Home / ؞ Opini / kolom / Manusia dan Syahwat Identitas

Manusia dan Syahwat Identitas

Tan Malaka, dan mungkin juga banyak dari filsuf lainnya, mengatakan bahwa “tak ada definisi maka tak ada ilmu”. Dari teropong yang jauh dan dipasang di paling ujung Everest pun kita musti sudah tahu pentingnya definisi untuk membatasi jangkauan ilmu-ilmu. Bahkan kita memang terlanjur mengangguk pada perkataan banyak filsuf bahwa definisilah yang memunculkan keragaman ilmu. Definisi manusia, contohnya, kita sadari telah memunculkan, atau paling tidak membatasi perkara ilmu-ilmu yang beragam; manusia adalah hewan yang berpikir. Manusia adalah kelas hewan, jenis dari mereka. Satu sisi ini memunculkan dan membatasi ilmu biologi, dan bahkan dewasa ini ada ilmu yang lebih spesifik membahas mengenai tabiat manusia sebagai bagian dari jenis hewan. “Hewan yang berpikir” adalah batasan dari manusia, sebab, kita tahu tak hanya manusia yang berasal dari jenis hewan, tapi di sana juga ada kerbau, monyet, anjing dll. Dari sini, muncul pula ilmu lain, yang lebih spesifik mempelajari cara kerja otak manusia dalam berpikir. Dan banyak lagi contoh yang serupa di atas.

Identitas berasal dari konsekuensi definisi. Pembatasan atas segala hal membikin hal-hal itu serasa terpecah-belah dan kelihatan berbeda. Dari perbedaan, biasanya manusia mencari kesalahan. Sejarah pertikaian manusia berasal dari pemahaman yang keliru mengenai perbedaan. Bahwa saya bukan dari suku Anda dan Anda lain dari negeri saya. Atau yang paling banyak kita dapati akhir-akhir ini: Anda bukan dari agama saya dan saya sama sekali bukan dari agama Anda. Perbedaan semacam ini jika disalah-mengerti akan memunculkan pembedaan. Dikatakan oleh salah seorang bijak: “Perbedaan adalah niscaya sedangkan pembedaan adalah pilihan” — memang agaknya benar juga pendapat orang bijak itu. Tapi perbedaan bisa juga dilihat dari klasifikasinya, dan diteropong dari arah mana. Saya berbeda dengan Anda dari segi suku dan bangsa, tapi saya dan Anda sama-sama manusia.

Pembicaraan semacam ini tak ayal bukan hanya mengenai identitas sebagai pembeda antara sesama manusia tapi malah menjulur pada kesalah-pahaman tentang definisi definisi itu sendiri. Pada perkara ini, mari kita bincangkan dua hal yang menjadi kasus kita. Ialah pertama, mengenai cara orang memahami identitas sebagai pembedaan dan bukan perbedaan; dan kedua, mengenai salah-paham tentang definisi definisi.

Kalau kita belajar ilmu logika, yang justru kita temukan dalam perkara definisi adalah cuma tiga hal: jenis atau kelas, fashl atau pembeda, dan khashah atau karakteristik. Sementara itu, ‘ardh aksiden (atau identitas?) dan nau’ atau spesies tidak bisa masuk dalam sebuah definisi. Kalau kita mendefinisikan manusia, maka bukan dari identitasnya seperti misal: manusia adalah orang Jawa. Definisi semacam ini keliru. Karena manusia bukan hanya orang Jawa. Orang Jawa bisa kita ganti dengan atribut lain, misalnya agama dan status sosial. Begitu halnya nau’; kita tak bisa mendefinisikan manusia dengan definisi nau’ sebab manusia adalah nau’ itu sendiri. Maka kita tidak bisa mengatakan bahwa manusia adalah manusia. Dari sini, agak jelas kerancauan kita sebagai manusia ketika melihat perbedaan sebagai pembeda. Status sosial baik itu agama, jabatan, kedudukan hanyalah identitas diri atau sebagai yang aksiden dari manusia. Ia bukanlah esensi manusia. Maka, perlulah kita tertawakan mereka yang berperang atas nama agama, kedudukan, dan jabatan, dan jutaan perkara atribut lainnya. Saya jadi teringat sebuah sajak dari Gus Mus yang dilagukan oleh Iwan Fals, judulnya “Aku Menyayangimu”. Mari kita kutip sebagian:

Aku menyayangimu karena kau manusia
Tapi kalau kau menghancurkan kemanusiaan
Aku akan melawanmu
Karena aku manusia

Di dalam sajak itu, sama sekali tidak tertera identitas apapun, misalnya, aku menyayangimu karena kau seorang Muslim. Sebabnya sudah barang tentu Gus Mus ingin mengukuhkan persamaan kita sebagai manusia bukan perbedaan kita sebagai pemeluk ideologi tertentu. Sejarah sudah membuktikan kenyataan terpahit dari pembedaan manusia dari sisi identitasnya. Pembantaian Hitler atas orang Yahudi dalam perang dunia kedua tentu terjadi karena ia membedakan manusia dari sisi rasnya; bahwa Ras Aria adalah ras terbaik yang paling berhak memimpin dunia dan Yahudi sebagai ras paling nista harus dimusnahkan dari muka bumi.

Di lain pihak, kita tak hanya berperkara dengan kesalah-pahaman definisi seperti yang diurai di atas, tapi kita juga berperkara dengan paham Liyan (the other). Menurut Richad Oh, identitas seperti halnya Mobius yang melilit; ia mengkuhkan satu kelompok sekaligus seringkali menganggap kelompok lain adalah ancaman. Identitas kita sebagai bangsa Indonesia seolah mengharuskan kita memandang negeri jiran Malaysia sebagai ancaman. Terlebih jika ada salah satu pesawat tempur mereka yang melewati daerah perbatasan kita.

Maka, identitas sifatnya hanya dua: nisbi dan abstrak. Begini penjelasannya.

Identitas sebagai sesuatu yang nisbi bekerja dari sudut pandang. Identitas sering mengharuskan orang untuk membela identitas yang diembannya sehingga praktek kekerasan dari sini mendapatkan legitimasi atau pengesahan. Contohnya, orang Indonesia merasa punya identitas ke-Indonesia-an, dan orang Amerika, misalnya, juga punya identitas ke-Amerika-an. Jika kedua negera ini berperang, satu dari kedua negara ini tentu akan mengatakan hal yang sama. Prajurit Indonesia akan berkata hal yang mirip dengan prajurit Amerika: saya membela negara saya, tanah air saya. Kenisbian ini tentu akan bermasalah. Sebab, justru dari sinilah peperangan di muka bumi tak kunjung usai sampai saat ini. Kasus yang terbaru adalah Perancis yang merasa memiliki identitas ke-Perancis-annya sehingga ketika identitasnya diusik, ia boleh meledakkan markas-markas ISIS—yang malah banyak menimbulkan korban jiwa dari warga sipil Suriah yang tak tahu-menahu duduk perkaranya.

Identitas sebagai hal yang abstrak ini saya temukan dari pendapat Alain Badiou. Ia menyebutnya, seperti yang juga dikutip oleh Richad Oh, dengan sebutan “akronim usang”. Seperti halnya keadilan, identitas adalah terma yang abstrak. Perkataan bahwa saya orang Perancis adalah murni sebuah aksiden dan anggapan yang boleh digeser dengan identitas lain yang lebih spesifik seperti beragama Kristen atau yang lain—yang mana anggapan itu ketika hilang sama sekali tidak menganulir kita dari kata manusia. Kita tetap manusia meskipun tanpa identitas. Jika identitas itu sesuatu yang abstrak, apakah kita perlu untuk tak mengenakannya? Dalam prakteknya, kita hampir mustahil lepas dari identitas. Dan upaya untuk menghapus identitas apapun dari muka bumi sama dengan mimpi seorang yang lugu dan naif. Lantas, jika demikian, apa yang harus kita lakukan?

Tawaran yang masuk akal adalah dengan menganggap identitas sebagai hal kedua, sebagai prioritas pendukung yang sekunder. Biarlah saya orang Indonesia dan Anda orang China, asalkan kita menyadari kalau kita manusia (yang artinya ini adalah hal yang primer) maka kita akan berpikir berulang kali untuk saling membunuh, berperang satu sama lain. Tapi tentu untuk sampai ke sana, kita butuh waktu dan tidak semulus proses beraknya orang mencret. Ya, kita bisa mengatakan bahwa: identitas itu penting, tapi sesuatu yang penting belum tentu segalanya. Saya pun tak memungkiri pentingnya identitas, sebab dari sana, timbul identitas saya sebagai penulis dan Anda sebagai pembaca. Artinya, saya tak mungkin menjadi penulis kecuali adanya Anda sebagai pembaca. Bukankah demikian? [*]

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …