipakai Tuhan untuk menyatakan Sumpah secara resmi. Maka makin agung saja makhluk yang bernama malam ini. 

Urutannya seperti ini, Malam adalah sesuatu yang sakral, dan kesakralan malam ditunjukkan dengan Tuhan memakainya sebagai alat sumpah. Bulan dan Bintang—yang juga dibuat sumpah, adalah dua makhluk yang eksistensinya berada di dalam malam, kita, manusia, bersumpah dengan atas nama Tuhan, tapi Tuhan justru bersumpah dengan atas nama Malam. Kalau Yang Maha Tak Terumuskan itu sudah memakai sumpah menggunakan sesuatu yang diciptakannnya sendiri, adakah yang berani, atau setidaknya mempertanyakan, terlebih ingkar terhadap sesuatu yang diagungkan Tuhan sebagai sumpah itu? 

Salah satu buktinya; sholat paling baik setelah fardhu adalah sholat malam, yaitu Tahajud. Dan Tahajud hanya bisa dilaksanakan pada waktu malam. “Paling baik” itu posisinya sudah tak ada yang melampaui. Dan sholat adalah tiang agama. Artinya, tak ada aktifitas apapun yang kebaikannya melebihi ritual tahajud di waktu malam. Maka jika itu yang ingin dicapai oleh Ibu saya, artinya betapa halus sindiran ibu; menyuruh tahajud tapi tidak memakai kalimat yang mengandung kata perintah untuk tahajud. Namun hanya disuruh “melek wengi“. Dan jika itu benar, alangkah ndableknya saya yang sudah tahu itu Perintah—dalam garis bawah dan sekaligus distabilo, dan meski disampaikan dengan cara sanepo, namun saya bersikeras pura-pura untuk tidak tahu—menolak kesimpulan yang saya susun sendiri. Ataukah dengan dianjurkannya saya berjaga itu supaya untuk menghindari bermalas-malasan menjumpai subuh? Barangkali. Dan mengapa pula baru boleh tidur harus setelah matahari terbit? Ataukah Ibu ingin mengasah anaknya ini agar punya daya tersinggung untuk malu tidur pagi? Sebab, konon, kata orang-orang tua; sopo wonge turu lebar subuh, rizqine ditotol pitik. Heuheuheuheu.

O, iya. Saya baru ingat, saya pernah sekali bertanya dan selanjutnya tidak pernah tentang untuk apa saya disuruh berjaga pada malam hari, dan beliau cuma jawab; Sing penting melek. Terserah meh lapo. (Yang penting berjaga, terserah mau ngapain). Heuheuheuheuheu.

Kedua, saya jadi teringat di dalam buku “Kifayatul Adzkiya”, bahwa “melek wengi” adalah salah satu dari empat syarat untuk mencapai maqom Wali Abdal. Sedikit keterangan, wali abdal menurut kebanyakan pendapat ulama’ jumlahnya hanya tujuh di dunia ini pada setiap zamannya. Mungkinkah Ibu saya punya cita-cita terselubung agar saya menjadi wali abdal dengan potongan rak mbejaji seperti saya ini? Saya berupaya meyakin-yakinkan diri bahwa sesungguhnya tidak demikian yang dikehendaki beliau. Atau jika benar tidak, bukankah seseorang yang menyerupai salah satu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut? Artinya, yang hendak dicapai oleh ibu saya, meski tidak menjadi wali abdal, paling tidak sudah menyerupai tirakatnya wali abdal.

Ketiga, dalam salah satu hadis ada redaksi ini “عليكم بالدلجة فإن الأرض تطوى بالليل”—Hendaklah kalian mengadakan perjalanan di malam hari, karena bumi dilipat di waktu malam. Dalam redaksi tersebut Malam diucapkan dua kali, satu sebagai derivasi—الدلجة  dan lafal  الليل sendiri—Artinya, yang hendak dicapai dari redaksi itu adalah upaya menegaskan Malam sebagai waktu terbaik untuk mengadakan perjalanan. Toh, perjalanan malam selalu lebih lancar ketimbang siang, kita tahu kalau waktu malam jalan raya sepi. Iya to? Makanya, Isro’ Mi’roj juga dilakukan pada waktu malam. Dari sini, saya nyaris menemukan apa yang sejauh ini saya ingin simpulkan, bahwa saya disuruh keluyuran pada waktu malam. Tentu saja, yang dimaksud keluyuran dalam pengertiannya itu bukan cuma mengandung makna tunggal, dengan kata lain, perjalanan malam itu punya makna ‘polisemi’—artinya bukan perjalanan fisik semata, namun juga keluyuran secara ruhaniyah. Mengadakan Outbound dengan misi mencari jatidiri. Sederhananya, bahwa perjalanan di situ sinonim dengan proses. Sebuah proses bisa saja terjadi di alam pikiran, bisa saja berlangsung dalam imajinasi, bisa saja dalam bentuk bekerja via batin—bukankah doa adalah pekerjaan batin, perjalanan dari Harapan ke Pasrah? Dan seterusnya. Tentu saja, Malam bukan satu-satunya metode bagi pejalan untuk mengadakan perjalanan. Hadis tersebut cuma menawarkan kemungkinan terbaik dari semua waktu yang ada, yaitu waktu malam sebagai rekomendasi bagi pejalan untuk mencapai tujuan secara lebih dinamis. Tentu saja pejalan di sini bukan sekadar pejalan kaki, kita bisa menafsirkannya sebagai pejalan apapun, termasuk Pejalan Cinta. Heuheuheuheu.

Lha wong Lailatul Qodar saja itu berlangsung di malam hari. Al-Qur’an diturunkan juga pada waktu malam. Saya kira sampai di sini sudah cukup untuk membuktikan keagungan malam tanpa harus berlindung dari kedetailan ayat-ayat al-Qur’an yang integral dengan malam, bahwa begitu banyak sebenarnya kosakata Malam di ayat al-Qur’an. Kalau saya bawa-bawa referensi Al-Qur-an segala untuk mendukung Malam sebagai waktu terbaik untuk melek kan nanti malah saya dicurigai atau divonis sebagai orang kajian—dalam tanda kutip. Karena sesungguhnya jika saya sampai dicap sebagai ‘orang kajian’ artinya saya mengalami dekadensi ideologis dalam kapasitas saya sebagai orang yang beroperasi di dalam kehidupan kultural. Heuheuheuheu.

Pendeknya, saya jadi menduga-duga bahwa Tuhan menciptakan malam semata agar ketenangan menemukan maknanya. Saya bersyukur untuk telah diberi karunia dalam bentuk keberanian menghadapi malam dengan keadaan sepenuhnya sadar, sebab pada praktiknya, hanya sedikit orang yang bersedia dhohir-batin menerima karunia itu, bahwa sesungguhnya hanya sedikit orang yang ternyata siap menerima malam sebagai karunia.

Maka sejak saat itu sampai ketika saya tulis catatan ini, saya masih menjadi makhluk nokturno; yaitu menjadi manusia yang aktif pada saat keheningan mencapai tahap paling sublim. Malam adalah keheningan dalam bentuk lain, seperti kata Sapardi Djoko Damono; bahwa Malam sibuk di luar suara. Artinya jauh dari keramaian, kalau toh ada keramaian di waktu malam paling-paling itu cuma seorang Jomblo yang sedang berurusan dengan kesepiannya. Akhir kalam, jika ada istilah begadang, bagi saya itu berlaku tidak pada waktu malam. Tapi antara jam 8 pagi sampai dhuhur dan kadang-kadang sampai ashar atau bahkan sampai maghrib.

Sekian dan mohon dimaklumi adanya.

 Kairo, 2015.

 Usman Arrumy

Tentang admin

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …