Home / ؞ Opini / masisir / Masisir dan Perwujudannya (2)

Masisir dan Perwujudannya (2)

Fenomena ATDIK memudar jejaknya. Keramaian (gembyar rasa kecewa dan sakit) yang menghinggapi kemarin sore, seakan-akan terobati dengan hadirnya dialog antar mahasiswa dan ATDIK. Kesalah-pahaman yang terjadi seakan terselesaikan dengan sikap terbuka dari ATDIK dan terkabulnya permintaan mahasiswa agar dapat bantuan dana, serta adanya perhatian dan dukungan dari ATDIK untuk kegiatan mahasiswa dalam membangun lingkungan pendidikan di Masisir dengan baik. Untuk saat ini, peristiwa di atas, memberikan efek positif untuk beberapa kalangan, dan juga menimbulkan efek negatif pula  untuk beberapa kalangan. Akan tetapi, di sini, penulis tidak membahas tentang kontruks efek positif hadir dalam bentuk dan wajah seperti apa dan juga tidak pula membahas kehadiran efek negatif dalam kontruks seperti apa. Tapi membahas tentang pertautan eksistensi Masisir dengan realitasnya dalam mencipta bahasa keseharian: belajar, bisnis, organisasi, tidur dan lain-lain, dari pantulan peristiwa yang telah ada.

Dalam kontruks bahasa, menurut Gadamer, eksistensi sebuah komunitas melahirkan ciri khas bahasanya masing-masing atau pun akal budi yang masih tersimpan dalam komunitas bernama Masisir. Kontruks bahasa ini sebagai wujud adanya dunia ‘khusus’ yang hanya dipahami oleh mereka bernama Masisir.  Atau sebagai bentuk keajegan intelektual yang bisa melampui setiap kesadaran invidual untuk bisa dikenali oleh realitasnya. Jelasnya bahasa dalam istilah Gadamer membantu untuk membentuk hubungan dengan dunia di mana manusia hidup (Truth And Methode, 1976)

Dari sini, penulis ingin menarik makna yang muncul dari kata Masisir dan peristiwa yang mengitarinya. Untuk menentukan sudut pandang dan pemahaman sebagai ilmu dengan mendialektika-kan relativitas-relativitas penempatan wujud Masisir dengan dunianya. Dengan tujuan, bahwa kata Masisir mempunyai situasi objektifnya sendiri untuk mencapai tujuannya. Tidak peduli memendarkan pesan positif atau negatif, ia mempunyai ruang ontologi yang harus dipahami bersama agar sesama Masisir tetap menjaga kode etiknya masing-masing di manapun berada.

Kode etik yang dimaksud di sini, adalah pembawaan karakter dan sifat primodial yang diciptakan terlebih dahulu oleh habitatnya (para penghuni komunitas Masisir) senantiasa tidak menyalahi kodrat untuk berkehendak: egoisisme dan arogansisme. Ataupun melupakan wujud berdirinya komunitas Masisir sebagai ideomatik bersama: ada rasa saling menghormati atas sesama Masisir. Meskipun ia harus bersikap kritis terhadap sekitarnya, Masisir tetap harus menjaga kode etik sebagai pelajar, mahasiswa, orang Indonesia, manusia dan kaum beragama. Jika kode etik yang diciptakan oleh pengetahuan dasar mereka menghilang sebab rasa kemandirian dan arogansi sifat kritis, lalu pentingnya apa, membaca manusia sebagai manusia. Lalu bagaimana menarik titik pijak (pengaruh pengalaman ke dalam dunia realitas sejati), jika tidak memposisikan dan mengejawantahkannya sebagai laku agama. Keberhasilan ini membuktikan bahwa nilai aktualitas agama yang diyakininya benar-benar mewujud secara kognitif dan afektif sebagai keseharian. Jika tidak berhasil, maka fungsi dan peran pengalaman dalam menyerap segala ajaran, tidak pernah mencair mengaliri setiap tingkah manusia. Ia seakan mengkristal dalam bentuk keajegan doktrin dan ruang kosong tanpa ada imajinasi warna. Benar-benar suci untuk diubah dalam keyakinan yang baru, tetap sama (mélange).

Ruang kode etik ini, sebagai jembatan penulis untuk berdialog dengan makna dari Masisir dari sudut pandang penulis antara objektifitas dan subjektifitas makna yang dikandungnya. Hal ini juga sebagai bentuk logika berkelanjutan ditulisan awal penulis tentang (Baca: Masisir: makna dan perwujudannya) Bahwa ‘kita’ sebagai “Masisir” harus mempunyai kesadaran awal tentang siapa kita dan bagaimana kita meyakini Masisir sebagai wujud relativitas yang dibentuk oleh habitatnya. Jika benar, bahwa Masisir adalah Mahasiswa Indonesia di Mesir: senasib dan seperjuangan? Lalu ke manakah sudut pandang kesantunan sikap pelajar terhadap realitasnya? Hanya dalam akal budi-kah atau kah sudah menghanyut dengan kebiasaan-kebiasaan baru: modernitas?

Pijakan ini untuk menegaskan identitas kita sebagai pelaku sejarah yang akan tercatat dalam ruang batin: bahasa “Masisir” yang serba ambigu dan pecah belah; tidak kesatuan visi dalam membaca dan menyadari langkah ke depan untuk pogres ke-agamaan dan kebangsaan, kecuali hanya sebagian saja dari komunitas Masisir, tapi atas nama lebih spesifik. Maka lelaku dan rutinitas perpisahan dari setiap para generasi adalah pemakluman relativitas atas memendarnya wujud “Masisir dengan dunianya”. Begitu juga dengan konflik yang terjadi pada Masisir dengan ruang kekuasaan, juga bagian dari pemakluman relativitas makna terhadap wujudnya. Dari sini, kaca-mata kesadaran, menjadi penting untuk membuktikan nilai penting identitas wujud dalam berelasi, meskipun dalam ruang paling sederhana: diri kita.

Sebelumnya, telah diketahui bersama, bahwa untuk saat ini, konteks pengenalan batas Masisir masih sebatas cerita dari kakak-kakak senior terdahulu bahwa Masisir adalah kumpulan para pelajar Indonesia yang kebetulan di Mesir; senasib seperjuangan di negara asing. Pertautannya bagaikan doktrin, diujarkan sebagai bahasa bermakna tunggal, tapi mewakili macam-macam entitas. Jika demikian wujudnya, pembludakan wacana mengenai Masisir, memantulkan kesadaran cermin pecah belah, tak utuh, tapi mencederai satu sama lain, adalah sah-sah saja. Maka siapa saja boleh untuk menundukan sudut pandang kebenaran atasnya tanpa ada garis demakrasi pemisah antara etik dan logos. Hal ini menjadi riskan sekali, jika kesadaran ini telah membentuk watak lelaku Masisir sebagai kebiasaan. Lalu pembiasaan ini mengganti sudut pandang asli yang lahir dari habitat watak dirinya. Maka retakan-retakan pemahaman tentang siapa dirinya sebenarnya seringkali akan terjadi pada setiap sisi. Hal ini karena sejak mula, “Masisir berwujud” tiada ada dialektika nalar mula dirinya terbentuk dengan dunia barunya. Maka tak heran, seringkali ada dialong ber-tema-kan: peluang alumni Al-Azhar atau pun mahasiswa di sini ketika pulang ke Indonesia ataupun Masisir kini dan dulu, mengalami penurunan kreatifitas.

Tentunya, kebermunculan ide di atas, bukan untuk dicemooh ataupun diremehkan, tapi disadari sejak awal, serta mengenali akal-budi apa yang mempengaruhi kesadaran komunal untuk membicarakan peluang, jika peluang sesungguhnya ada pada pribadi-pribadi tangguh (memadukan unsur pengalaman untuk mengenali batas cakrawala kebutuhan dirinya). Bahasa ini, sebagai ruang pemaknaan lain, terhadap realitas Masisir akan dirinya. Bukan bentuk final mengenainya.

Salah bentuk kesadaran yang patut dilahirkan dari peristiwa kata “Masisir” adalah konsepsi menjadi satu bersama kata “Masisir” dalam mewakili kesadaran kolektif. Bahwa Masisir, tidak terletak pada ruang belajar mengajar, tapi juga dalam ruang intraksi sosial. Serta tidak hanya terbatasi pada kegiatan organisasi, tapi juga pada keseharian bahwa komunitas bernama Masisir juga wadah dari aktualisasi nilai kemanusiaan. Sehingga aktifitas dan kegiatan yang berkaitan tentang kehidupan “Masisir” patut dimaklumi, baik kegiatan sosial keagamaan, ataupun sosial-budaya, serta sosial-pendidikan. Akan tetapi potret yang hadir, seperti yang ada dalam peristiwa Mahasiswa Vs ATDIK, dalam bentuk dialog, hanya mewakili potret kecil tentang Masisir. Jika pada kesempatan tertentu, ada satu mahasiswa bertindak aneh dan asing untuk ruang sosial, untuk penisbatan sang pelaku sebagai bagian dari Masisir sah pula, karena itu realitasnya dan fenomena tentang diri Masisir. Maka tak berhak untuk menghakimi dari sudut pandang personal, tanpa menghadirkan sudut pandang seimbang untuk sang pelaku tadi. Apalagi selama peristiwa ini, telah terdapat jejak-jejak (cerita-cerita senior) memberikan deskripsi pada imajinasi para mahasiswa baru, tentunya, relasi “Masisir” tidak terletak pada ruang formalitas, tapi juga non-formal. Hal ini menjadikan hak nama atas mahasiswa yang bertindak aneh, maklum adanya. Dan lahirnya fenomena ini, perlu disikapi sebagai situasi objektif dan subjektif. Karena pada titik tertentu, peran dan cerita para senior penting, sebagai peta di dunia baru, sekaligus menghegemoni alam bawah sadar –jika tidak demikian, akan salah—. Lalu bagaimana menjawab pertanyaan di atas secara kesuluruhan?

Jawabannya tentu, pada kemampuan pribadi dalam menafsirkan realitasnya untuk saling berdialog. Kemampuan untuk saling berdialog, akan mencipta suasana teleologis akal budi dan struktur ontologis dari yang ada. Sehingga kesan jelek, sifat egoisisme, sinisme, rasisme, terkendali atas hadirnya kesadaran mula tentang “Masisir”. Maka tak bermasalah, menyandarkan harapan pada genarasi mendatang diwakili oleh Masisir. Masisir bebas pun, akan tetap menggunakan wajah santun-nya mengkritik atau pun menggunggat identitas tentang dirinya.

Maka “Masisir” sebagai kata satu, bermakna banyak, membuka ruang dimensi bahasa baru. Yakni membuka sebuah dimensi dari tradisi yang diwariskan oleh masa lalu, kepada mereka yang sekarang hidup. Sehingga kebebasan yang mereka terima tetap ada kontrol diri untuk bertindak sekeras apapun; ataupun bertindak senaif yang ia suka. Ia harus berutang budi, dengan mengingat makna genuin yang ada dalam istilah “Masisir”: berwatak santun dan berperadaban tinggi. Mode ke-mengada-an ini sebagai cara membuka dan mempertahankan tradisi ke dalam kebenaran tradisi sebagai bentuk kata-kata yang terekam oleh panca indra dan menyatu dalam laku kehidupan.

Pada akhirnya, kekuatan bahasa yang ada pada kata “Masisir” hadir bukan untuk bersendawa, ataupun hampa, tapi melahirkan visi kedepan dalam bingkai kontruksi realitas manusia unggul dalam segala bidang. Hingga akhirnya, persenyawaan makna agama dan realitasnya yang ada dalam “Masisir”, sebagai mahasiswa di bidang agama, terjelaskan oleh laku-laku santun. Tidak hanya, kritis, tapi mandul. Justru sebaliknya, kritis juga progesif dalam membangun peradaban dan keragaman makna budaya. Kedepannya, penolakan akan kegiatan “Masisir”, harus selalu didialogkan, untuk mendapatkan situasi objektif dan subjektif. Dan mampu menjawab sisi konsepsi yang pudar bersama cara laku yang saling menyudutkan; tua hengkang dan muda membangkang, menjadi tua perhatian dan muda menghormati.

Nashifuddin luthfi

Tentang admin

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …