Home / ؞ Opini / masisir / Media, Masisir dan Pecel Lele

Media, Masisir dan Pecel Lele

Entah mengapa siang ini terbetik dalam pikiran saya untuk makan lele goreng bersama kawan setianya, yaitu; lalapan dan sambal. Dikarenakan jarak yang cukup jauh dengan kawasan-kawasan yang menyajikan segudang masakan Indonesia, akhirnya saya memilih memasak sendiri di rumah saja. Sembari berpikir, pergi ke district 10 hanya untuk memakan pecel lele itu rasanya kurang adil, disamping perjalanan yang ditempuh cukup jauh, biaya pun tidak sedikit, belum tentu apa yang saya cari juga ketemu. Kemudian imajinasi liar saya berkelana, perjalanan untuk mendapatkan seekor lele (kecuali jika ingin tambah,bisa matsna,wa tsulasa,wa ruba’.Lho?) seperti halnya perjalanan mahasiswa dalam mencari kebenaran sebuah berita melalui media. Mungkin sedikit terdapat paradoks dalam hal ini, ketika konflik terjadi dalam suatu negara tempat domisili sang mahasiswa sementara (maksudnya luar negeri), yang aneh tidak sedikit mahasiswa yang mengambil berita justru dari surat kabar regional di ibu pertiwi. Pertanyaannya mengapa tidak mengambil berita dari media di negara yang sedang konflik?

Terkadang pemberitaan di kancah regional dapat tidak sesuai dengan realita di lapangan,baik yang melalui alih bahasa dari media di negara konflik ke dalam bahasa kita,maupun pemberitaan melalui korespondensi salah satu pihak. yang dapat jadi hanya menggunakan sudut pandang melalui kacamata analisanya sehingga kesubyekvitasannya lebih dominan. Jadi, seandainya dapat mengambil berita yang lebih akurat di negeri konflik melalui media yang dimilikinya, mengapa harus jauh-jauh mengambil berita diluar negara konflik? Ditambah akurasi kebenarannya belum tentu lebih baik diatas media yang berpayung pada negara konflik. Jika dapat makan lele dekat rumah tanpa harus pergi jauh-jauh, mengapa mengharuskan mencari hingga jauh,bisa jadi masakan sendiri lebih renyah dan nikmat, kan?

Saya melangkah menuju pasar untuk membeli mbah lele yang sedari tadi menghantui pikiran. Ketika berada di tempat penjualan ikan, ikan lele yang berada didalam tong berhasil di tangkap oleh sang penjual. Imajinasi saya kembali bertamasya, tekstur tubuh lele yang licin dan tidak bersisik membuat ia tidak mudah untuk di tangkap, bahkan jika anda memberikan waktu 5 menit pada saya, belum tentu dapat menangkapnya dengan tangan kosong. Ditambah lagi, sepasang patil (duritulang yang tajam) menambah ikan lele semakin ngeri.

Jika kita melihat lebih jeli, penjual ikan tersebut pastilah orang yang sudah terbiasa bergaul dengan kumpulan lele-lele yang ada, maka tidaklah sulit untuk mengambil ikan tersebut. Jika kita analogikan kepada media, media-media yang terkadang licin, penuh intrik, kepentingan serta menusuk, merupakan musuh bagi pendatang baru (atau orangyang tidak terbiasa dengan berbagai media, baik dari pihak kanan,kiri,maupun tengah-tengah) seperti halnya pembeli lele. Sedangkan kita lihat penjual atau orang yang sudah terbiasa dengan media, dia dapat memahami tekstur tubuh media-media yang ada, sehingga dengan mudahnya dia dapat mencium aroma kepentingan, intrik, dan manipulasi berita dengan cepat. Hal ini dikarenakan dia mengetahui corak-corak setiap media seperti halnya penjual lele yang memahami bahasa tubuh lele, dan tahu kapan harus memegang, dan dibagian tubuh manakah yang harus dipegang.

Ketika memulai menggoreng ikan lele (tentunya setelah ia berbaju bumbu ala kadarnya), cipratan minyak yang dihasilkan olehnya lebih dashsyat dari ikan-ikan yang lain. Namun tentunya, seorang koki harus dapat mengantisipasi hal tersebut. Pikiran saya mendadak ingin berdialog dengan lele dan menganalogikannya, seandainya lele adalah media, tidak menutup kemungkinan setiap media dapat menciptakan cipratan konflik yang memainkan hati para pembacanya. Apakah berarti kita sebagai mahasiswa menutup mata dengan konflik-konflik yang didendangkan oleh media-media yang ada, dengan dalih terlalu subyektif, tidak faktual, penuh kepentingan? Rasanya kurang adil, karena disitulah tempat kita belajar untuk memilah dan memilih media-media mana yang dapat dijadikan sandaran, sehingga dapat senantiasa menghidupkan alarm filterisasi terhadap pemberitaan yang masuk untuk tetap dapat dinikmati.

Seperti halnya koki yang menggoreng ikan lele. Apakah karena cipratan yang dihasilkan olehnya dia enggan meneruskan upacara penggorengan lele? Lantas kabur dan berharap dapat memakan lele goreng yang lezat? Tentunya tidak. Padahal cukup menggunakan cara yang efektif untuk tidak terkena cipratan, seperti memperhatikan tekstur api,banyaknya minyak,dll.

Alhamdulillah, lele goreng tersaji, namun ia masih kesepian dan tentunya membutuhkan kawan untuk bersanding. Akhirnya bagian terakhir upacara penggorengan yaitu membuat sambal segera terlaksana. Tiba-tiba alur pikiran menerawang jauh ke warung-warung lesehan dipojokkan kota Jogja, seperti warung lesehan disamping rental PS dekat Inteeshirt, tepatnya di Jalan Kapten Pierre Tendean. Sambal yang khas di warung-warung lesehan-lesehan di sepanjang jalan itu mengingatkan saya pada konsistensi. Dalam artian begini, setiap lesehan memiliki karakter masakannya masing-masing, seperti bakaran ikan atau ayamnya yang pas, sambal pedasnya yang kadang tak waras(hanya ingin mencocokkan s dengan s.he..), dll.

Kita sebagai pembeli tentunya memiliki kecocokan tersendiri terhadap cita rasa masakan, dan saya pikir, salah satu lesehan favorit saya tidak berubah-ubah rasa sambalnya. Lain Halnya dengan sambal buatan saya yang kadang manis, pedas, dan juga nano-nano. Jika dianalogikan pada media, ambil contoh setiap lesehan dan konsistensi masakannya merupakan konsistensi yang dipegang oleh media-media yang ada. Variansi media memiliki karakter berbeda-beda, terdapat media yang akurasipemberitaannya dapat dijadikan pijakan, opininya, maupun yang abal-abal. Pembaca boleh memilih sesuai selera pikiran dan nurani para pembaca dengan meilihat konsistensi dari setiap media yang merupakan nilai jualnya.

Terakhir, saatnya menikmati pecel lele buatan sendiri. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa, kita terkadang bimbang dengan pemberitaan yang ada. Manakah yang harus dijadikan pijakan? Ya seperti halnya ikan lele, kita harus mengenalnya lebih mendalam, seperti layaknya penjual ikan, dan jangan pernah berhenti untuk bertanya, mengapa demikian? kenapa begitu? Bagaimana bisa seperti itu?

Sebagai mahasiswa yang masuk dalam kapal besar Masisir tentunya menemukan berbagai macam absurditas dalam diri mahasiswa disini yang tentunya tidak sedikit yang menggerus nilai-nilai kemahasiswaan itu sendiri. Pisau analisa yang digunakan seyogyanya senantiasa diasah dan digunakan agar tidak berkarat. Khawatirnya ketika sudah berkarat, kita menjadi makhluk yang dijajah media dan setiap pemberitaan adalah kebenaran.

Penulis : Muhammad Fardan S.

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …