Home / OPINI / Masisir: Makna dan Perwujudan-nya

Masisir: Makna dan Perwujudan-nya

Akhir-akhir ini, sering terjadi percakapan sederhana tapi serius dalam dunia maya lingkup Masisir. Berkenaan tentang legitimasi hak preogratif mahasiswa dan ATDIK selaku wakil istitusi negara Indonesia di sini. Untuk permasalahan atau pun persoalannya, penulis sendiri, kurang begitu memahami dengan baik alur kejadiannya –sebab musabab terjadi-nya percakapan dan ketegangan untuk melegitimasi status ‘ego’ benar. Akan tetapi, hal penting yang ingin ditekankan di sini adalah peristiwa yang hadir  menarik untuk diperdebatkan dalam sudut pandang fenomena hermeneutika sebagai dasar pembentukan dimensi bahasa. Yakni merumuskan ulang kesan makna yang nampak dalam peristiwa untuk ditarik sebagai dasar analisa dari kekuatan bahasa.

Hal ini terispirasi  dari perkataan dari Gadamer: bahwa fenomena hermeneutika terbukti sebagai sebuah kasus khusus tentang hubungan umum antara pemikiran dan pembicaraan, serta ruang intim yang terjadi antara cara mengikat, cara bersembunyi dibalik bangunan pemikiran. Fenomena ini oleh Gadamer dinamakan sebagai lingkaran tertutup yang terjadi dalam interaksi serta relasi antara pertanyaan dan jawaban. Bentuk lingkaran ini menguatkan pandangan bahwa dalam peristiwa fenomena hermeneutika terdapat suatu kehidupan yang diwakili oleh bahasa dan penafsiran terhadap teks. Bentuk ini menunjukkan bahwa ada tradisi yang tersimpan dalam konsep bahasa sebagai media. Lalu apa yang bisa kita tarik dari statemen di atas terhadap fenomena percakapan sederhana tapi serius dalam lingkup Masisir? Sebuah kesadaran untuk berdialog dan berpikir kritis. Iya kah?

Sebelum menjawab lebih jauh pertanyaan di atas, penulis ingin memulai dari pemaknaan terhadap istilah Masisir. Masisir pada awal mulanya berasal dari sambungan kata Mahasiswa Mesir Indonesia. Ia bukanlah sebuah definisi yang mengikat kebenaran ekesistensi kesadaran kolektif, tapi susunan dari kesadaran –pengetahuan dan tahu diri—akan hal tanggungjawab dan dirinya. Yakni, kedatangannya di dalam Mesir sebagai pelajar yang mengkaji ilmu agama atau pun ilmu umum ataupun lebih luas, tidak lebih; jika lebih dari itu, ia adalah bagian dari tanggungjawab manusia untuk bertahan hidup dan mempunyai sudut pandang berbeda konteksnya dengan artikulasi istilah dan pemaknaan mengenai istilah. Dan di saat ini, istilah tersebut telah diterjemahkan secara serempak sebagai sebuah identitas. Dan telah lahir sebagai jargon untuk seluruh mahasiswa yang hidup di bumi Mesir ini, tanpa ada batas geografis yang mengikat. Lalu, pelan-pelan membumi menjadi bahasa umum untuk menunjuk setiap komunitas Indonesia yang ada di Mesir.  Dan hilanglah akar kesadaran paling primodial dari makna filosofi Masisir jika ada. Tapi jika tidak ada dan tidak dianggap penting, istilah tersebut juga melambangkan watak-nya dari sifat ketidak pedulian arti dibaliknya; hanya sekumpulan dari kehendak-kehendak untuk merasa bersama karena di negara orang lain dan makna bersama bukanlah hal penting diartikan, karena sifatnya bersama tidaklah sama. Tapi lebih sifat bersama hanyalah ketika waktu terdesak atau pun butuh sesaat. Sehingga pemakluman terjadi dengan sifat dikotonomi hak refrensial dan pancasila sebagai dasar filsafat bangsa yang dibawa dari Indonesia apa adanya, tidak utuh.

Di sini, sikap menerima dan menolak (untuk memberi arti dari istilah Masisir), menjadi sama penting. Karena di dalamnya terdapat lingkaran kehidupan yang disebut oleh Gadamer sebagai relasi pengikat antara pemikiran dan pembicaraan. Jika ia hanya sebuah ujaran tanpa arti untuk sebuah nama atau pun identitas, tetap saja di sana ada kehidupan esensial dari pentingnya tradisi dalam menjaga nilai asali Masisir. Nilai asali inilah titik pijak membuka tirai pentingnya sikap menerima dan menolak. Akan tetapi wajah asali yang dikehendaki masih tersimpan dalam topeng-topeng heterogenitas mahasiswa dan kebutuhan universal mahasiswa. Pertanyaan di atas, adalah bagian dari cara mengada untuk ke-arah sana, potret buram istilah dan cakrawalah konsep pemahaman manusia atas kehendak dirinya serta bahasanya. Apakah ia ada untuk berdialog sebagai daya kritias atau kan sebuah kejengahan sesaat?

Tak perlu menjawab pertanyaan di atas dengan pretisius tinggi, karena bisa membebani mahasiswa pada umumnya, dan baru pada khususnya untuk semakin berkreatifitas. Akan tetapi yang penting adalah cara ke-mengada-an di atas, adalah sebagai fenomena bahasa dan tradisi dari karakter orang-orang kontemporer: lugu, lurus dan unik (bukan makna asli dari lafadz).  Yakni, jika kemudian kata Masisir tidak bisa mewakili spektrum bersama dan kebersamaan, janganlah digugat. Tapi dipahami dan dilenturkan sesuai paradigma keragaman dalam menuju samudra perdamaian dan persatuan. Akan tetapi jika kata Masisir, masih tetap dipahami sebagai kumpulan pelajar tanpa dipahami dengan spektrum ‘ragam’ dan surplus meaningnya, penampakan fenomena saling bersinggungan akan semakin nampak jelas dan komulatif. Sehingga peristiwa yang hadir pun, nampak berjarak dan tidak bisa dialog-kan secara akademik atau pun secara ilmiah ataupun secara kebutuhan. Yang ada karena kehendak untuk didaku benar.

Peristiwa ini dalam bahasa di namakan sebagai wacana. Kelahirannya sebagai sebuah nama dan istilah komunitas untuk mengidentifikasi dimensi  bahasa lokalitas dan bahasa peristiwa atau pun kejadian menjadi perantara menuju rentetan bahasa tulisan di setiap dunia maya Masisir. Permulaan ini diawali dari deksripsi tentang Masisir terdahulu, sekumpulan orang-orang yang sedang berjuang di Mesir, menuju pada sentimental setiap ras dan suku sampai pada puncak kekuasaan antara mahasiswa dengan penduduk pribumi dan pihak berwenang (KBRI). Faktual dan aktualitas kegiatan serta gosip sering terjadi dengan menjadikan Masisir sebagai objek, kadangkala kebalik, menjadikan penduduk pribumi dan KBRI sebagai objek. Sayangnya, peristiwa ini tidak dilandasi kesadaran akan sebuah hal tentang hak Masisir sendiri sebagai sebuah kelompok yabg harus utuh dulu sejak pengistilahnya, atau pun sepaham bahwa kehadirannya adalah pemakluman kolektif yang patut diperjuangkan hak eksistensialnya, bukan hanya susunan kolektif. Begitu juga dengan pihak lawan Masisir,  hanya menggunakan jabatan resmi sebagai alat legitimasi kebenaran dan bersifat ‘atas’, tapi juga merenungi watak eksistensial dari kehadiran jabatan di sini. Jika memang di sana terdapat karakter saling tumpang tidih, sejak awal, benturan sudut pandang bisa damaikan dengan merefleksikan nilai kemanusiaan bersama. Akan jika tidak ditemukan, wujud refleksi atas nilai kemanusiaan, harusnya bisa terjaga dalam norma memahami ataupun dengan stadar hak bersama warga negara Indonesia dan jaminan berkreatifitas ataupun standar lokalitas yang lain.

Dari deskripsi di atas, tak heran, jika perisitwa yang hadir akhir-akhir ini, menjadi menarik untuk dilihat dari sudut pandang bahasa. Melalui bahasa, lingkaran khusus ini bisa ditawarkan ke dalam ruang universal. Sehingga potret realitas Masisir dan tindakannya serta hak-nya untuk hadir di berbagai sistem mendapatkan pembenarannya objektif. Dengan alasan, bahwa pembenaran objektif sebagai rumusan mental kolektif yang sebenarnya patut dicari bersama oleh komunitas bernama Masisir. Akan tetapi jika rumusan ini, kurang representatif, eksistensi kemanusiaan tetap berdiri mewakili alasan kebersamaan yang teracam –tercerai berai— oleh ragam-nya entitas di Masisir.

Sifat ini membawa pada satu pemahaman atas kebenaran dari hadirnya nama dan istilah. Yakni pemahaman atas nilai kebenaran ini membuka ruang pemaknaan ulang atas apa yang terendam dalam jiwa manusia. Sifat bawaan ini membentuk seperangkat pertanda atas makna dari teks atau pun historis atau pun pemakluman apa adanya. Kebermunculan dan pembacaan mengenai-nya menghasilkan sifat baru berupa bahasa penjelasan. Bahasa penjelasan ini yang dibawa dalam satu waktu, tanpa dilalui meditasi atas dua dimensi kepribadian diri manusia. Dan peristiwa ini juga,  menjadi problem dalam seperangkat penafsiran. dan di sini diwakili oleh realitas wajah Masisir yang hadir secara serentak.

Pastinya, letak horizon makna dan hadirnya istilah Masisir sangat asing bagi para mahasiswa baru yang datang ke Mesir, bukan mahasiswa lama di Mesir. Begitu juga sangat asing untuk para penduduk mesir atau pun para istitusi resmi negara Indonesia yang bertugas di sini. Keasingan ini dimunculkan oleh hadirnya kenyataan dilema yang terjadi pada diri dan sikap petinggi KBRI atau pun ATDIk. Atau pun para penduduk Mesir sendiri. Mereka seringkali terkesan acuh tak acuh pada kegiatan Masisir, dan kurang bisa berkenan pada kreatifitas yang diadakan oleh Masisir, dengan alasan apapun juga. Sehingga entitas Masisir seperti katak dalam tempurung. Atau pun api dalam sekup. Tiba-tiba membesar dan siap membakar apapun itu; tiba-tiba juga bersuara lantang tapi lemah untuk menggetarkan para wakil rakyat di sini. Dan pastinya, ini hanya sekedar fenomena yang nampak saja secara kolektif, bukan secara per-komunitas atau pun secara per individual sebagai gejala bahasa penolakan. Awas masih pencarian makna! Sehingga permasalahan dan konflik penafsiran realitasnya, asing untuk diperdebatkan dalam ranah ilmiah. Hal ini karena horizon yang dibawahnya, masih asing untuk sebagian orang.

Dari sini, gejala yang muncul sebagai akibat ketidak semengertian fungsi masing-masing entitas, adalah retakan pemahaman akan realitas dan kesadaran antar keduanya. Kedua-keduanya saling bersikukuh pada pemahaman bahwa ‘kehendak’nya yang benar, tidak lain. Bukan maksud membela salah satu-nya, atau pun mencoba mericuhkan suasana. Tapi karena faktor kesadaran sejak awal dari Masisir, bukanlah kesatuan eksistensi yang dipermak dengan sebuah kesadaran bersama ke dalam satu pemahaman, menjadikan Masisir rancu untuk dimaknai secara idealis. Ia hanya bisa dimaknai sebagai pemakluman realitas, bukan satu bentukan dari teori menuju aplikasi.

Dengan pertimbangan ini, peristiwa yang hadir akhir-akhir ini, telah ada problem sejak penamaan dan pemaknaan. Hal ini karena pemahaman terpasung pada kehendak untuk menafsirkan makna otoritas dan hak untuk diakui benar. Dan beruntungnya, penyebab dari problem ini, karena kesamaan rasa, pengalaman atas sikap yang sama dari ATDIK. Sehingga konflik ini, seperti gugatan masyarakat atas hak kebebasan mereka untuk menikmati jaminan dari negara-nya, atau pun merebut kembali kebebasan hidup dari mereka dari cara berpikir mandeg dan opurtunis. Gugatan ini, jika ditelisik lebih mendalam, apakah benar sebagai watak Masisir asali ataukan ia watak liyan yang hadir bersama, bersinergi dalam satu wajah: perjuangan? Karena Masisir adalah istilah bersama, mari bersama-sama mereflesikan makna dan watak Masisir bersama-sama untuk persiapan menjadi manusia merdeka secara utuh: jiwa dan raga dan pertanyaan di atas sebagai pemantik untuk mendapatkan untuk menjadi manusia secara utuh tersebut.

Penulis : Nashifuddin Luthfi

Lihat Juga

Perbedaan dalam Beragama: Sebuah Cara Memaknai dan Menyikapi

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seringkali sebuah perbedaan menimbulkan percekcokan, permusuhan, bahkan pertumpahan darah. Padahal Allah …